Karyawan ZeniMax berdemo menuntut keadilan di Rockville Maryland

Microsoft Dituduh Langgar Hukum Ketenagakerjaan oleh Serikat Pekerja Game

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • CWA ajukan tuntutan ke NLRB atas praktik perburuhan tidak adil Microsoft
  • Microsoft PHK 1.600 karyawan Xbox dan rencanakan PHK 1.600 lagi
  • PHK juga berdampak pada Activision, Blizzard, King, Mojang, ZeniMax
  • Microsoft jual 4 studio Xbox: Compulsion Games, Double Fine, Ninja Theory, Undead Labs
  • CWA Canada juga ambil langkah hukum terhadap Microsoft
  • Karyawan Xbox di 6 lokasi AS dan Kanada gelar aksi protes Save Our Devs Rally
  • Serikat pekerja tuduh Microsoft negosiasi itikad buruk dan ingkari kontrak

Telset.id – Communications Workers of America (CWA) resmi mengajukan tuntutan praktik perburuhan yang tidak adil terhadap Microsoft ke National Labor Relations Board (NLRB). Tuntutan ini diajukan menyusul gelombang PHK massal yang dilakukan raksasa teknologi tersebut di divisi Xbox pada awal Juli 2026.

CWA menuduh Microsoft melakukan negosiasi dengan itikad buruk, tindakan koersif, mengingkari kontrak, dan gagal memberikan pemberitahuan kepada karyawan. Tuduhan ini tertuang dalam dokumen yang diunggah di situs NLRB pada 15 Juli 2026. Tidak hanya di Amerika Serikat, CWA Canada juga mengambil langkah hukum serupa terhadap Microsoft.

Pada 6 Juli 2026, Microsoft mengumumkan akan segera memangkas 1.600 pekerja di divisi Xbox, dengan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap 1.600 karyawan lagi selama tahun fiskal mendatang. PHK ini menghantam Activision, Blizzard, King, Mojang, Xbox Game Studios, dan ZeniMax yang mencakup Arkane, Bethesda, id Software, MachineGames, dan ZeniMax Online.

Tidak hanya itu, Microsoft juga menjual empat studio Xbox, yaitu Compulsion Games, Double Fine, Ninja Theory, dan Undead Labs. Perusahaan juga dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menutup Arkane. Pada hari yang sama, Microsoft memberhentikan 3.200 orang di luar divisi Xbox.

CWA mewakili ratusan karyawan di studio Xbox di Amerika Serikat dan Kanada. Serikat pekerja ini menaungi 3.500 orang di seluruh industri video game. Upaya unionisasi karyawan game dimulai secara serius pada akhir tahun 2021, dan studio Microsoft menjadi yang terdepan di sektor AAA. CWA Canada secara khusus mewakili pekerja Bethesda di Montreal.

Pada 6 Juli, serikat pekerja menuntut perlakuan yang adil bagi karyawan yang di-PHK. Dalam siaran persnya, mereka menyatakan, “Para pekerja di Montreal, yang mengerjakan waralaba game sukses seperti Fallout dan The Elder Scrolls, sangat terkejut. Mereka tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya, tidak tahu mengapa atau bagaimana mereka menjadi sasaran, dan mereka khawatir akan dampak negatif pada game yang mereka kerjakan.”

Sebelum pengumuman PHK, anggota serikat pekerja Xbox secara terbuka meminta Microsoft untuk melakukan negosiasi yang transparan dan dengan itikad baik. Mereka menuduh perusahaan secara teratur mengabaikan proposal serikat pekerja, salah mengelola sumber daya, dan mengulur-ulur waktu terkait perlindungan pekerja.

“Kami di sini untuk mengatakan dengan jelas: Para pekerja itu tidak akan diperlakukan sebagai barang sekali pakai,” kata Wakil Presiden CWA Distrik 9, Frank Arace. Ia berpendapat bahwa Microsoft memiliki uang untuk mendukung tim Xbox dan mencegah PHK, tetapi memilih untuk membelanjakannya di tempat lain sambil menguras bakat kreatif dan pengetahuan institusional.

Karyawan Xbox di enam lokasi studio di AS dan Kanada memprotes PHK tersebut pada hari Rabu dengan menggelar aksi Save Our Devs Rally. “Pengacara kami di Amerika Serikat dan Kanada menemukan PHK ini ilegal dan oleh karena itu mengajukan tuntutan praktik perburuhan yang tidak adil terhadap Microsoft di kedua sisi perbatasan,” kata penyelenggara serikat pekerja dan mantan karyawan Bethesda, Simon Prefontaine, kepada Game Developer. “Kami siap melakukan segalanya untuk mengembalikan anggota kami bekerja pada game yang kami cintai.”

Kasus ini menjadi sorotan tajam di industri game global. Tuduhan Microsoft Makin Agresif dalam kebijakan perusahaannya kini berhadapan langsung dengan resistensi dari pekerja kreatif yang menjadi tulang punggung kesuksesan Xbox. Langkah CWA ini menunjukkan bahwa serikat pekerja tidak akan tinggal diam melihat anggotanya diperlakukan secara tidak adil.

Keputusan Microsoft untuk melakukan PHK besar-besaran di tengah kinerja keuangan yang solid menimbulkan pertanyaan serius tentang prioritas perusahaan. Dengan pendapatan miliaran dolar setiap kuartal, banyak pihak mempertanyakan mengapa Microsoft memilih untuk memangkas tenaga kerja daripada mengalokasikan sumber daya untuk mempertahankan talenta kreatifnya.

Dampak dari PHK ini tidak hanya dirasakan oleh para pekerja yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kualitas dan jadwal perilisan game-game andalan Xbox di masa depan. Hilangnya pengetahuan institusional dan pengalaman yang dimiliki para pengembang senior bisa menjadi pukulan telak bagi ekosistem game Microsoft.

Kasus ini juga menjadi ujian bagi komitmen Microsoft terhadap praktik ketenagakerjaan yang adil. Sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, langkah Microsoft dalam menangani tuntutan ini akan menjadi preseden penting bagi industri game dan teknologi secara keseluruhan.

Sementara itu, CWA dan CWA Canada bertekad untuk melanjutkan perjuangan hukum ini hingga tuntas. Mereka menuntut Microsoft untuk bertanggung jawab atas keputusan PHK yang dinilai tidak hanya merugikan pekerja, tetapi juga mengancam masa depan pengembangan game di studio-studio yang terkena dampak.

Keputusan NLRB dalam kasus ini akan dinantikan oleh banyak pihak. Jika terbukti bersalah, Microsoft bisa diwajibkan untuk memberikan kompensasi kepada para pekerja yang terkena PHK dan mengubah kebijakan ketenagakerjaannya di masa depan.

Kasus ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan teknologi lainnya bahwa praktik perburuhan yang tidak adil tidak akan luput dari pengawasan serikat pekerja dan regulator. Di era di mana kesadaran akan hak-hak pekerja semakin meningkat, perusahaan harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang berdampak pada kesejahteraan karyawan.

Perkembangan kasus ini akan terus dipantau oleh industri game dan publik secara luas. Bagaimana Microsoft merespons tuntutan ini dan langkah apa yang akan diambil selanjutnya akan menjadi kunci dalam menentukan arah hubungan industrial di sektor video game ke depannya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.