Mari kita bicara jujur: di tahun 2026, merilis ponsel dengan chipset MediaTek Helio G200 adalah sebuah tindakan nostalgia yang tidak perlu. Kedua ponsel ini terjebak di era 4G, yang mana bagi pengguna modern terasa seperti disuruh menggunakan kereta uap di tengah era kereta cepat. Namun, jika kita membedah spesifikasinya, Tecno Spark 40 Pro+ dan Infinix Hot 60 Pro+ adalah kembaran yang dipisahkan oleh strategi marketing. Keduanya mengusung layar AMOLED 6.78 inci dengan resolusi 1224 x 2720 piksel yang tajam, namun Tecno memberikan nilai lebih pada fitur pengisian daya nirkabel 30W yang absen di Infinix.
Dari sisi performa, Infinix Hot 60 Pro+ mencatatkan skor Antutu total 581.541, yang secara ajaib jauh melampaui skor SoC murni (259.315). Ini menunjukkan optimasi perangkat lunak (XOS 15.1) yang agresif di Infinix, sementara Tecno terasa sedikit lebih 'apa adanya'. Namun, jangan terkecoh, CPU Octa-core dengan konfigurasi Cortex-A76 dan A55 tetaplah arsitektur lama yang akan tersengal-sengal jika dipaksa menjalankan beban kerja berat secara multitasking terus-menerus.
Sektor kamera keduanya menggunakan sensor 50 MP yang fungsional namun tidak istimewa. Tecno unggul di bukaan lensa f/1.6 yang sedikit lebih baik untuk menangkap cahaya dibandingkan f/1.8 milik Infinix. Namun, Infinix membalas dengan kemampuan video yang lebih fleksibel di 1080p@60fps pada kamera selfie, yang mungkin berguna bagi para kreator konten dengan budget minim. Keduanya sama-sama tidak memiliki lensa ultrawide, yang bagi saya di tahun 2026 adalah sebuah dosa estetika yang cukup besar.
Bicara soal desain, keduanya sangat tipis dan ringan, bahkan Infinix dengan 6mm-nya terasa seperti lembaran kaca di tangan. Namun, material plastik di bagian belakang (kecuali varian eco leather Infinix) membuat ponsel ini terasa rentan. Penggunaan Corning Gorilla Glass 7i pada keduanya adalah poin plus yang jarang ditemukan di ponsel kelas menengah bawah, memberikan sedikit ketenangan pikiran bagi mereka yang sering menjatuhkan ponsel.
Kesimpulannya, jika Anda mencari ponsel untuk gaya dan konsumsi media (layar 144Hz-nya memang memanjakan mata), kedua ponsel ini layak dilirik. Namun, jika Anda menghargai fitur praktis seperti wireless charging, Tecno menang telak. Jika Anda seorang 'benchmarker' yang memuja angka tinggi di kertas, Infinix adalah pilihan Anda. Tapi ingat, di balik semua angka tersebut, keduanya tetaplah ponsel 4G yang mungkin akan membuat Anda merindukan kecepatan 5G dalam waktu dekat.
๐ Pilihan Terbaik

Tecno Spark 40 Pro+
Rp 2.799.000
Harga pasar
๐พ[object Object] / 128GB
๐ท50 MP
Kelebihan dan Kekurangan
Tecno Spark 40 Pro+
โ
Kelebihan
- Layar AMOLED 144Hz dengan peak brightness 4500 nits yang sangat terang
- Desain ultra-tipis (6.5 mm) dan ringan (160.4 g)
- Dukungan wireless charging dan reverse wireless charging yang jarang ada di kelasnya
- Harga lebih ekonomis untuk spesifikasi layar dan baterai yang mumpuni
โ Kekurangan
- Tidak mendukung konektivitas 5G di tahun 2026
- Chipset Helio G200 sudah terasa usang untuk standar performa masa kini
- Absennya jack audio 3.5mm
Infinix Hot 60 Pro+
โ
Kelebihan
- Skor Antutu jauh lebih tinggi (581.541) dibandingkan ekspektasi chipset-nya
- Desain lebih tipis (6 mm) dan lebih ringan (155 g) dari kompetitor
- Bluetooth 5.4 terbaru untuk latensi lebih rendah
- Pilihan variasi RAM/Storage lebih luas
โ Kekurangan
- Sama-sama terjebak di jaringan 4G saja
- Harga lebih mahal dengan chipset yang identik dengan Tecno
- Absennya wireless charging
Rekomendasi
Tecno Spark 40 Pro+
Meskipun Infinix menang di optimasi benchmark, Tecno Spark 40 Pro+ menawarkan value-for-money yang lebih rasional. Dengan harga lebih murah, Anda mendapatkan fitur wireless charging yang sangat jarang ada di segmen mid-range ini, sementara performa chipset yang identik membuat selisih harga Infinix sulit dibenarkan.
Skor: 82/100







