Telset.id – Blokade bahan bakar yang diberlakukan AS terhadap Kuba memicu krisis berkepanjangan, termasuk gagalnya sistem pengumpulan sampah di Havana. Di tengah situasi tersebut, sebuah startup bernama El Rampeño hadir dengan solusi inovatif: menggunakan becak listrik bertenaga surya untuk mengangkut sampah di salah satu lingkungan kota.
Blokade total terhadap pengiriman bahan bakar ke Kuba, baik yang berasal dari AS maupun negara lain, telah memukul berbagai sektor kehidupan. Krisis ini mengancam pasokan makanan, menyebabkan kelangkaan listrik, dan mempersulit sistem medis Kuba yang selama ini terkenal mumpuni. Namun, dampak paling terlihat adalah menumpuknya sampah di jalan-jalan Havana, ibu kota Kuba.
Lebih dari separuh armada truk sampah kota saat ini tidak beroperasi karena kekurangan bahan bakar. Pemandangan sampah menumpuk atau bahkan dibakar di jalanan kini menjadi hal yang umum. Havana memang sudah lama dikenal sebagai kota dengan infrastruktur tua, namun kini kondisinya semakin memburuk karena bahan bakar tidak mencukupi.
Meski demikian, rakyat Kuba terbiasa dengan solusi kreatif setelah puluhan tahun menghadapi embargo AS. El Rampeño adalah bukti terbaru dari semangat tersebut.
El Rampeño: Bisnis Swasta Pengumpul Sampah Pertama di Kuba
El Rampeño adalah proyek yang berfokus di sebagian kecil lingkungan Vedado, Havana. Nama proyek ini diambil dari jalan utama di kawasan tersebut, La Rampa, yang terletak dekat Plaza de la Revolución. Vedado sendiri merupakan kawasan hunian kelas atas di Havana, berada di sepanjang pantai di sebelah barat Centro Habana dan Habana Vieja yang lebih padat.
Proyek yang diluncurkan bulan lalu ini menghadirkan terobosan di Kuba yang komunis, di mana pengumpulan sampah selalu gratis dan disediakan pemerintah. Alih-alih menjadi program pemerintah, El Rampeño dijalankan seperti bisnis swasta—meski didukung oleh pemerintah lokal—dan memungut biaya bulanan dari pelanggan.
Untuk rumah tinggal, tarifnya 100 peso per bulan, sementara bisnis dikenai biaya 15.000 peso. El Rampeño menyatakan memberikan layanan gratis untuk “orang-orang rentan.” Sebagai perbandingan, rata-rata upah bulanan warga Kuba sekitar 5.000 peso. Namun, karena banyak layanan ditanggung pemerintah dan Kuba memiliki mata uang berbeda untuk warga lokal dan asing, sulit membandingkannya dengan upah di negara lain.
Menariknya, inisiatif ini hadir di tengah tren elektrifikasi kendaraan niaga global. Di Amerika Serikat, truk sampah memang lama dianggap kandidat ideal untuk elektrifikasi karena rute tetap dan jadwal yang bisa diprediksi. Fenomena serupa juga terjadi di China, di mana kendaraan listrik semakin banyak digunakan untuk sektor logistik dan pertambangan.
Baca Juga:
Becak Listrik VEDCA dengan Panel Surya
Operasi El Rampeño berpusat di “Solinera,” sebuah area parkir kecil dengan kanopi surya tempat becak listrik diparkir dan diisi daya. Kanopi surya tersebut terhubung ke sistem baterai untuk menyimpan kelebihan daya.
Becak listrik yang digunakan dibeli dari Vehiculos Electricos del Caribe (Caribbean Electric Vehicles), atau VEDCA. Perusahaan ini merupakan usaha patungan antara pabrikan Tianjin Dongxing Industrial and Commercial Group dan Minerva, perusahaan micromobility listrik milik negara Kuba. Kendaraan ini diproduksi di pabrik di sebelah barat Havana.
Setiap becak listrik memiliki baterai lithium iron phosphate (LFP) 5,4kWh, jarak tempuh 30-44 mil (50-70km) tergantung muatan hingga 600kg (1.322 pon), dan kecepatan maksimal 24mph (39km/jam) dari motor 1200W (1,6hp). Menariknya, kendaraan ini dioperasikan dengan setang ala motor, bukan setir.
Spesifikasi tersebut memang tidak istimewa, tetapi cukup untuk menyelesaikan pekerjaan. Kendaraan ini berada di kelas yang sama dengan Honda Fastport quadcycle yang diuji di LA Auto Show terakhir.

Pembaruan terbaru proyek ini datang dari Belly of the Beast, outlet jurnalistik independen yang menampilkan realitas situasi di Kuba. El Rampeño diluncurkan dengan 5 kendaraan beroperasi, namun presiden perusahaan Yasiel Hernández mengatakan kini memiliki 30 becak listrik, dengan 10 yang sedang berjalan.
Hanya beberapa minggu setelah proyek dimulai, jalanan di area layanan El Rampeño sudah jauh lebih bersih. Area layanannya memang cukup kecil, dan perbedaannya dengan area sekitarnya sangat mencolok dalam hal jumlah sampah di jalanan.
Ini bukan pertama kalinya Kuba keluar dari krisis bahan bakar dengan kendaraan listrik. Pada 2019, sepeda motor listrik melonjak popularitasnya di negara tersebut sebagai respons terhadap kelangkaan bahan bakar lain, dengan warga Kuba saling menawarkan tumpangan untuk membantu perjalanan. Sejak saat itu, jumlah sepeda motor listrik di jalanan Havana terus bertambah.
Kuba juga telah merespons blokade dengan memperluas energi surya secara cepat, dengan bantuan China. Ini menjadi contoh lain bagaimana kebijakan luar negeri AS justru mendorong negara-negara lain semakin dekat dengan China. Fenomena serupa juga terlihat di sektor lain, di mana China terus memimpin dalam adopsi teknologi energi bersih dan kendaraan listrik untuk berbagai keperluan industri.
Di AS dan Eropa, sejumlah truk sampah listrik telah dikerahkan. Truk-truk ini diuntungkan oleh torsi rendah yang lebih besar, efisiensi lebih tinggi termasuk pengereman regeneratif, serta keandalan motor listrik. Polusi suara dan udara yang lebih rendah juga menjadi nilai tambah di lingkungan yang mereka layani. Karena beroperasi di rute tetap dan kembali ke depot setiap hari, kebutuhan jarak tempuh mudah diprediksi dan lokasi pengisian daya sudah pasti.
Kini, setidaknya di satu lingkungan di Havana, Kuba mulai merasakan manfaat elektrifikasi. Keberhasilan El Rampeño membuktikan bahwa solusi energi terbarukan bisa menjadi jawaban praktis di tengah krisis, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari negara maju.





Komentar
Belum ada komentar.