📑 Daftar Isi

Pabrik Independence MP Materials di Fort Worth, Texas, tempat produksi magnet rare earth untuk motor listrik

MP Materials Bangun Rantai Pasok Magnet Rare Earth AS

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • MP Materials bangun pabrik Independence di Texas untuk magnet rare earth kelas otomotif
  • China kuasai 49% pasokan rare earth global, AS hampir sepenuhnya bergantung impor
  • GM gandeng MP Materials pasok magnet EV domestik lewat perjanjian offtake
  • Magnet NdFeB jadi inti motor EV, tiap rotor besar berisi 192 magnet
  • Target 1 juta magnet per hari, plus pesanan Apple dan Department of War
  • Pada 2030 AS diproyeksikan hanya 5% pasokan global, China 86%

Telset.id – MP Materials tengah merintis kembali rantai pasok magnet rare earth di Amerika Serikat melalui pabrik Independence di Fort Worth, Texas. Fasilitas ini mengubah bahan mentah dari tambang Mountain Pass di Gurun Mojave, California, menjadi magnet kelas otomotif untuk motor listrik. Langkah ini menjadi upaya pertama dalam beberapa dekade untuk menghidupkan kembali produksi magnet tanah jarang di Negeri Paman Sam, yang saat ini hampir sepenuhnya bergantung pada China.

Ketergantungan tersebut bukan tanpa risiko. China menguasai 49% pasokan rare earth global menurut International Energy Agency, dan hampir seluruh rare earth yang digunakan di AS saat ini berasal dari luar negeri. Setelah pemerintahan Trump menerapkan tarif besar-besaran terhadap barang China tahun lalu, Beijing membalas dengan kontrol ekspor magnet rare earth. Dampaknya langsung terasa: Ford sempat menghentikan produksi SUV Explorer selama sepekan karena pemasoknya kehabisan magnet. AS akhirnya melunak dengan memangkas persentase tarif, meski kontrol ekspor China yang dikurangi masih berlaku.

Di tengah tekanan itu, General Motors menggandeng MP Materials untuk memasok magnet EV dari dalam negeri. Shilpan Amin, Global Chief Supply Chain and Procurement Officer GM, menyebut bahwa keputusan bertaruh pada magnet buatan AS sudah dimulai jauh sebelum krisis kontrol ekspor. Krisis semikonduktor global 2021 mendorong GM mendata material kritis yang paling rentan terhadap geopolitik, dan magnet rare earth masuk daftar utama. Pada tahun yang sama, GM menandatangani perjanjian offtake dengan MP Materials. “Kami mengubah strategi menjadi beli di tempat Anda membangun,” ujar Amin dalam media roundtable di pabrik Independence.

Mengapa EV Butuh Magnet Rare Earth

Akselerasi halus, torsi instan, dan efisiensi konversi energi EV yang unggul dibanding mesin pembakaran sangat terkait dengan kualitas magnet rare earth di motor traksi. Motor induksi memang juga umum, tetapi motor magnet permanen lebih padat daya, menghasilkan torsi lebih tinggi, dan lebih efisien mengubah listrik menjadi gerak. Mayoritas EV yang dijual saat ini memakai motor magnet permanen atau kombinasi keduanya. Pada crossover seperti Chevy Equinox EV, motor induksi berperan untuk asistensi all-wheel drive, sementara motor magnet permanen menjadi pekerja utama.

Setiap motor listrik memiliki rotor dan stator. Stator menampung kumparan tembaga, menarik energi dari baterai, dan menghasilkan medan magnet. Rotor yang menampung magnet rare earth berinteraksi dengan medan itu, dan gerakan yang dihasilkan memutar poros serta roda. Magnet intinya adalah neodymium-iron-boron (NdFeB), salah satu dari 17 elemen rare earth dan paling bernilai karena sifat magnetnya terkuat. GM menyebut setiap rotor besar berisi 192 magnet neodymium, sedangkan versi rotor lebih kecil memakai 128 magnet.

Baca Juga:

Sejarah Mountain Pass dan Ambisi Onshoring

MP Materials didirikan pada 2017, tetapi sejarah tambang Mountain Pass jauh lebih tua. Tambang ini ditemukan pada 1949 di medan geologis berusia 1,7 miliar tahun, ketika pencari uranium independen justru menemukan deposit rare earth yang kaya. Antara 1965 dan 1995, Mountain Pass memasok mayoritas rare earth dunia, termasuk material untuk televisi awal yang memungkinkan warna merah. Proses solvent extraction yang memisahkan bahan mentah dari rare earth di dalamnya juga ditemukan di Mountain Pass lalu diekspor ke China. Magnet neodymium-iron-boron sendiri baru ditemukan pada 1982, berakar dari General Motors.

Kepemilikan Mountain Pass berganti tangan berkali-kali, termasuk sempat di bawah Chevron. MP Materials menyebut pemilik sebelumnya kurang berinvestasi selama bertahun-tahun, periode ketika China memantapkan kepemimpinannya. Ketika tambang hampir bangkrut di bawah Molycorp, MP Materials membelinya seharga 20,5 juta dolar AS. Perusahaan mengklaim Mountain Pass menyimpan salah satu deposit neodymium dan praseodymium oxide (NdPr oxide) terkaya di dunia, bahan baku utama magnet untuk motor EV, elektronik, dan peralatan pertahanan.

Di pabrik Independence, NdPr oxide yang menyerupai tanah dipadatkan menjadi bata logam. Bata itu dipecah menjadi potongan seperti corn flakes logam, diubah lagi menjadi bubuk neodymium-iron-boron halus, lalu dipadatkan menjadi blok magnetik padat. Blok tersebut dipotong, dibentuk, dan dilapisi menjadi magnet jadi. Dalam magnet final, rare earth hanya sekitar 25-30% material, sisanya besi. Beberapa tahapannya bernama grain boundary diffusion dan hydrogen decrepitation. MP Materials berencana memproduksi satu juta magnet per hari di fasilitas seluas 250.000 kaki persegi yang dikhususkan untuk pasokan GM.

Kesepakatan dengan GM membuka jalan bagi dua pesanan besar lain yang totalnya hampir satu miliar dolar AS: satu dari Apple dan satu dari U.S. Department of War untuk manufaktur senjata. Apple menjanjikan 500 juta dolar AS untuk magnet dari bahan rare earth daur ulang yang diproduksi di fasilitas diperluas di pabrik Independence yang sama. Untuk DoW, MP Materials membangun pabrik baru lima kali ukuran Independence di Northlake, Texas, seluas 1,2 juta kaki persegi yang diperkirakan beroperasi pada 2028. “Musim semi lalu, krisis kontrol ekspor sangat akut,” kata Founder dan CEO MP Materials James Litinsky. “Kami agak waspada dan mandat dari presiden adalah selesaikan masalah magnet rare earth segera.”

Meski momentumnya kuat, angka menunjukkan AS belum mendekati China. Menurut firma riset Benchmark Mineral Intelligence, AS dan sebagian besar dunia diperkirakan tetap bergantung pada rare earth China hingga dekade berikutnya. Pada 2030, AS diproyeksikan hanya menyumbang 5% pasokan rare earth global, sementara China diperkirakan mencapai 86%. IEA menyebut AS juga paling berisiko terhadap guncangan pasokan karena hampir separuh cadangan rare earth diketahui terkonsentrasi di China.

Peran MP Materials nyata, tetapi melepaskan diri dari China dalam skala besar butuh lebih dari satu perusahaan dan satu tambang. Karena itu DoW juga menandatangani kesepakatan multi-miliar dolar dengan perusahaan lain seperti USA Rare Earth dan Vulcan Elements. Dibutuhkan upaya terpadu selama bertahun-tahun untuk mengurangi ketergantungan AS pada rantai pasok asing. “Kami menganggap ini sebagai komitmen jangka panjang,” ujar Amin. “Yang kami coba lakukan sekarang adalah mendorong pihak lain untuk menskalakan bisnis ini.”

Soal biaya, Amin tidak berbelit ketika ditanya bagaimana magnet buatan AS bersaing dengan China. “Saat ini premium,” katanya. “Menjadi produsen rintisan bervolume rendah, ada inefisiensi bawaan.” Namun menurunkan biaya hanya soal skala. “Ketika operasi berjalan pada utilisasi tinggi, itu membawa Anda menuruni kurva keterjangkauan untuk menjadi kompetitif. Di lapangan yang adil dan setara, ini akan mengalahkan apa pun di dunia.” GM juga tengah menguji magnet prototipe di Pontiac Engineering Center di Michigan, dan diperkirakan menerima batch produksi pertama pada akhir tahun ini, meski belum mengungkap kapan EV bermagnet MP sampai ke konsumen.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.