Telset.id – Saat gelombang panas ekstrem melanda Amerika Serikat pekan lalu, banyak yang khawatir lonjakan jumlah kendaraan listrik akan membebani jaringan listrik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: kendaraan listrik membantu perusahaan utilitas menjaga pasokan listrik tetap stabil dengan mengalirkan daya dari baterai mereka kembali ke jaringan.
Fenomena ini menunjukkan potensi besar dari teknologi vehicle-to-grid (V2G) yang kini mulai diterapkan secara nyata. Alih-alih menjadi beban, kendaraan listrik terbukti mampu menjadi aset berharga dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan, terutama saat kondisi kritis seperti gelombang panas.
Inisiatif Electric School Bus Initiative dari World Resources Institute (WRI) melaporkan bahwa sejumlah proyek V2G yang melibatkan sekitar 230 bus sekolah listrik kini mampu memasok 8 MWh daya kembali ke jaringan setiap saat. Jumlah tersebut cukup untuk menyalakan sekitar 1.600 rumah khas AS hingga empat jam dan secara signifikan mengurangi beban puncak permintaan bagi perusahaan utilitas.
“Ini masih sangat awal,” ujar Steve Letendre, penasihat senior untuk Vehicle Grid Integration Council, “(tetapi) bus sekolah akan menjadi tulang punggung kapasitas V2G yang sangat penting.”
California saat ini memimpin AS dalam pengembangan dan adopsi teknologi V2G untuk bus sekolah. Proyek terbesar di negara bagian tersebut berada di Oakland Unified School District, yang mengoperasikan armada 74 bus dan menyumbang sekitar 2,1 GWh energi bersih kembali ke jaringan negara bagian setiap tahunnya.
Baca Juga:
## Potensi Skala yang Lebih Besar
Meskipun angka-angka yang ada sudah impresif, implementasi V2G pada bus sekolah saat ini baru menyentuh permukaan. Pertimbangkan: jika 230 bus sekolah listrik dapat mengirimkan 8 MWh energi kembali ke jaringan, maka meningkatkan skala hingga setengah dari sekitar 6.700 bus sekolah listrik yang sudah beroperasi di jalan-jalan AS akan menghasilkan lebih dari 100 MWh energi fleksibel di luar jam sibuk yang tersedia selama periode permintaan puncak.
Fleksibilitas sumber daya semacam itu tidak hanya memperkuat jaringan yang ada, tetapi juga dapat membantu menurunkan biaya listrik konsumen. Hal ini dicapai dengan mengurangi kebutuhan perusahaan utilitas untuk membeli daya puncak yang mahal di pasar energi grosir. Lebih sedikit pembelian daya darurat berarti biaya transmisi dan pengiriman yang lebih rendah bagi perusahaan utilitas, dan penghematan tersebut pada akhirnya dapat diteruskan kepada pelanggan.
## Manfaat Darurat bagi Komunitas
Kemampuan jaringan untuk memanfaatkan daya yang tersimpan di baterai dalam keadaan darurat juga bisa menjadi penyelamat. Angie White-Banda, pengawas transportasi untuk Glades County School District di Florida, menjelaskan skenario nyata.
“Jika kita mengalami badai, dan semoga tidak terjadi, tetapi jika terjadi dan tidak ada listrik di komunitas, kami dapat membawa bus-bus kami ke lokasi yang ditentukan dan komunitas dapat mengisi daya ponsel mereka,” kata White-Banda. “Mereka dapat mengisi daya perangkat mereka. Mereka dapat masuk, duduk sejenak, dan mendinginkan diri dengan AC.”
## Ekspansi Proyek di San Francisco
Seolah untuk memperkuat potensi ini, Unified School District San Francisco akan meluncurkan proyek bus sekolah listrik baru bulan depan. Proyek ini diperkirakan akan melampaui proyek Oakland, dengan armada 104 bus yang akan mengembalikan sekitar 3 GWh energi setiap tahun selama jam sibuk. Armada ini dijadwalkan berlipat ganda menjadi lebih dari 238 bus pada tahun 2028.
Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik, terutama bus sekolah, memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas jaringan listrik. Teknologi V2G memungkinkan Fitur Terbaru dalam manajemen energi yang mengubah kendaraan dari sekadar konsumen menjadi pemasok energi. Meskipun masih dalam tahap awal, potensi penghematan biaya dan peningkatan keandalan jaringan menjadikan V2G sebagai solusi yang patut diperhitungkan di masa depan.





Komentar
Belum ada komentar.