Review Xiaomi Mi 6X : Bodi Aluminium dan Performa Jempolan Jadi Andalan

Telset.id, Jakarta – Tepat setahun setelah Mi 5X meluncur, kini giliran sang penerus – Mi 6X, diperkenalkan Xiaomi. Sebagai penerus, peningkatan tentu saja banyak dibawa perangkat ini. Dan itu cukup terasa, baik dari luar mapun dalam. Dimana Xioami mengupgrade chipset dari yang sebelumnya Snapdragon 625 menjadi 660.

Peningkatan lain terasa pula pada besaran layar, kamera dan desain. Disini, Mi 6X , yang masuk ke Indonesia dengan nama Mi A2 tampil lebih kokoh berkat bodi aluminium yang membalut badannya. Bagus, pastinya. Namanya juga penerus.

Tapi, tentu tidak akan lengkap jika kita bicara sekedar tampilan luar saja, dan lantas men-cap ini sebagai lebih unggul dari pendahulunya. Untuk tahu lebih jauh mengenai seberapa besar upgrade yang dilakukan Xiaomi pada smartphone kelas menengahnya ini, berikut ulasan tim Telset.id.

Desain

Seperti beberapa smartphone Xiaomi lainnya, sebut saja Redmi Note 5 dan Redmi S2, bodi Mi 6X dibalut kaca dan aluminium di bagian depan dan belakang, lengkap dengan kaca anti gores 2.5D. Bezelnya tipis, tapi hanya di bagian samping kiri dan kanan, sementara bezel atas dan bawah masih terhitung lapang, apalagi jika dibandingkan dengan rekan-rekan di kelasnya. Namun, satu hal yang patut diapresiasi dari Xiaomi, keputusannya untuk tak mengekor produsen lainnya yang mulai beralih ke bodi kaca atau paling tidak yang menyerupai kaca di bagian belakang.

Xiaomi setia dengan bodi aluminium, yang membuat Mi 6X atau Mi A2 tak hanya terlihat kokoh, tetapi juga mahal. Ditambah lagi, bodinya yang ramping juga sangat memudahkannya saat digenggam. Ya meskipun suka mencelat sesekali. Aww!

Sebuah port USB Type-C diletakkan Xioami di bagian bawah perangkat, berdampingan dengan lubang speaker di sisi kiri dan kanannya. Sementara volume rocker dan tombol power ada di sisi kanan, berseberangan dengan slot kartu SIM (Nano SIM) di bagian kiri.

Di atas, mengingat kemampuan smartphone dalam mengendalikan perangkat elektronik semisal TV dan AC, Xiaomi meletakkan IR Blaster. Menemani keberadaan kamera depan, sensor cahaya, receiver dan LED flash.

Nah, kabar kurang baik datang bagi penikmat musik. Pasalnya Xiaomi tak mengizinkan jack audio 3.5mm ikut serta di badan Mi 6X. Alhasil, pengguna yang ingin menikmati konten audio pun harus rela bersusah-susah menggunakan sebuah adapter USB-C to jack 3.5mm. Keluar uang? Tidak…tidak… Xiaomi menyertakan ini dalam paket penjualan.

Sama halnya dengan jelly case yang dapat kita gunakan untuk melindungi ponsel dari benturan. Di bagian yang terlindungi ini, bagian belakang maksud kami, ada dua buah kamera yang disusun secara vertical, dengan LED Flash duduk diantaranya. Sensor sidik jari juga ditempatkan Xiaomi tak jauh dari kamera, agak ke tengah, dan sejajar dengan logo Mi di bagian bawah. Pendek kata, nice lah dari segi penampilan.

Layar

Xiaomi membekali Mi 6X dengan layar LCD berukuran 5,99 inci, lengkap dengan resolusi 2160×1080 dan kepadatan piksel 400ppi. Di atas kertas, berada di level yang sama dengan beberapa seterunya yang juga menampilkan layar Full HD. Kami pribadi sih menilai ini lebih dari cukup. Nyaman lah untuk  penggunaan sehari-hari. Tulisan dan gambar tampak tajam, dengan sudut pandang yang juga bagus. Ini penting, karena artinya kita bisa mendapatkan pengalaman melihat yang lebih baik, entah itu saat menonton video, main game, atau sekedar browsing.

Kami berharap layarnya menjadi lebih terang saat berada di bawah sinar matahari. Tapi mengubah pengaturan ke posisi maksimal sepertinya menjadi keharusan bagi beberapa orang. Memang, auto brightness bekerja dengan baik saat harus menyesuaikan diri dengan kondisi cahaya sekitar, namun entah kenapa kami tetap merasa ini terlihat redup.

Oh, satu jempol buat Xioami, yang memilih tidak mengikuti tren poni – setidaknya untuk seri ini, kami jadi tidak perlu repot-repot menyingkirkannya saat sedang ingin menikmati tontonan.

Kamera

Seperti beberapa kompetitornya di kelas menengah, Xiaomi Mi 6X juga membawa dua kamera di bagian belakang. Masing-masing dengan resolusi 12 MP dan 20 MP. Kamera pertama (12 MP) datang dengan  sensor Sony (IMX486) dan memiliki aperture f/1.75, sementara kamera kedua (Sony IMX376) memiliki aperture f/1.75. Secara garis besar, keduanya bekerja dengan baik, baik dalam kondisi banyak cahaya maupun sebaliknya.

Kami mengujinya untuk mengambil sejumlah gambar di dalam ruangan, dalam kondisi banyak cahaya. Hasilnya, bagus. Tak hanya tajam, reproduksi warna yang dihasilkan juga oke. Meski tak banyak, namun HDR jelas membuat perbedaan pada hasil, antara ketika ia berada dalam posisi on dan off. Versi on tampak lebih detil.

Indoor foto

 

Di kondisi cahaya rendah, Mi 6X juga tak terlalu mengecewakan. Ada noise, tapi sangat sedikit. Intinya tidak sampai mengganggu.

Di bagian depan, Mi 6X dibekali kamera 20 MP dengan sensor 1/2.8″ dan aperture f/2.2. Secara garis besar, lebih dari cukup. Apalagi ada tambahan flash juga di bagian depan. Nah, bagi pengguna yang lebih suka mengabadikan gambar bergerak daripada diam, kabar baik, karena selain mendukung perekaman video time lapse, Mi 6X juga mendukung rekaman video slow motion.

Nah, kalaupun ada satu keluhan di sektor ini, modul kamera yang terlalu menonjol

UI

Sebelum kita masuk lebih jauh, perlu kami tegaskan bahwa unit yang kami review adalah Mi 6X – bukan  Mi A2 yang resmi beredar di Indonesia.  Jadi, alih-alih datang dengan tampilan polos seperti pendahulunya (Mi A1) – dalam hal ini Android One dan tanpa olesan MiUI, Mi A2 yang masuk ke markas kami adalah dia yang datang dengan opsi kedua, yakni MiUI (ROM version 9.5 Stable). Bersamanya, ada Android 8.1, yang patch keamanannya terakhir diperbarui  pada April 2018 lalu.

Namun demikian, tak ubahnya versi Android One yang masuk ke Indonesia, kami juga menemukan layanan Google disini. Sebut saja  Google Play dan Gmail, lengkap dengan aplikasi bawaan seperti Mi Remote, Mi Drop dan Mi Video.

Untuk MiUI sendiri, versi 9 ini boleh dibilang cukup colorfull, disamping juga sangat mudah dikostumisasi. Aplikasi yang diinstal juga tidak ada dalam laci aplikasi, melainkan tersebar di berbagai layar utama. Untuk melihatnya, cukup sapu layar ke kanan atau kiri.

Secara default, kita bisa menemukan folder khusus aplikasi bawaan Google di layar homescreen, menu setting, theme hingga Play Store. Di bagian paling bawah, ada empat menu lainnya untuk akses cepat ke menu panggilan telepon dan kontak, SMS, browser dan  kamera. Tiga tombol navigasi virtual ada tepat di bawahnya.

Spesifikasi

Xiaomi Mi 6X bersandar pada kekuatan Snapdragon 660 dari Qualcomm, dengan RAM 6GB dan penyimpanan internal 128GB. Octa core Kryo 260, dimana 4 diantaranya berjalan di kecepatan 2.2 GHz, dan 4 lagi 1.8 GHz. GPU-nya Adreno 512.

Secara garis besar, kinerja yang ditorehkan lebih dari cukup untuk menunjang kebutuhan sehari-hari, ya browsing, main game, nonton dan lainnya. Berdasarkan hasil pengujian kami, nyaris tak ada masalah. Mi 6X sangat responsive, dan hampir jarang tersendat. Pernah, tapi tidak selalu.

Pembaca sidik jari di bagian belakang juga cukup bisa diandalkan. Dia membuka ponsel dengan cepat, dengan posisi yang juga kami nilai cukup pas.

Bodi logam, harusnya jadi tempat yang baik untuk panas bernaung. Tapi kami merasa Mi 6X masih dalam skala normal. Penggunaan lama sekalipun tidak lantas membuat suhunya naik. Paling baterainya saja yang angkat tangan. Di tengah gempuran ponsel kelas menengah yang mengandalkan baterai besar dan umur panjang, kami menilai penerus Mi 5X ini bukanlah teman yang bisa diandalkan.

Berdasarkan hasil pengujian kami, baterai 3.000 mAh yang dibenamkan Xiaomi di badan Mi 6X hanya mampu bertahan sekitar 10 jam untuk pemakaian berat. Dalam hal ini kami menggunakannya untuk secara simultan menonton video. Dan hasilnya, dari posisi baterai 98% di pukul 6.30 pagi, Mi 6X pelan-pelan menutup mata saat waktu mendekati pukul 5 sore. Ini masih lebih bagus ketimbang hasil yang ditorehkan PCMark.

Kesimpulan

Jika mengacu pada lembar spesifikasi, Mi 6X jelas merupakan smartphone yang powerfull. Paling tidak disbanding rekan sekelasnya. Bukan saja performa yang oke, kamera ganda dan pembaca sidik jari juga bekerja dengan baik. Sama baiknya dengan desain yang dibawa. Sayang, layar besar yang dibawanya cenderung redup. Baterai juga bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.

2 COMMENTS

  1. Saya beli xiaomi mi 6x kok nggak ad bahasa indonesia nya ya????
    Gman agar bisa make nya pakai bahasa indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here