FBI Keluhkan Tingginya Keamanan Smartphone Modern

Telset.id, Jakarta – Tingkat keamanan smartphone dari tahun ke tahun semakin meningkat. Kabar ini memang merupakan kabar baik bagi para pengguna. Namun pihak berwajib, terutama FBI malah mengeluhkan hal tersebut. Kenapa?

FBI Direktur Christopher Wray menjelaskan, sepanjang 2017 silam, FBI tidak bisa mendapatkan akses ke sebagian besar perangkat elektronik pelaku kejahatan untuk mencari barang bukti. Hal ini menjadi masalah untuk mereka.

Memang, FBI memiliki perintah pengadilan yang mengizinkan agen untuk memeriksa isi perangkat dari pelaku kejahatan. Namun sayang, karena sulit untuk di bobol secara legal, FBI mencatat ada 7.775 perangkat yang tak bisa mereka buka kode keamanannya.a

“Masing-masing terkait dengan subjek tertentu, terdakwa khusus, korban khusus, ancaman khusus,” kata Wray seperti dikutip dari laman CNBC.

[Baca Juga : Samsung Galaxy J2 Pro, Ponsel Entry-level Berlayar AMOLED]

Hal ini tentunya akan berakhir kurang baik bagi para penegak hukum. Pasalnya, mereka tidak bisa mendapatkan bukti yang kuat, untuk memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku kejahatan.

“Kami semakin tidak dapat mengakses bukti itu, meski memiliki kewenangan yang sah untuk melakukannya,” lanjutnya.

Wray menjelaskan bahwa apa yang diungkapkannya ini merupakan apa yang dirasakan pendahulunya, James Comey, yang bertarung dengan Apple di pengadilan.

Hal ini dikarenakan Apple tak mau membantu FBI untuk membuka akses ke dalam ponsel salah satu teroris Sand Bernardino. Pada akhirnya, FBI memakai teknik miliki pihak ketiga.

Dia menambahkan bahwa kini para penjahat semakin banyak menggunakan aplikasi terenkripsi. Hal ini membuat FBI tak dapat memantau komunikasi, bahkan dengan perintah pengadilan.

FBI juga ditegaskan untuk tidak mencari ‘Back Door’ yang memungkinkan agen untuk mendapatkan isi pesan tersebut secara diam-diam. Sebagai gantinya, penegak hukum menginginkan pengembang aplikasi memberikan informasi saat pengadilan memberikan surat permintaan.

Sementara beberapa ahli teknologi berpendapat bahwa untuk mendapatkan akses tersebut sangat tidak mungkin. Wray mengatakan bahwa dia yakin inovasi Amerika dapat menemukan solusinya.

[Baca juga: Sony Pangkas Harga Xperia XZ Premium Jadi “Super Miring”]

Dan dia mencatat bahwa di negara lain, industri teknologi merespon permintaan akses terhadap data meskipun negara-negara tersebut kekurangan jaminan proses pengadilan Amerika.

“Saya tidak percaya bahwa paradoks semacam itu adalah sesuatu yang orang benar-benar pikirkan adalah cara yang tepat untuk pergi,” katanya.

Wray mengatakan bahwa belajar tentang kompleksitas masalah cyber telah dilakukannya sejak terakhir dia fokus bidang tersebut 12 tahun yang, saat menjabat sebagai pejabat Departemen Kehakiman.

Dia juga memberi kiasan untuk Twitter dalam kasus Donald Trump. Wray berkata: “Saat itu, media sosial bahkan tidak benar-benar ada. Sebuah cuitan adalah sesuatu yang dilakukan burung. Ini ada pada radar saya saat ini.” [NC/HBS]

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here