📑 Daftar Isi

Fadhilah Mathar Dirut BAKTI saat memberikan paparan di Berau Kalimantan Timur

BAKTI Percepat Konektivitas Digital di Wilayah Perbatasan RI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • BAKTI Komdigi percepat pembangunan konektivitas digital di perbatasan RI
  • Paradigma baru: perbatasan bukan hanya penjaga kedaulatan, tapi beranda depan ekonomi
  • Fadhilah Mathar: perbatasan hubungkan ekonomi lokal ke nasional/internasional
  • Hingga saat ini, BAKTI operasikan lebih dari 31 ribu titik akses internet
  • Ribuan BTS 4G dan Satelit SATRIA-1 jadi tulang punggung konektivitas
  • Tahun 2016, masyarakat perbatasan masih dapat sinyal roaming lebih baik dari Malaysia/Timor Leste
  • Target 2026: 2.500 desa merdeka sinyal internet sesuai arahan Presiden Prabowo

Telset.id – Pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mempercepat pembangunan konektivitas digital di wilayah perbatasan Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari transformasi paradigma pembangunan yang mengubah kawasan perbatasan dari sekadar penjaga kedaulatan menjadi beranda depan ekonomi bangsa.

Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadilah Mathar, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi di kawasan perbatasan kini tidak lagi semata-mata bertujuan menjaga batas negara. “Dari titik kedaulatan, beranjak menjadi kedaulatan dan ekonomi serta kesejahteraan. Wilayah terluar atau perbatasan bukan lagi sekadar garis kedaulatan melainkan beranda depan bangsa yang menghubungkan ekonomi lokal ke kawasan nasional atau internasional,” ujar Fadilah saat memberikan paparan kepada sejumlah jurnalis dalam kunjungan media ke Berau, Kalimantan Timur, Selasa (10/6) malam.

Transformasi ini menjadi penting mengingat sejarah kelam konektivitas di daerah perbatasan. Fadilah mengungkapkan bahwa pada sekitar tahun 2016, masyarakat di daerah perbatasan seperti Nunukan atau Atambua masih mengeluhkan sinyal roaming yang lebih baik dari negara tetangga dibandingkan sinyal dari Indonesia. “Karena pada saat itu, orientasi kita hanya menjaga kedaulatan secara fisik di lokasi-lokasi terluar dan perbatasan Indonesia. Kemudian itu berubah, sekarang kita sudah masuk ke paradigma baru yang menjadikan perbatasan sekaligus sebagai beranda ekonomi,” lanjutnya.

BAKTI memiliki mandat khusus untuk membangun akses telekomunikasi dan internet di wilayah yang belum layak secara komersial bagi operator swasta. Fokus pembangunan diarahkan ke kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur. Hingga saat ini, BAKTI telah mengoperasikan lebih dari 31 ribu titik akses internet di berbagai wilayah Indonesia. Titik-titik tersebut tersebar di sekolah, puskesmas, kantor desa, hingga fasilitas layanan publik lainnya.

Ribuan BTS 4G dan Satelit SATRIA-1

Selain titik akses internet, ribuan BTS 4G juga telah dibangun untuk menjangkau daerah-daerah yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi memadai. Salah satu tonggak penting pemerataan konektivitas adalah pemanfaatan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1). Kehadiran satelit multifungsi itu memungkinkan layanan internet menjangkau kawasan-kawasan terpencil yang sulit dilayani jaringan terestrial.

Upaya BAKTI ini sejalan dengan berbagai inisiatif dari operator telekomunikasi tanah air. Sebagai contoh, Telkomsel menancapkan BTS 4G di perbatasan Indonesia-Timor Leste untuk memperkuat sinyal di titik-titik strategis. Selain itu, Telkomsel juga membuka akses telekomunikasi di berbagai wilayah perbatasan lainnya, mendukung program pemerintah dalam menghilangkan kesenjangan digital.

Fadilah menekankan bahwa perubahan paradigma ini membawa dampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Dengan konektivitas yang memadai, masyarakat di perbatasan kini dapat mengakses layanan pendidikan jarak jauh, telemedicine, hingga memasarkan produk lokal ke pasar yang lebih luas. Hal ini menjadi bukti bahwa perbatasan tidak lagi dipandang sebagai halaman belakang, melainkan sebagai beranda depan yang aktif berkontribusi pada perekonomian nasional.

Keberadaan SATRIA-1 menjadi game changer dalam upaya pemerataan konektivitas. Satelit ini mampu menyediakan kapasitas internet yang besar dan menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini sulit diakses oleh infrastruktur darat. Dengan demikian, masyarakat di pedalaman Kalimantan, Papua, dan wilayah 3T lainnya kini dapat menikmati akses internet yang setara dengan wilayah perkotaan.

Pemerintah menargetkan bahwa pada tahun 2026, semakin banyak desa di wilayah perbatasan yang merdeka sinyal internet. Target ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan 2.500 desa merdeka sinyal internet di tahun yang sama. BAKTI terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk operator telekomunikasi dan pemerintah daerah, untuk mempercepat realisasi target tersebut.

Transformasi digital di perbatasan juga membuka peluang baru bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan konektivitas yang baik, destinasi wisata di perbatasan dapat dipromosikan secara global melalui platform digital. UMKM lokal pun dapat memanfaatkan e-commerce untuk menjangkau konsumen di luar daerah, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Ke depannya, BAKTI akan terus memperluas jangkauan konektivitas di wilayah perbatasan. Fadilah Mathar optimistis bahwa dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, operator telekomunikasi, dan masyarakat, perbatasan Indonesia akan benar-benar menjadi beranda depan yang membanggakan. Bukan hanya dari segi kedaulatan, tetapi juga dari segi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Langkah konkret lainnya adalah pembangunan BTS 4G di titik-titik yang selama ini menjadi blind spot. Data dari BAKTI menunjukkan bahwa ribuan BTS telah beroperasi dan terus ditambah setiap tahunnya. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung bagi layanan internet di daerah 3T, memastikan bahwa tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal dalam arus digitalisasi nasional.

Dengan semua upaya ini, perbatasan Indonesia perlahan namun pasti berubah wajah. Dari sekadar garis batas negara yang dijaga secara fisik, kini menjadi pintu gerbang ekonomi yang menghubungkan Indonesia dengan dunia. Transformasi ini adalah bukti nyata bahwa kedaulatan dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan.

Komentar

Belum ada komentar.