Ketika Paul Allen “Disingkirkan” Sahabatnya Sendiri

Telset.id, Jakarta – Bill Gates dan Paul Allen dikenal sebagai pendiri perusahaan Microsoft. Hubungan mereka lebih dari sekedar kawan kerja tetapi juga sahabat yang memiliki minat besar terhadap teknologi. Tetapi ketika Microsoft mulai berkembang Paul Allen justru meninggalkan Microsoft. Apa penyebabnya?

Pada tahun 2011 Paul menulis buku biografinya yang berjudul “Idea Man : A Man Memoir by The Co founder of Microsoft”. Buku tersebut menceritakan kisah hidup Paul Allen termasuk hubungannya dengan Bill Gates.

Dilansir Telset.id dari CNET pada Selasa (16/10) masalah bermula ketika Bill Gates ingin mendapat saham yang lebih besar di Microsoft. Awalnya Paul berpikir jika pembagian saham akan dibagi 50-50 untuk mereka berdua.

Baca juga: Kisah Paul Allen dan Bill Gates Dirikan Microsoft

Tetapi Gates memiliki ide lain. Dalam kutipan bukunya, Paul menulis jika Gates mengusulkan agar saham miliknya lebih besar dengan pembagian 60-40. Paul pun menerima usulan sahabat yang sudah dikenalnya sejak masih di SMA itu.

Paul dan Gates sudah bekerjasama sejak tahun 1972. Cikal bakal Microsoft sendiri berawal dari komputer mikro buatan Micro Instrumentation and Telementry System’s (MITS) yang bernama Altair 8800.

Ketika itu Paul mengusulkan agar mereka membuat software penerjemah BASIC di sistem tersebut. Mereka pun mengusulkan software tersebut ke pihak MITS. Usai dilakukan uji coba ternyata software mereka berhasil dan disitu Microsoft mulai dikenal.

Baca juga: Pendiri Microsoft, Paul Allen Tutup Usia Karena Kanker

Pundi-pundi uang pun mulai masuk ke perusahaan yang mereka rintis bersama. Tapi perkembangan Microsoft yang begitu pesat ternyata tidak berbanding lurus dengan hubungan persahabatan mereka.

Ketika itu pembagian saham mengalami revisi. Gates meminta pembagian saham menjadi 64-36 dengan Gates mendapat porsi yang paling besar. Gates menilai jika dirinya bekerja dengan porsi yang besar. Demi menjaga persahabatan, Paul pun setuju.

“Jadi aku setuju. Setidaknya sekarang kita bisa meletakan masalah ini di tempat tidur, pikirku” tulis Allen.

Kehadiran Steve Ballmer

Pada tahun 1980 Steve Ballmer hadir ke Microsoft. Pria lulusan Harvard University jurusan matematika dan ekonomi itu memulai karirnya di Microsoft dengan memegang jabatan di divisi Operating Systems Development dan Sales and Support.

Sebelum memulai karirnya di Microsoft, Ballmer sempat bekerja selama dua tahun sebagai assistant product manager di Protect dan Gamble. Kemudian pada 11 Juni 1980 dia bergabung dengan Paul Allen dan Bill Gates di Microsoft.

Karena kedekatannya dengan Gates, karir Ballmer dengan cepat melesat. Puncak karir Ballmer terjadi tahun 2000, dimana dia didapuk menggantikan Gates sebagai CEO Microsoft hingga 4 Februari 2014, sebelumnya akhirnya digantikan Setya Nadela.

Baca juga: Pendiri Microsoft Meninggal Dunia, Bos Teknologi Berduka

Karir dan loyalitas kerja Ballmer untuk Microsoft memang patut diacungi jempol. Sayangnya, sosok Ballmer disebut-sebut sebagai ‘biang kerok’ rusaknya hubungan Paul dan Gates.

Pada akhir Desember 1982, Paul melihat Gates dan Ballmer berbicara di kantor tentang dirinya. Mereka membicarakan Paul yang semakin kurang produktif, dan berencana ingin membicarakan masalah itu kepada pemegang saham Microsoft.

“Sangat mudah untuk mendapatkan inti dari percakapan itu. Mereka meratapi kurang produktifnya saya, dan mendiskusikan bagaimana caranya mencairkan ekuitas Microsoft saya dengan mengeluarkan opsi untuk diri mereka sendiri dan pemegang saham lainnya,” tulis Paul.

Baca juga: Bill Gates, Anak Mama Jadi Inspirasi Dunia

Paul sendiri bukan tanpa alasan produktifitasnya menurun. Pasalnya, dirinya didiagnosa dokter menderita limfoma tahap non- Hodgkin, atau sejenis kanker getah bening yang memaksanya harus cuti panjang.

Ketika kembali bekerja, Paul merasa tidak dianggap. Dirinya berpikir jika rekan kantornya, termasuk Gates dan Ballmer ingin mengusirnya pelan-pelan. “Sekarang mitra saya dan rekan saya berencana untuk menghabisiku,” tulis Paul.

Tahun 1983 Paul akhirnya memutuskan untuk pergi. Sebelum pergi, Gates membujuk Paul untuk menjual sahamnya di Microsoft ke Gates dengan harga $ 5 per saham. Paul menolak tawaran itu karena terlalu kecil, dan menawar $ 10 per saham. Namun Gates menolak tawaran harga yang diajukan Paul.

Keputusan tidak menjual sahamnya di Microsoft terbukti tepat, karena akhirnya membawa berkah. Nilai saham milik Paul terus naik dan membawanya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Majalah Forbes menempatkan Paul di posisi 21 dalam daftar orang terkaya di dunia tahun 2018, dengan kekayaan mencapai US$ 20,3 miliar atau sekitar Rp 304,5 triliun (kurs $1 = Rp 15.000).

Baca juga: Saat Paul Allen Disebut “The Next” Jimi Hendrix

Walaupun sempat memburuk, namun hubungan Gates dan Paul kini telah membaik. Mereka mulai melupakan pertengkaran masa lalu dan sering melakukan aktivitas bersama. Sayangnya, kali ini Gates benar-benar harus kehilangan sahabatnya itu untuk selamanya.

Paul Allen meninggal dunia pada Senin (15/10/2018), di usia 65 tahun. Paul meninggal akibat komplikasi limfoma non-Hodgkin, penyakit semacam kanker getah bening yang telah dideritanya sejak lama.

Bill gates, seperti dikutip Telset.id dari CNBC, Selasa (16/10/2018), mengatakan bahwa sahabatnya tersebut merupakan sosok penting dari berkembangnya teknologi komputer saat ini.

“Saya sedih dengan meninggalnya salah satu teman tertua dan tersayang saya, Paul Allen,” katanya.

“Dari hari-hari awal kami bersama di Lakeside School, melalui kemitraan kami dalam penciptaan Microsoft, hingga beberapa proyek filantropi bersama kami selama bertahun-tahun, Paul adalah mitra sejati dan teman baik. PC tidak akan ada tanpa dia,” ucap Gates.

Sumber : CNET,  Business Insider

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here