5 Ilmuwan Muslim yang Berhasil Mengubah Dunia

Telset.id, Jakarta – Bicara tentang ilmuwan dunia, sebagian dari kita mungkin akan langsung tertuju pada nama-nama beken, seperti Albert Einstein, Isaac Newton, dst. Tapi sebenarnya banyak ilmuwan muslim yang mungkin juga harus Anda ketahui.

Selama ini kita hanya mengenal nama-nama ilumwan, seperti Albert Einstein, Isaac Newton, Galileo Galilei, atau Charles Darwin. Kesemuanya adalah ilmuwan-ilmuwan yang temuannya mengubah dunia, dan semuanya berasal dari dunia Barat.

Lalu, apa tidak ada ilmuwan yang berasal dari dataran Arab, ilmuwan muslim, misalnya?

Meski jarang diekspos, sebenarnya banyak pula lho ilmuwan Islam yang turut berperan dalam perkembangan sains. Temuan mereka bahkan tidak kalah keren dibandingkan ilmuwan-ilmuwan Barat.

Nah, mau tahu siapa saja ilmuwan muslim hebat yang telah berhasil mengubah dunia berkat temuannya? Ini dia 5 diantaranya:

Jabir Ibnu Hayyan

5 Ilmuwan Muslim yang Berhasil Mengubah Dunia
Jabir Ibnu Hayyan

Jabir bin Hayyan lahir pada sekitar 100 H atau 721 M di Khurasan Nama lengkapnya adalah Abu Musa Jabir bin Hayyan Al-Shufiy Al-Azadiy. Sumber lain menyebutnya sebagai Abu Abdullah Jabir bin Hayyan.

Ilmuwan muslim besar ini dikenal sebagai “The Father of Modern Chemistry”, atau Bapak Kimia Modern. Jabir dikenal sebagai seorang ahli dibidang kimia, farmasi, fisika, filosofi dan astronomi. Namun penemuan terbesarnya adalah dalam bidang kimia.

Keahliannya di bidang kimia ini didapatnya saat ia berguru pada Barmaki Vizier, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Penemuan Jabir dibidang kimia sangat berpengaruh, dan masih menjadi acuan hingga sekarang.

Dia mampu mengubah persepsi tentang berbagai kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi, menjadi ilmu sains yang lebih bisa dimengerti dan dipelajari oleh manusia.

Dia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir mengatakan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga bisa dikatakan Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Beberapa penemuan Jabir diantaranya adalah: asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, teknik distilasi dan teknik kristalisasi. Dia juga yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.

Berkat kejeniusannya, ia berhasil mengaplikasikan pengetahuannya di bidang kimia kedalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Dia juga menjadi orang yang pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.

Jabir juga yang pertama kali mencatat tentang pemanasan wine akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Berkat penemuannya inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi menemukan etanol.

Jabir bin Hayyan meninggal pada tahun 815. Dia telah menghasilkan banyak penemuan besar, dan juga membuka jalan bagi ilmuwan sesudahnya untuk menghasilkan penemuan-penumuan ilmiah yang masih digunakan hingga sekarang, khususnya dibidang kimia.

Abu Ali Muhammad al-Hasan

5 Ilmuwan Muslim yang Berhasil Mengubah Dunia
Abu Ali Muhammad Al-Hasan

Lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Haitham, Abu Ali Muhammad Al-Hasan menjadi salah satu tokoh Islam yang sangat berpengaruh di dunia teknologi. Ia dilahirkan di Al-Basrah pada tahun 354 Hijriah atau 965 Masehi.

Pria yang juga dikenal dengan nama Alhazen ini merupakan seorang ilmuwan di berbagai bidang pengetahuan, seperti ahli sains, matematika, filosofi, astronomi, dan polimath dari masa keemasan Kekaisaran Islam.

Ibnu Haitham menjadi orang pertama yang menemukan juga menulis data penting mengenai cahaya. Dia disebut-sebut sudah menulis sekitar 200 buku. Salah satu karya monumentalnya, yaitu Kitab al-Manadhir. Sayang buku ini tidak jelas keberadaannya.

Karya tulisannya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Melalui al-Manadhir, teori optik dijelaskan untuk pertama kalinya. Lewat karyanya tersebut, Ibnu Haitham juga menjadi orang pertama yang menjelaskan soal mekanisme penglihatan manusia. Selama lebih dari 500 tahun, al-Manadhir masuk dalam jajaran buku penting ilmu optik.

Pada tahun 1572, buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus. Bab tiga volume pertama buku itu membahas tuntas berbagai ide Ibnu Haitham mengenai cahaya.

Dia meyakini, sinar cahaya yang keluar dari garis lurus berasal dari setiap titik di permukaan bercahaya. Dia membuat percobaan sangat teliti terkait lintasan cahaya melalui beberapa media lalu menemukan teori pembiasan cahaya. Ibnu Haitham juga menjadi orang pertama yang melakukan eksperimen tentang penyebaran cahaya terhadap beraneka warna.

Hampir semua teori serta hasil penelitian Ibnu Haitham menginspirasi beberapa ahli sains Barat yang tersohor. Seperti Boger, Bacon, dan Kepler yang sekarang dikenal sebagai pencipta mikroskop serta teleskop.

Dia juga pernah menulis buku tentang evolusi yang sampai sekarang masih menjadi rujukan ilmuwan dunia. Buku-buku mengenai kosmologi karya Ibnu Haitham sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan. Ia meninggal pada tahun 1039 Masehi di Kairo, Mesir.

Ibnu Sina

Ibnu Sina
Abu Ali al Huseyn bin Abdullah bin Hassan Ali bin Sina

Ibnu Sina lahir pada 980 M atau 370 H di Afsyanah, sebuah kota kecil di dekat Bukhara, Uzbekistan. Ibnu Sina atau Avicenna memiliki nama lengkap Abu Ali al Huseyn bin Abdullah bin Hassan Ali bin Sina.

Ilmuwan berdarah Persia ini diketahui sudah menulis karya ilmiah pertamanya sejak berumur 21 tahun. Karya ilmiah pertamanya berjudul Al-Majmu mengulas beragam ilmu pengetahuan.

Sepanjang hidupnya, ilmuwan muslim jenius ini sudah menghasilkan 450 karya ilmiah. Karya-karyanya mengulas berbagai cabang ilmu pengeetahuan. Ada sekitar 150 karya mengupas tentang filsafat, 40 kitab tentang kedokteran.

Selain itu banyak karya-karya lainnya yang memuat beragam ilmu pengetahuan, mulai dari filsafat, astronomi, kimia, geografi, matematika, geologi, psikologi, teologi, logika, fisika, hingga seni puisi.

Dari 450 karyanya yang terdokumentasi, karyanya yang paling terkenal adalah As-Syifa dan Al-Qanun fi At-Tibb (The Canon of Medicine). Buku yang ditulis pada tahun 1025 itu menjadi referensi para dokter selama berabad-abad.

Hasil karya ilmiah Ibnu Sina pernah disatukan dalam satu buku besar berjudul “Essai de Bibliographie Avicenna”. Buku tersebut disusun oleh seorang ilmuwan Mesir bernama Pater Dominican.

Ibnu Sina wafat pada Juni 1037 di Hamadan, Iran. Sebagai seorang ilmuwan besar, Ibnu Sina sudah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi dunia ilmu pengetahuan, khususnya kedokteran.

Abbas Ibn Firnas

Abbas Ibn Firnas
Abbas Ibn Firnas

Abbas Ibn Firnas lahir di Izn-Rand Onda (sekarang dikenal dengan Ronda, Spanyol). Abbas adalah seorang penemu, fisikawan, dan ahli matematika. Sosoknya dikenal sebagai seorang ilmuwan yang multi talenta.

Ilmuwan yang juga dikenal dengan Abbas Abu Al-Qasim ini adalah seorang ilmuwan muslim yang mampu memperalelkan satu cabang ilmu yang ia kuasai dengan cabang ilmu pengetahuan lainnya.

Selain dikenal sebagai seorang peneliti bidang sainstek, Abbas juga dikenal sebagai seorang yang ahli di bidang puisi Arab dan juga seorang musisi Andalusia. Dia bahkan pernah menerbitkan beberapa puisi berbahasa Arab.

Abbas mendalami ilmu teknik saat ia tinggal di Andalusia. Dia belajar matematika, fisika, dan beragam ilmu sainstek lainnya dengan mendalam. Selanjutnya dia mendalami ilmu sainteknya di Kota Kordoba dan Baghdad.

Dua ilmu berhasil ia kuasai, yakni ilmu teknik dan matematika. Dengan bekal keilmuannya itu, dia mengembangkan rancangan pesawat terbangnya. Ia juga mendalami berbagai ilmu lain yang berkaitan dengan dunia penerbangan.

{Baca juga: Ilmuwan Pakai Jamur Ciptakan Tanaman “Glow in the Dark”}

Pada abad ke-9 Ia menciptakan alat terbang bersayap yang menyerupai burung dan berhasil menerbangkannya di Kordoba, Spanyol. Ia disebut-sebut sebagai pilot pertama di dunia, jauh sebelum Wright bersaudara menemukan pesawat terbang.

Abbas Ibn Firnas wafat di tahuan 887. Sebagai seorang ilmuwan jenius, dia telah memberikan sumbangsih pengetahuan yang sangat besar bagi ilmuan-ilmuan setelahnya.

Sebagai penghargaan atas jasanya, nama Kawah Ibn Firnas di Bulan untuk menghormatinya. Selain itu, namanya juga digunakan sebagai Bandar Udara Ibn Firnas di Baghdad, dan salah satu jembatan di sepanjang sungai Guadalquivir di Córdoba untuk mengenang jasanya.

Al Battani

5 Ilmuwan Muslim yang Berhasil Mengubah Dunia
Al Battani

Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Sabi al-Battani atau dikenal sebagai Al-Battani lahir sekitar tahun 858. Orang Eropa menyebutnya dengan sebutan Albategnius.

Kejeniusannya dibidang astronomi diturunkan dari ayahnya yang juga seorang ilmuwan astronomi, Jabir Ibn San’an Al-Battani. Keluarga Al-Battani sebenarnya adalah penganut sekte Sabian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun, Al-Battani memilih untuk memeluk agama Islam.

Al-Battani merupakan salah seorang ilmuwan muslim dibidang astronomi dan matematika pada abad pertengahan. Penemuannya sangat berpengaruh bagi ilmu astronomi hingga sekarang.

Salah satu penemuan terbesarnya adalah perhitungan hari. Berkat penemuannya, saat ini kita bisa mengetahui bahwa dalam setahun ada 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik (sumber lain menyebut 365,24 hari).

Penemuan Al-Battani ini dianggap lebih akurat, sehingga membuat seorang ahli matematika asal Jerman bernama Christopher Clavius menggunakannya untuk memperbaiki kalender Julian.

Setelah mendapatkan izin Paus Gregorius XIII, kalender lama yang digunakan saat itu akhirnya diubah menjadi kalender yang baru, dan mulai digunakan pada tahun 1582. Kalender inilah yang kemudian banyak digunakan orang hingga saat ini.

Semasa hidupnya, Al-Battani sudah banyak menciptakan karya. Tapi karyanya yang paling populer adalah Kitab al-Zij. Kitab ini pada abad ke-12 diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul “De Scientia Stellarum” atau De Motu Stellarum.

Al-Battani meninggal pada tahun 929 di Qar al-Jiss (sekarang di Irak modern) dalam perjalanan pulang dari Bagdad. Dia meninggalkan karya besar yang terangkum dalam Kitab al-Zij, yang masih digunakan sebagai pedoman pada zaman Renaisance.

Penemuannya memberikan banyak pengaruh terhadap astronom dan astrolog Barat hingga sekarang. Al-Battani dianggap sebagai astronom terbaik dan paling dikenal dari peradaban Islam pada abad pertengahan. [IF/HBS]

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0