Upss! Facebook Sebut Deklarasi Kemerdekaan AS Berisi Ujaran Kebencian

Upss! Facebook Sebut Deklarasi Kemerdekaan AS Berisi Ujaran Kebencian

Penulis:Sigit Nugraha
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id, Jakarta – Algoritma Facebook membaca beberapa bagian Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (AS) bermakna ujaran kebencian. Tak ingin menimbulkan masalah, Facebook buru-buru mengklarifikasi dan meminta maaf atas kejadian itu.

Memperingati Hari Kemerdekaan, surat kabar komunitas AS di Texas, The Liberty County Vindicator, mengunggah dokumen Deklarasi Kemerdekaan di halaman Facebook. Dalam unggahan itu, ada bagian tulisan di dokumen yang ditutupi oleh Facebook.

Menurut The IndenpendentĀ yang dikutip Telset.id pada Minggu (8/7/2018), dalam unggahan tersebut, Facebook menutupi kalimat ā€œmerciless Indian savagesā€ yang berarti ā€œOrang liar India tanpa belas kasihanā€ yang terdapat di dokumen Deklarasi Kemerdekaan.

The Liberty County Vindicator mengunggah dokumen pendirian AS itu ke halaman Facebook untuk mendorong literasi sejarah kepada khalayak. Namun, bagian 10 tidak muncul.

Baca juga: Facebook Pakai Mesin Pembelajaran untuk Deteksi Hoaks

The Liberty County Vindicator lalu mendapat notifikasi dari Facebook yang menyatakan bahwa unggahan telah melanggar standar untuk ujaran kebencian. Editor The Liberty County Vindicator, Casey Stinnett, lantas membuat tulisan setelah paragraf itu.

ā€œMungkin seharusnya Thomas Jefferson menulisnya begini ā€œPribumi Amerika pada tahap perkembangan budaya yang menantangā€ hingga akan lebih baik,ā€ tulis Stinnett.

The Liberty County Vindicator kemudian mengonfirmasi bahwa Facebook telah mengubah penilaiannya dan meminta maaf.

ā€œIni seperti kita membuat kesalahan dan membuang sesuatu yang Anda unggah di Facebook yang tidak melawan standar komunitas,ā€ kata Facebook.

ā€œKami ingin minta maaf. Supaya Anda tahun bahwa kita telah mengembalikan konten Anda dan menghapus semua penghalang di akun Anda terkait aksi tidak benar tersebut,ā€ tambah pihak Facebook.

Baca juga: Facebook Hapus Fitur Trending Topic, Kenapa?

Masalah yang ā€œmemalukanā€ ini pun mendapat tanggapan dari Asisten Editor majalah politik Reason, Christian Britschgi. Menurutnya, robot atau algoritma Facebook tidak cukup cerdas memilah bahasa.

ā€œRobot yang dilatih menemukan bahasa yang tidak tepat secara politik tidak cukup cerdas untuk mendeteksi saat bahasa itu bagian dari dokumen penting nan bersejarah,ā€ tegasnya.

Sumber: Independent

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.