Kendaraan breaching otonom Ford F-250 dengan turret anti-drone Edda saat uji coba di Fort Bragg

Uji Coba Kendaraan Autonom Breaching dengan Turret Anti-Drone di Fort Bragg

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • U.S. Army menguji kendaraan breaching otonom Ford F-250 dengan turret anti-drone Edda di Fort Bragg pada 18 Agustus
  • Project Sandhills 2.0 merupakan pengembangan dari proyek Sandhills yang melahirkan Lancer UGV untuk Ukraina
  • Kendaraan menggunakan sistem AutoDrive dari Forterra dan turret Edda dari 9 Mothers
  • Turret Edda mendeteksi drone secara akustik sebelum pelacakan visual, dengan berat 23 kg dan jangkauan 10-100 meter
  • Ford F-250 dipilih karena ketersediaan suku cadang yang melimpah untuk memudahkan perawatan
  • Sistem dirancang untuk menghadapi ancaman drone FPV yang semakin umum di medan perang modern

Telset.id – Angkatan Darat Amerika Serikat (U.S. Army) telah menguji coba kendaraan breaching otonom yang dilengkapi turret anti-drone pada latihan tembak langsung di Fort Bragg pada 18 Agustus. Uji coba ini merupakan bagian dari Project Sandhills 2.0, di mana truk Ford F-250 self-driving diuji kemampuannya, beberapa di antaranya dipersenjatai dengan turret shotgun pembunuh drone yang dikendalikan komputer.

Project Sandhills 2.0 merupakan pengembangan dari proyek Sandhills sebelumnya yang melahirkan Lancer UGV, kendaraan berbasis Polaris Ranger 1500 yang akhirnya dihadiahkan ke Ukraina. Solusi breaching terbaru ini menambahkan kemampuan counter-UAS (C-UAS) untuk memperkuat kemampuan mereka dalam membersihkan jalur bagi tentara manusia untuk maju. Operasi breaching dapat terganggu serius oleh musuh yang menggunakan teknologi drone FPV yang semakin umum, dan fakta inilah yang mendorong perubahan yang dihadirkan dalam Sandhills 2.0.

Edda turret

Kendaraan yang dipilih untuk Sandhills 2.0 adalah truk Ford F-250 self-driving yang dilengkapi dengan sistem AutoDrive milik Forterra. Ketersediaan suku cadang Ford yang melimpah seharusnya membuat sistem berbasis F-250 lebih mudah dirawat dan diperbaiki, menurut VP defense Forterra. Faktor ini menjadi pertimbangan penting bagi para desainer untuk iterasi terbaru kendaraan breaching otonom yang layak bagi U.S. Army ini.

Sementara itu, turret Edda counter-unmanned aircraft system yang dibangun oleh 9 Mothers yang berbasis di Austin, Texas, menangani ancaman drone bergerak cepat dengan diameter 7 inci atau lebih besar, pada jarak antara 10 hingga 100 meter (33 hingga 328 kaki). Laporan sumber menyebutkan bahwa turret ini memiliki berat sekitar 23 kg (50 pon).

Menariknya, turret ini pertama-tama mendeteksi drone yang masuk secara akustik sebelum sistem pelacakan visual onboard mengunci target. Metodologi ini mencegah sistem berbasis F-250 ini mudah terdeteksi oleh sensor drone musuh yang canggih, seperti yang disarankan dalam laporan sumber. Setelah itu, Edda yang dipersenjatai shotgun akan menembak drone musuh.

Menurut data yang dipublikasikan 9 Mothers, turret Edda adalah β€œplatform gerak ultra-cepat, ultra-ringan, dan ultra-akurat β€” 5Β° dalam waktu kurang dari 15 ms dengan presisi 1,5 arcminute.” Namun, data uji seperti persentase drone yang hancur dalam satu tembakan, kecepatan maksimum drone yang dapat ditangani Edda, atau berapa banyak drone yang bisa ditangani per menit masih belum tersedia.

Pengembangan kendaraan otonom militer ini menunjukkan bagaimana teknologi self-driving semakin diadopsi di berbagai sektor. Dalam industri otomotif sipil, teknologi serupa juga terus berkembang, seperti yang terlihat pada Tesla Summer Update yang menghadirkan fitur-fitur baru untuk sistem self-driving mereka.

Kombinasi antara kendaraan otonom dan sistem persenjataan anti-drone ini menjadi respons langsung terhadap meningkatnya ancaman drone FPV di medan perang modern. Drone FPV yang murah dan mudah didapat telah terbukti efektif dalam mengganggu operasi militer konvensional, sehingga integrasi sistem C-UAS pada kendaraan breaching menjadi langkah penting.

Pemilihan Ford F-250 sebagai platform utama juga menarik karena menunjukkan pendekatan pragmatis dalam pengembangan kendaraan militer. Dengan menggunakan kendaraan komersial yang sudah tersedia secara luas, proses perawatan dan perbaikan di lapangan menjadi lebih sederhana dibandingkan menggunakan platform militer khusus yang suku cadangnya terbatas.

Forterra AutoDrive system

Sistem AutoDrive dari Forterra sendiri merupakan teknologi autonomous driving yang telah dikembangkan khusus untuk aplikasi pertahanan. Integrasi sistem ini dengan turret Edda dari 9 Mothers menunjukkan kolaborasi antar perusahaan teknologi pertahanan dalam menghadirkan solusi terpadu untuk kebutuhan militer modern.

Metode deteksi akustik yang digunakan oleh turret Edda juga menjadi keunggulan tersendiri. Dengan mendeteksi drone secara akustik terlebih dahulu sebelum beralih ke pelacakan visual, sistem ini dapat bekerja lebih efisien dan mengurangi risiko terdeteksi oleh sensor musuh. Pendekatan ini berbeda dari sistem C-UAS konvensional yang lebih mengandalkan deteksi radar atau visual sejak awal.

Uji coba di Fort Bragg ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan kendaraan tempur otonom. Meskipun masih dalam tahap pengujian, keberhasilan integrasi antara kendaraan otonom dan sistem anti-drone ini dapat membuka jalan bagi adopsi teknologi serupa dalam skala yang lebih luas di masa depan.

Ke depannya, data uji yang lebih komprehensif akan sangat diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas sistem ini secara menyeluruh. Parameter seperti tingkat keberhasilan tembakan, kemampuan menangani drone dalam jumlah banyak, dan batas kecepatan drone yang bisa dihadapi menjadi informasi penting yang masih menunggu publikasi dari pihak terkait.

Pengembangan ini juga menjadi indikator bagaimana teknologi otonom terus berevolusi, tidak hanya untuk aplikasi sipil tetapi juga untuk kebutuhan pertahanan. Seiring dengan meningkatnya kompleksitas ancaman di medan perang modern, solusi seperti Project Sandhills 2.0 ini menjadi semakin relevan untuk memastikan keselamatan personel militer dalam menjalankan misi mereka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.