Telset.id – Jepang mencapai tonggak baru dalam upaya membangun sistem navigasi satelit mandiri setelah satelit QZS-7 berhasil mencapai orbit yang dituju. Peluncuran yang terjadi pada Selasa waktu setempat ini menjadi kunci bagi Jepang untuk memastikan cakupan navigasi domestik yang hampir berkelanjutan, sebuah jawaban atas keterbatasan sinyal GPS biasa di wilayahnya.
Keberhasilan ini terjadi setelah kegagalan peluncuran QZS-5 pada Desember 2025 lalu. Dengan suksesnya misi QZS-7, Jepang kini nyaris memiliki seluruh cakupan navigasi satelit yang direncanakan, sekaligus memberikan kepercayaan diri baru bagi roket H3 milik JAXA yang sempat mencatatkan dua kegagalan dalam sembilan misinya.
Sistem Quasi-Zenith Satellite System (QZSS) dibangun Jepang karena kondisi geografisnya yang unik. Wilayah kepulauan Jepang yang membentang antara 20° hingga 45° Lintang Utara terlalu luas untuk dicakup oleh satu satelit geostasioner. Kondisi pegunungan dan kepadatan gedung di kota-kota Jepang juga kerap menghalangi sinyal satelit navigasi biasa mencapai penerima di tanah.
Baca Juga:
Untuk mengatasi tantangan tersebut, satelit QZSS menggunakan orbit geostasioner miring yang membentuk pola angka delapan jika dilihat dari permukaan bumi. Desain orbit ini memungkinkan satelit bergerak lebih lambat saat berada di atas Belahan Bumi Utara, sehingga menghabiskan waktu sekitar 13 jam di dekat garis khatulistiwa setiap siklusnya. Hasilnya, setidaknya satu satelit selalu berada di atas wilayah Jepang.
Pada konfigurasi awal dengan empat satelit, satu satelit QZSS muncul di atas Jepang setiap delapan jam. Satu satelit selalu berada di ketinggian 70 derajat atau lebih, meskipun tidak selalu tepat di titik zenit. Karakteristik elevasi inilah yang kemudian melahirkan nama “quasi-zenith” untuk sistem ini.
Sejarah Panjang Pengembangan QZSS
Perjalanan pengembangan teknologi satelit Jepang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Satelit eksperimental pertama QZSS diluncurkan pada 2010, disusul empat satelit produksi yang diluncurkan antara 2017 hingga 2021. Pemerintah Jepang kemudian memutuskan untuk memperluas konstelasi dari empat menjadi tujuh satelit total.
QZS-6 berhasil diluncurkan pada Februari 2025, beberapa bulan sebelum upaya peluncuran QZS-5 yang berakhir gagal. Kantor Kabinet Jepang menyatakan bahwa sistem ini melengkapi GPS dengan memastikan satelit navigasi hampir selalu berada di atas negara tersebut.
Kegagalan peluncuran QZS-5 pada Desember 2025 disebabkan oleh masalah terkait lem yang menghancurkan muatan satelit navigasi yang dibawanya. Meski demikian, pejabat Jepang menyebut tiga satelit lagi direncanakan diluncurkan pada 2030-an, meskipun pengganti langsung untuk QZS-5 belum dikonfirmasi.

Roket H3 dan Masa Depan Misi Luar Angkasa Jepang
Keberhasilan misi QZS-7 juga menjadi momen penting bagi roket H3, kendaraan peluncur kelas menengah terbaru milik Badan Eksplorasi Luar Angkasa Jepang (JAXA). Penerbangan Selasa lalu merupakan misi kesembilan roket ini sejak debutnya, dengan dua dari sembilan misi tersebut berakhir gagal.
Kegagalan terakhir terjadi pada Desember 2025, ketika roket H3 gagal meluncurkan QZS-5. Namun, keberhasilan QZS-7 memberikan jaminan bahwa H3, meskipun memiliki catatan yang naik turun, masih dapat diandalkan sebagai kendaraan kerja untuk misi-misi masa depan.
Dengan hampir lengkapnya konstelasi QZSS, Jepang kini memiliki sistem navigasi satelit yang dirancang khusus untuk mengatasi tantangan geografisnya. Sistem ini diharapkan memberikan akurasi lokasi yang lebih tajam dan cakupan yang hampir konstan di seluruh wilayah kepulauan Jepang, melengkapi layanan GPS yang sudah ada.
Keberhasilan ini juga menunjukkan komitmen Jepang dalam mengembangkan teknologi dalam negeri untuk kebutuhan strategisnya, sebuah langkah yang sejalan dengan upaya negara tersebut untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing di berbagai sektor.





Komentar
Belum ada komentar.