📑 Daftar Isi

Ericsson Tegaskan Teknologi 5G Jadi Kunci Daya Saing Ekonomi Digital Indonesia

Ericsson Tegaskan Teknologi 5G Jadi Kunci Daya Saing Ekonomi Digital Indonesia

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Jika Anda berpikir 5G cuma soal internet lebih cepat buat streaming atau download game, siap-siap melenceng. Di tengah hiruk-pikuk transformasi digital, Ericsson baru saja menegaskan sesuatu yang jauh lebih fundamental: percepatan implementasi 5G adalah kunci utama daya saing ekonomi digital Indonesia. Bukan sekadar pemanis, ini fondasi.

Dalam partisipasinya di Indotelko Forum 2026 beberapa waktu lalu, raksasa teknologi asal Swedia itu memaparkan visi yang cukup berani. Mereka melihat 5G bukan lagi sebagai evolusi teknologi biasa, melainkan infrastruktur krusial yang bakal menopang transformasi di berbagai sektor—dari manufaktur, logistik, energi, hingga layanan publik. Bayangkan, tanpa fondasi yang kuat, bagaimana mungkin Indonesia bisa berlari menuju visi Indonesia Emas 2045?

Data dari Ericsson Mobility Report memperkuat argumen ini. Secara global, 5G adalah generasi konektivitas dengan adopsi tercepat dalam sejarah. Jumlah pelanggan 5G diperkirakan mencapai sekitar 2,9 miliar pada akhir 2025 dan akan meroket menjadi 6,4 miliar pada 2032. Artinya, dalam waktu kurang dari satu dekade, mayoritas langganan seluler di dunia akan menggunakan 5G.

Tapi, apa artinya semua angka itu bagi Indonesia? Jawabannya terletak pada potensi ekonominya. GSMA memperkirakan, investasi lanjutan di teknologi ini bisa memberikan kontribusi hingga 41 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 667 triliun terhadap PDB nasional pada periode 2024-2030. Bukan angka yang bisa diabaikan, apalagi di tengah upaya pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi.

Mengapa 5G Mendesak Sekarang?

Pertanyaan ini mungkin menggelitik. Bukankah 4G saja sudah cukup? Faktanya, tidak. Di era di mana kecerdasan buatan (AI) mulai merasuk ke setiap sendi kehidupan, jaringan 4G mulai kehabisan napas. Aplikasi berbasis AI menuntut kecepatan tinggi, latensi rendah, dan keandalan yang tidak bisa ditawar.

President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby, dengan gamblang menjelaskan hal ini. “5G telah menjadi infrastruktur nasional yang krusial. Teknologi ini akan mempercepat transformasi digital Indonesia melalui jaringan berkecepatan tinggi, andal, dan berlatensi rendah yang penting untuk mendukung aplikasi digital canggih serta teknologi baru di berbagai sektor industri,” ujarnya.

Pernyataan Nora bukan sekadar retorika. Saat ini, jaringan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari dan berperan sentral terhadap kemajuan ekonomi, terutama untuk layanan-layanan vital. Bayangkan jika rumah sakit pintar, pabrik otomatis, atau sistem logistik cerdas harus berjalan di atas jaringan yang lambat dan tidak stabil. Hasilnya pasti kacau.

Tantangan di Depan Mata

Meski potensinya menggiurkan, jalan menuju adopsi 5G di Indonesia masih terjal. Ronni Nurmal, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, mengakui bahwa “Adopsi AI dan 5G di Indonesia masih berada pada tahap awal dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.”

Ini bukan kabar buruk, melainkan panggilan untuk bertindak. Ronni menekankan bahwa kebijakan spektrum yang tepat, kolaborasi yang kuat, dan dukungan ekosistem vendor yang seimbang adalah kunci. Tanpa itu, Indonesia akan terus tertatih-tatih di belakang tetangga.

Pemerintah sendiri, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sudah bergerak. Mereka sedang dalam proses menyiapkan pelelangan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Langkah ini disambut baik oleh para pelaku industri, karena spektrum adalah “bahan bakar” bagi jaringan 5G. Tanpa alokasi yang memadai, mustahil membangun infrastruktur yang merata.

Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Seperti yang pernah diulas dalam artikel kendala implementasi 5G, masih ada soal kesiapan regulator, investasi infrastruktur, hingga kesiapan industri dalam mengadopsi teknologi ini. Semuanya harus berjalan beriringan.

Kolaborasi sebagai Jawaban

Pada akhirnya, kata kuncinya adalah kolaborasi. Ericsson, dengan pengalaman globalnya, bisa menjadi mitra strategis bagi Indonesia. Namun, tanpa dukungan penuh dari pemerintah, operator, dan pelaku industri, mimpi Indonesia Emas 2045 hanya akan tinggal mimpi.

Ronni menutup dengan pernyataan yang patut direnungkan: “Pada akhirnya, keputusan yang diambil hari ini, terutama dalam membangun dan mengelola jaringan, akan menentukan seberapa cepat Indonesia dapat mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.”

Jadi, apakah Indonesia siap mengambil keputusan besar itu? Atau kita akan terus membiarkan potensi 5G menguap begitu saja? Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal yang pasti: tanpa akselerasi 5G, daya saing ekonomi digital kita akan terus tergerus.

Bagi Anda yang ingin mendalami lebih jauh tentang bagaimana implementasi 5G bisa dijalankan di Indonesia, jangan lewatkan artikel implementasi 5G di Indonesia dan juga ulasan tentang alokasi capex untuk 5G. Semua adalah potongan puzzle dari masa depan digital yang sedang kita bangun bersama.