📑 Daftar Isi

5G di Indonesia Diprediksi Tembus 213 Juta Pengguna pada 2031

5G di Indonesia Diprediksi Tembus 213 Juta Pengguna pada 2031

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Laporan terbaru Ericsson Mobility Report edisi Juni 2026 memproyeksikan lonjakan signifikan pengguna 5G di Indonesia. Diprediksi pada tahun 2031, jumlah pengguna 5G di Tanah Air akan mencapai 213 juta jiwa, atau setara dengan 59 persen dari total seluruh pengguna seluler.

Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat jika dibandingkan dengan data tahun 2025. Pada tahun tersebut, Ericsson mencatat baru ada 22 juta pengguna 5G di Indonesia, yang hanya berkontribusi sekitar 7 persen dari total pengguna. Lonjakan ini menandai era baru konektivitas yang akan menjadi tulang punggung transformasi digital nasional.

Proyeksi ini diungkapkan dalam media briefing di Jakarta pada Selasa, 23 Juni 2026. Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia, menjelaskan bahwa secara global, hingga Q1 2026 sudah ada 3,1 miliar pengguna 5G di seluruh dunia. Angka ini diproyeksikan akan terus tumbuh menjadi 6,4 miliar pada tahun 2031.

“Karena sekarang sudah ada hampir majority dari operator-operator seluruh dunia itu, sudah ada 390 aktif operator di dunia yang sedang launching 5G, jadi yang kita lihat growing terus,” kata Stanis dalam kesempatan tersebut.

Pertumbuhan ini tidak lepas dari peran vital 5G sebagai infrastruktur kritis. Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relation Ericsson Indonesia, menegaskan bahwa teknologi ini menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi digital.

“Sekali lagi, 5G menjadi critical infrastructure, infrastruktur yang vital untuk pertumbuhan digital economy. Dan kita lihat, ini akan membantu mencapai target Indonesia Digital 2045,” ujar Ronni.

Peran Frekuensi Mid-Band dalam Percepatan 5G

Salah satu faktor kunci yang akan mendorong adopsi 5G di Indonesia adalah ketersediaan frekuensi mid-band, seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz. Ericsson menekankan bahwa spektrum ini sangat penting untuk memaksimalkan potensi penuh dari teknologi 5G.

“Mid band ini sebenarnya yang sangat penting untuk menggunakan 5G secara, potensinya secara full,” jelas Stanis.

Ia menambahkan, kombinasi frekuensi mid-band dengan cakupan penuh (full coverage) dan frekuensi low-band yang sudah digunakan saat ini, seperti 1.800 MHz, 2.100 MHz, atau 2.300 MHz, akan meningkatkan mobilitas dan kualitas cakupan secara keseluruhan.

“Kalau ini dikombinasi dengan full coverage, dan kemudian ditambah dengan 5G yang kita pakai sekarang, misalnya di 1.800, 2.100, atau lebih 2.300 yang kita sebut low-band itu makin membuat mobility sama full coverage menjadi lebih baik,” imbuhnya.

Harapan besar juga disematkan pada lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang telah dibuka oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Langkah ini dinilai akan menjadi akselerator utama untuk memperluas penetrasi 5G di Indonesia, terutama ke daerah-daerah yang belum terjangkau.

Proyeksi 5G di Asia Tenggara dan Evolusi ke 6G

Dalam skala regional, adopsi 5G di Asia Tenggara dan Oseania juga menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, adopsi 5G di kawasan ini baru mencapai 14 persen, dengan koneksi 4G masih mendominasi di angka 76 persen. Namun, pada tahun 2031, adopsi 5G diramal akan melonjak hingga 56 persen.

Negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina diperkirakan akan menjadi pemimpin dalam adopsi 5G di kawasan ini. Sementara itu, Indonesia dengan proyeksi 213 juta pengguna akan menjadi salah satu pasar 5G terbesar.

Meskipun adopsi 5G global belum merata, Ericsson sudah mulai menerawang evolusi jaringan berikutnya, yaitu 6G. Spesifikasi awal untuk teknologi 6G diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2028 atau awal tahun 2029. Peluncuran layanan 6G komersial pertama diprediksi akan terjadi pada tahun 2030.

“Prediksinya ketika launching di 2031, itu market utama yang biasanya duluan itu adalah China, Jepang, Korea Selatan, kemudian negara-negara Teluk,” ucap Stanis.

Ini menunjukkan bahwa sementara Indonesia masih fokus pada pemerataan dan optimalisasi 5G, negara-negara maju lainnya sudah bersiap untuk melompat ke generasi jaringan berikutnya. Meski demikian, target Indonesia Digital 2045 yang ambisius sangat bergantung pada kesuksesan implementasi 5G dalam beberapa tahun ke depan.

Bagi pengguna di Indonesia, lonjakan pengguna 5G ini berarti akses yang lebih luas terhadap internet berkecepatan tinggi, yang akan membuka peluang baru di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan industri kreatif. Kehadiran infrastruktur yang lebih baik juga akan mendorong inovasi dan daya saing bangsa di kancah global.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan jaringan 5G, Anda dapat membaca artikel terkait kecepatan internet 5G Indonesia yang masih tertinggal dari negara tetangga. Selain itu, simak juga roadmap 5G Indonesia yang dipamerkan Kominfo ke anggota ITU.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.