Ilustrasi wahana antariksa Tianwen-2 milik China sedang mendekati asteroid Kamo’oalewa

Tianwen-2 Kirim Foto Asteroid Kamo’oalewa, Misi Ambisius China

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Misi Tianwen-2 China berhasil mengirim gambar pertama asteroid Kamo’oalewa dari jarak 20 km pada 2 Juli 2026.
  • Asteroid Kamo’oalewa adalah satelit kuasi Bumi paling stabil, dengan diameter 41 meter dan rotasi cepat.
  • Tantangan utama misi adalah mendarat dan mengambil sampel dalam waktu terbatas.
  • Jika sukses, sampel akan dikirim ke Bumi pada November 2027.
  • Misi ini bertujuan mengungkap asal-usul tata surya dan komposisi awal materialnya.
  • Teori baru menyebut Kamo’oalewa mungkin berasal dari sabuk asteroid, bukan pecahan Bulan.

Telset.id – Misi antariksa China, Tianwen-2, berhasil mencatatkan pencapaian penting setelah mengirimkan gambar pertama asteroid Kamo’oalewa. Keberhasilan ini menjadi tonggak baru dalam upaya eksplorasi luar angkasa global, khususnya untuk memahami asal-usul tata surya.

Pencapaian ini terjadi setelah wahana Tianwen-2 menjalani perjalanan selama 400 hari menempuh jarak sekitar 1 miliar kilometer. Setelah melakukan beberapa penyesuaian orbit di luar angkasa, wahana ini pertama kali mendeteksi Kamo’oalewa pada 6 Juni 2026. Tepat sebulan kemudian, pada 2 Juli 2026, Tianwen-2 berhasil mengabadikan gambar perdana asteroid tersebut dari jarak sekitar 20 kilometer.

Kamo’oalewa sendiri dikenal sebagai satelit kuasi Bumi yang paling stabil. Karena mengorbit Matahari dengan gerakan yang hampir sinkron dengan Bumi, asteroid ini dianggap sebagai objek luar angkasa yang relatif mudah dijangkau. Namun, misi untuk mendarat dan mengambil sampel dari permukaannya bukanlah tugas yang mudah.

Tantangan Misi Tianwen-2

Tantangan terbesar yang dihadapi misi ini adalah ukuran dan karakteristik Kamo’oalewa. Asteroid ini memiliki diameter rata-rata hanya sekitar 41 meter dan berputar dengan kecepatan tinggi. Kondisi ini memaksa wahana untuk melakukan kontak stabil dan mengumpulkan sampel dalam waktu yang sangat terbatas.

Jika Tianwen-2 berhasil mengumpulkan sampel, wahana tersebut akan melepaskan sampel dalam sebuah kapsul saat terbang melintasi Bumi pada November 2027. Keberhasilan ini akan menjadi pencapaian besar dalam sejarah eksplorasi asteroid, mengikuti jejak misi Hayabusa dan Hayabusa2 milik Jepang serta misi OSIRIS-REx milik NASA.

Untuk mendukung misi yang kompleks ini, Tianwen-2 dilengkapi dengan berbagai kamera dengan panjang fokus yang berbeda. Wahana ini dapat beralih antara kamera sudut pandang sempit dan kamera sudut pandang lebar sesuai kebutuhan. Selain itu, terdapat juga kamera yang dapat dilepas yang akan digunakan selama proses pengumpulan sampel. Mengingat orientasi wahana harus disesuaikan secara presisi saat mengambil gambar, memanfaatkan momen-momen terbatas ini adalah tugas yang sangat sulit.

Mengungkap Misteri Asal-Usul Kamo’oalewa

Tianwen-2 berencana melakukan pengamatan ilmiah yang lebih detail terhadap bentuk, komposisi material, dan struktur internal Kamo’oalewa. Material dari benda langit kecil yang mengorbit dekat Bumi ini diyakini dapat memberikan petunjuk penting untuk memahami pembentukan tata surya.

“Kemungkinan besar mengandung informasi primordial dari masa awal pembentukan tata surya, dan memiliki nilai ilmiah yang besar untuk mempelajari komposisi material awal, proses pembentukan, dan sejarah evolusi,” jelas Han Siyuan, wakil direktur Pusat Teknik Eksplorasi Bulan dan Luar Angkasa serta juru bicara misi Tianwen-2.

Menariknya, asal-usul Kamo’oalewa masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Sebelumnya, teori yang menyebutkan bahwa Kamo’oalewa adalah pecahan Bulan yang terlempar akibat dampak asteroid jutaan tahun lalu telah diterima secara luas. Teori ini didukung oleh spektrum cahaya yang dipantulkan asteroid yang sangat mirip dengan mineral silikat di permukaan Bulan, serta simulasi komputer.

Namun, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan pada Mei 2026 oleh tim peneliti internasional, termasuk Akademi Ilmu Pengetahuan China, mempertanyakan hipotesis utama tersebut. Analisis ulang data yang ada menemukan bahwa panjang gelombang pusat pita serapan—titik di mana cahaya melemah pada panjang gelombang spesifik—cocok dengan karakteristik LL chondrites, yaitu jenis meteorit dengan kandungan besi dan logam yang rendah.

Tim peneliti kemudian melakukan eksperimen dengan menyinari bubuk meteorit LL chondrite menggunakan laser untuk mensimulasikan pelapukan luar angkasa yang disebabkan oleh angin matahari dan mikrometeorit. Hasilnya sangat cocok dengan data pengamatan Kamo’oalewa. Para peneliti berpendapat bahwa Kamo’oalewa kemungkinan besar bermigrasi ke sekitar Bumi dari keluarga Flora, sekelompok benda langit di sabuk asteroid.

Jika Tianwen-2 berhasil menyelesaikan misinya untuk mengambil sampel dan kembali ke Bumi, hal itu kemungkinan akan membantu menjawab pertanyaan tentang asal-usul Kamo’oalewa. Misi ini menjadi bukti ambisi China dalam eksplorasi luar angkasa, sejalan dengan pencapaian lain seperti pendaratan roket Long March yang menantang dominasi SpaceX.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.