Telset.id – Sebuah kolaborasi penelitian internasional yang melibatkan ilmuwan dari CERN dan Universitas Oxford mengungkap fakta mengejutkan mengenai pertahanan planet. Studi terbaru ini menunjukkan bahwa penggunaan hulu ledak nuklir untuk membelokkan asteroid yang mengancam Bumi mungkin jauh lebih efektif dan aman daripada yang diperkirakan sebelumnya, menepis kekhawatiran bahwa metode ini hanya akan menciptakan hujan puing radioaktif.
Isu pertahanan planet kembali menjadi sorotan sains. Kita tahu bahwa asteroid berukuran besar memiliki potensi destruktif yang nyata. Sebagai gambaran, meteor Chelyabinsk berukuran 60 kaki yang meledak di atas wilayah Ural selatan, Rusia, pada tahun 2013 melepaskan ledakan setara dengan 30 kali energi bom atom Hiroshima. Jika objek yang lebih besar mengancam, manusia memerlukan solusi yang lebih radikal.
Hingga saat ini, metode yang paling populer dan telah diuji adalah dampak kinetik, seperti Misi DART milik NASA pada tahun 2022. Misi ini berhasil menabrakkan pesawat ruang angkasa ke asteroid untuk mengubah jalurnya. Namun, metode “biliar kosmik” ini mungkin tidak selalu bisa diandalkan, terutama jika waktu peringatan sangat singkat atau objeknya terlalu besar.
Dalam makalah baru yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, para peneliti meninjau kembali opsi “nuklir”. Selama ini, terdapat kekhawatiran intuitif bahwa meledakkan asteroid dengan nuklir justru akan memecahnya menjadi ribuan kepingan kecil yang tetap menghujani Bumi—mengubah “tembakan sniper” menjadi “tembakan shotgun” yang tak kalah mematikan.
Baca Juga:
Namun, tim peneliti yang bermitra dengan startup defleksi nuklir, Outer Solar System Company (OuSoCo), menemukan hasil yang berbeda. Menggunakan fasilitas Super Proton Synchrotron (SPS) milik CERN, mereka melakukan simulasi fisik skala besar untuk melihat bagaimana material asteroid bereaksi terhadap tekanan ekstrem.
Dalam eksperimennya, tim memaparkan sampel meteorit kaya logam pada 27 denyut sinar proton yang pendek namun intens di fasilitas HiRadMat CERN. Selanjutnya, sampel tersebut dipindahkan ke ISIS Neutron and Muon Source di Rutherford Appleton Laboratory, Inggris, untuk analisis struktur internal mikroskopis.
Hasilnya mengejutkan para ilmuwan. Alih-alih hancur berkeping-keping, material tersebut justru menjadi lebih kuat. Melanie Bochmann, salah satu pendiri OuSoCo, menjelaskan bahwa material tersebut menunjukkan peningkatan kekuatan luluh (yield strength) dan perilaku peredaman yang menstabilkan diri.
“Eksperimen kami menunjukkan bahwa—setidaknya untuk material asteroid yang kaya logam—perangkat yang lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya dapat digunakan tanpa memecahkan asteroid secara katastrofik,” ujar Bochmann.
Temuan ini membuka kembali opsi darurat untuk situasi yang melibatkan objek sangat besar atau waktu peringatan yang sangat singkat, di mana metode non-nuklir dianggap tidak memadai. Model komputasi saat ini sering kali berasumsi bahwa fragmentasi akan membatasi ukuran perangkat nuklir yang bisa digunakan, namun data fisik terbaru ini membantah asumsi tersebut.
Karl-Georg Schlesinger, rekan pendiri OuSoCo, menegaskan bahwa pertahanan planet adalah tantangan ilmiah yang unik karena kita tidak bisa melakukan uji coba dunia nyata sebelum ancaman sebenarnya datang. Oleh karena itu, simulasi laboratorium seperti ini sangat krusial untuk menghindari risiko hujan meteor buatan akibat kegagalan misi defleksi.
Para peneliti berencana untuk segera mendapatkan lebih banyak data. NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) sedang bersiap untuk mempelajari Apophis, sebuah asteroid raksasa dengan lebar antara 1.000 hingga 1.500 kaki. Asteroid ini diperkirakan akan melintas sangat dekat dengan Bumi—lebih dekat daripada satelit geosinkron—pada April 2029.
Langkah selanjutnya bagi tim peneliti adalah mempelajari material asteroid yang lebih kompleks. Mereka menargetkan pallasit, kelas meteorit yang terdiri dari matriks logam dengan kristal kaya magnesium yang tertanam di dalamnya. Eksperimen lanjutan ini tidak hanya berguna untuk strategi pembelokan asteroid, tetapi juga dapat memberikan wawasan berharga tentang proses pembentukan planet di masa awal tata surya.

