Ilustrasi decagon atau formasi segi sepuluh raksasa di atmosfer kutub selatan Saturnus

Saturnus Kini Punya Decagon di Kutub Selatan, Ini Fakta Terbarunya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Saturnus memiliki decagon (segi sepuluh) raksasa di kutub selatan yang terkonfirmasi pada 2025
  • Setiap sisi decagon berukuran 16.800 km, lebih panjang dari diameter Bumi
  • Decagon terbentuk dari pola awan, bukan struktur padat karena Saturnus tidak punya permukaan solid
  • Aliran jet di dekatnya mencapai 260 mph, namun pola decagon bergeser hanya 6 mph
  • Data Hubble Space Telescope menelusuri pola hingga gambar tahun 2023
  • Para ilmuwan belum menemukan penjelasan pasti tentang pembentukan decagon
  • Hipotesis utama: gelombang atmosfer raksasa yang terkungkung aliran jet
  • Penelitian lanjutan akan menggunakan teleskop Hubble dan James Webb

Telset.id – Saturnus kembali mengejutkan para astronom dengan penemuan terbaru berupa pola decagon atau bentuk segi sepuluh raksasa di atmosfer kutub selatannya. Formasi awan yang tidak biasa ini menjadi sorotan karena sebelumnya para ilmuwan hanya mengenal fenomena heksagon atau segi enam di kutub utara planet bercincin tersebut.

Fenomena decagon di Saturnus ini pertama kali terdeteksi melalui pengamatan dari permukaan Bumi, termasuk oleh para astronom amatir. Seiring bertambahnya data dan citra yang terkumpul, menjadi jelas bahwa sesuatu yang aneh terjadi di pita awan selatan Saturnus. Data dari Teleskop Luar Angkasa Hubble memungkinkan para peneliti untuk menelusuri pola tersebut hingga ke gambar yang diambil pada tahun 2023. Pemantauan berlanjut, dan pada tahun 2025, 10 sudut decagon menjadi jauh lebih jelas terdefinisi, mengonfirmasi keberadaan fitur poligonal baru di atmosfer planet bercincin ini.

Penting untuk dipahami bahwa formasi di kutub utara dan selatan Saturnus ini bukanlah struktur padat seperti dinding atau formasi batuan. Saturnus bahkan tidak memiliki permukaan padat yang jelas seperti kerak Bumi. Jika seseorang turun melalui atmosfer planet bercincin ini, tekanan dan kepadatan akan meningkat secara progresif, tetapi tidak akan pernah mencapai “tanah” untuk mendarat. Sebaliknya, yang disaksikan para astronom adalah pola yang dibentuk oleh awan, meskipun sangat tidak biasa.

Setiap sisi decagon ini berukuran sekitar 16.800 kilometer, yang beberapa ribu mil lebih panjang dari diameter Bumi. Di dekat fitur tersebut terdapat aliran jet yang mencapai kecepatan 116 meter per detik atau hampir 260 mil per jam. Sebagai perbandingan, badai Kategori 5, tingkat badai paling intens yang mungkin terjadi di Bumi, didefinisikan dengan angin di atas 157 mil per jam.

Menariknya, meskipun aliran jet bersirkulasi dengan kecepatan luar biasa, pola decagon itu sendiri bergeser hanya 2,5 meter per detik atau kurang dari 6 mil per jam. Ini menunjukkan bahwa meskipun didorong oleh arus atmosfer yang sangat kuat, struktur poligonal tersebut bergerak sangat lambat dan stabil.

Fitur di kutub selatan ini tampaknya baru terbentuk. Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mencari pasangan dari heksagon utara yang terkenal itu. Namun, misi-misi besar yang mengamati planet tersebut sebelumnya tidak dapat menemukan struktur jangka panjang yang setara di selatan. Pencarian semakin rumit karena, akibat kemiringan Saturnus, belahan bumi selatannya tidak terlihat jelas dari Bumi selama bertahun-tahun.

Sains, bagaimanapun, belum menemukan penjelasan pasti tentang bagaimana struktur-struktur ini terbentuk. Berbagai hipotesis telah diajukan sejak penemuan heksagon kutub utara. Salah satunya adalah bahwa poligon-poligon ini merupakan manifestasi terlihat dari gelombang atmosfer sangat besar yang terkungkung oleh aliran jet yang kuat, mirip dengan gelombang laut.

Perilaku gelombang berubah tergantung pada ruang di mana ia bergerak dan batas-batas yang ditemuinya. Di Saturnus, gelombang gas atmosfer mungkin menghadapi aliran jet yang mengurung mereka, seperti tepi pantai. Hanya saja dalam kasus ini, “pantai” tersebut membungkus seluruh planet. Berbagai faktor lain seperti rotasi cepat Saturnus, kecepatan angin yang tepat, dan variasi arus, semuanya dapat berkontribusi pada geometri yang berbeda dari bentuk-bentuk ini.

Arus yang melingkari planet enam kali dapat membentuk heksagon, sementara yang melakukannya 10 kali akan membentuk decagon. Ini adalah salah satu penjelasan yang paling mungkin untuk bagaimana atmosfer tanpa struktur padat bisa membentuk sesuatu yang tampak seperti poligon raksasa. Namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Para peneliti belum mengetahui seberapa dalam figur geometris ini memanjang, berapa lama decagon baru ini akan bertahan, apakah kemunculannya terkait dengan musim Saturnus, dan yang paling penting, apa yang memicu pembentukannya sejak awal. Para peneliti berharap menemukan beberapa jawaban dengan melacak evolusi decagon tersebut.

Untuk melakukannya, mereka berencana melanjutkan pengamatan dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble dan James Webb serta menggunakan model atmosfer yang lebih canggih untuk merekonstruksi kemungkinan kondisi yang dapat memunculkan struktur semacam itu. Penelitian ini membuka babak baru dalam pemahaman tentang dinamika atmosfer planet-planet raksasa gas di tata surya kita.

Penemuan decagon di Saturnus ini juga menunjukkan bahwa teknologi pengamatan dari Bumi, termasuk yang melibatkan astronom amatir, terus memainkan peran penting dalam penemuan ilmiah. Kolaborasi antara pengamat profesional dan amatir, serta dukungan teleskop luar angkasa seperti Hubble, telah membuka jendela baru untuk memahami misteri planet bercincin ini.

Meskipun penelitian tentang decagon Saturnus masih dalam tahap awal, temuan ini menegaskan bahwa atmosfer planet-planet raksasa masih menyimpan banyak misteri yang menunggu untuk diungkap. Setiap penemuan baru tidak hanya memperkaya pengetahuan kita tentang Saturnus, tetapi juga membantu kita memahami proses atmosfer yang mungkin berlaku di planet lain, termasuk exoplanet di luar tata surya kita.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.