Telset.id – Perusahaan China, Niutech, mengumumkan kontrak besar dengan perusahaan energi global anonim untuk membangun lini produksi pirolisis limbah plastik industri yang mampu menghasilkan 10.000 hingga 50.000 ton bahan bakar jet berkelanjutan (SAF) berbasis plastik setiap tahunnya. Pengumuman ini menandai langkah signifikan dalam upaya mengatasi kelangkaan bahan baku SAF sekaligus menjawab meningkatnya permintaan global akan alternatif bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan.
Lini produksi ini dirancang untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar jet melalui proses dekomposisi termal bernama pirolisis. Dalam proses tersebut, limbah plastik dipanaskan pada suhu ekstrem di lingkungan tanpa oksigen. Yang membedakan inisiatif ini dari proyek SAF berbasis plastik sebelumnya adalah seluruh proses produksi akan dilakukan dalam satu atap, sehingga mengurangi kebutuhan pengiriman dan penanganan yang mahal.
Permintaan global akan bahan bakar penerbangan berkelanjutan terus meningkat. Uni Eropa telah menetapkan target kewajiban pencampuran SAF minimum sebesar 6 persen pada 2030, yang akan naik menjadi 70 persen pada 2050. Negara-negara seperti Inggris, Singapura, Jepang, dan Brasil juga menerapkan kebijakan serupa, memberi tekanan pada pelaku perdagangan energi global untuk mengurangi ketergantungan pada minyak mentah.
SAF dapat berasal dari berbagai macam produk limbah daur ulang seperti bahan tanaman, lemak hewan, dan minyak goreng bekas. Minyak goreng bekas sendiri telah menjadi sumber utama pasokan SAF yang ada. Namun, aliran minyak goreng bekas kini semakin menipis karena para pengilang berlomba-lomba mengamankan pasokan bahan baku tersebut.
Di sinilah Niutech berperan. Perusahaan asal China ini mengumumkan akan membangun lini produksi pirolisis limbah plastik yang mampu mengolah berbagai jenis plastik seperti polietilen, nilon, polipropilen, dan ABS. Menariknya, proses ini disebut tidak memerlukan perlakuan awal yang rumit seperti pencucian, pemilahan, atau pengeringan, sehingga menyederhanakan proses kompleks pemilahan plastik dan konversinya menjadi minyak yang dapat dimurnikan dalam skala besar.

Pirolisis sebenarnya bukan teknologi baru, namun penggunaannya masih terbilang khusus dalam industri daur ulang plastik skala industri. Agar pendekatan ini dapat memenuhi kebutuhan SAF yang terus meningkat, teknologi tersebut harus berkembang melampaui ranah startup ramah lingkungan kecil menjadi standar industri yang diterima secara luas. Inilah yang tampaknya menjadi tujuan Niutech.
Baca Juga:
Teknologi Pirolisis yang Terbukti
Niutech mengklaim telah berfokus pada teknologi pirolisis selama hampir 40 tahun. Pengalaman panjang ini menjadi modal utama perusahaan dalam menghadirkan peralatan yang matang dan pengalaman proyek yang ekstensif. Proyek pirolisis skala besar menuntut kemampuan operasional berkelanjutan yang ketat, dan Niutech menilai kemitraan ini menjadi validasi atas kekuatan teknologi industri berkelanjutan mereka.
“Proyek pirolisis skala besar memberlakukan persyaratan ketat pada kemampuan operasional berkelanjutan,” ujar juru bicara Niutech dalam siaran pers perusahaan. “Niutech telah berfokus pada teknologi pirolisis selama hampir 40 tahun dan menghadirkan peralatan yang matang serta pengalaman proyek yang ekstensif. Kemitraan ini merupakan validasi lain dari kekuatan teknologi industri berkelanjutan kami.”
Keberhasilan proyek ini akan menjadikan fasilitas tersebut sebagai sumber pasokan SAF berbasis plastik yang konstan bagi industri penerbangan global. Selain itu, proyek ini juga berpotensi menjadi model percontohan bagi pengilangan lain yang ingin mengadopsi pendekatan serupa dalam memproduksi bahan bakar berkelanjutan.
Langkah Niutech ini sejalan dengan tren perusahaan China yang semakin agresif dalam mengembangkan teknologi ramah lingkungan. China sendiri telah menunjukkan komitmen kuat dalam transisi energi, termasuk dalam pengembangan kendaraan listrik dan infrastruktur pendukungnya.
Dampak bagi Industri Penerbangan
Kontrak besar ini datang di saat industri penerbangan global tengah berupaya keras mengurangi jejak karbon. Dengan adanya sumber SAF baru yang berasal dari limbah plastik, industri penerbangan memiliki alternatif bahan baku yang lebih stabil dibandingkan mengandalkan minyak goreng bekas yang pasokannya semakin terbatas.
Limbah plastik sendiri merupakan masalah lingkungan yang mendunia. Dengan mengubahnya menjadi bahan bakar yang dapat digunakan, pendekatan ini menawarkan solusi dua-in-satu: mengurangi tumpukan sampah plastik sekaligus menyediakan bahan bakar yang lebih bersih untuk industri penerbangan.
Meski demikian, teknologi pirolisis untuk mengubah plastik menjadi bahan bakar masih menghadapi tantangan dalam hal skala dan efisiensi. Proyek Niutech ini akan menjadi ujian nyata apakah pendekatan ini layak diterapkan secara luas. Jika berhasil, fasilitas ini dapat menjadi blueprint bagi pengembangan fasilitas serupa di berbagai belahan dunia.
Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati mengingat dominasi teknologi China yang terus meluas di berbagai sektor. Dari kecerdasan buatan hingga energi terbarukan, perusahaan-perusahaan China semakin menunjukkan kapabilitas mereka dalam menghadirkan solusi inovatif berskala besar.
Keberhasilan Niutech dalam mengamankan kontrak dengan perusahaan energi global anonim menunjukkan kepercayaan pasar internasional terhadap teknologi yang mereka kembangkan. Meskipun identitas mitra industri tersebut tidak diungkapkan, besarnya skala kontrak mengindikasikan keseriusan kedua belah pihak dalam mewujudkan produksi SAF berbasis plastik secara komersial.





Komentar
Belum ada komentar.