Robot Proteus Amazon yang bisa diarahkan dengan perintah suara bahasa alami di gudang fulfillment

Robot Amazon Bisa Diajak Bicara Bahasa Manusia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • Amazon menghadirkan robot gudang Proteus yang bisa diarahkan dengan bahasa sehari-hari
  • Robot ini menggunakan AI untuk memahami prioritas, rute, dan waktu secara otomatis
  • Awalnya hanya beroperasi di area dermaga, kini bisa bekerja di seluruh area gudang
  • Rencana penggunaan di Eropa dimulai paruh pertama 2027
  • Amazon juga akan memperkenalkan robot Stark untuk menangani wadah kecil
  • Klaim robot tidak menggantikan pekerja, namun PHK 30.000 karyawan terjadi dalam setahun terakhir
  • Data menunjukkan Amazon menyumbang 56% cedera serius di gudang AS pada 2024

Telset.id – Amazon menghadirkan pembaruan signifikan pada robot gudangnya, Proteus, yang kini mampu diarahkan oleh pekerja menggunakan bahasa sehari-hari. Inovasi ini memungkinkan interaksi yang lebih alami antara manusia dan mesin di pusat fulfillment.

Sebelumnya, perintah untuk robot-robot semacam itu memerlukan perangkat lunak khusus. Kini, berkat peningkatan kecerdasan buatan (AI), karyawan cukup memberikan instruksi verbal langsung. “You tell it what needs to be done. It figures out the priority, the route, the timing,” ujar Scott Dresser, VP Amazon Robotics, seperti dikutip dari rilis perusahaan.

Proteus sendiri memiliki bentuk seperti Roomba bertenaga besar, dirancang untuk memindahkan gerobak berat dan menempuh jarak jauh. Kemampuan baru ini membuatnya bisa beroperasi di seluruh area gudang, bukan hanya terbatas di area dermaga seperti sebelumnya. Robot ini dapat mengangkut kontainer yang baru tiba, memindahkannya antar stasiun kerja, hingga membantu karyawan dalam tugas sehari-hari.

Saat ini, Amazon masih menguji sistem baru tersebut di laboratoriumnya. Namun, rencana ekspansi sudah disiapkan, dengan target penggunaan di Eropa pada paruh pertama 2027. Selain Proteus, Amazon juga berencana memperluas penggunaan robot sentuh Vulcan dan memperkenalkan robot baru bernama Stark yang dirancang khusus untuk menangani wadah kecil (totes) dengan presisi tinggi.

Amazon menyatakan bahwa robot-robot ini akan membantu karyawan fokus pada pekerjaan dengan keterampilan lebih tinggi, seperti mengelola aliran inventaris dan memastikan kontrol kualitas. Perusahaan juga mengklaim bahwa sistem ini meningkatkan keselamatan dan mengurangi pekerjaan repetitif.

Menariknya, Amazon menegaskan bahwa robot tidak menggantikan pekerjaan manusia. Perusahaan justru mengumumkan rencana menambah 25.000 tenaga kerja di gudang Eropa dalam beberapa tahun mendatang. “Since introducing robotics into its operations, Amazon has hired hundreds of thousands of employees globally,” tulis perusahaan.

Namun, data menunjukkan sisi lain. Amazon telah melakukan PHK terhadap hampir 30.000 pekerja dalam setahun terakhir di berbagai unit bisnisnya, termasuk ritel, web services, dan Prime Video. Catatan keselamatan kerja juga menjadi sorotan. Laporan Strategic Organizing Center tahun lalu menyebutkan bahwa pada 2024, Amazon mempekerjakan 39 persen pekerja gudang di AS, tetapi menyumbang 56 persen dari cedera serius.

Kehadiran robot yang bisa diajak bicara ini membuka babak baru dalam otomatisasi gudang. Namun, AI Image Search di aplikasi belanja menunjukkan bahwa Amazon terus mendorong batas teknologi. Di sisi lain, Fitur Terbaru ini juga memicu pertanyaan tentang dampaknya terhadap tenaga kerja.

Bagi para pekerja, teknologi ini bisa menjadi alat bantu yang mengurangi beban fisik. Namun, bagi pengamat industri, langkah ini menegaskan bahwa Investasi Amazon di bidang otomatisasi tidak akan berhenti. Implikasinya jelas: masa depan logistik akan semakin bergantung pada kolaborasi manusia dan robot cerdas.

Komentar

Belum ada komentar.