📑 Daftar Isi

Robot humanoid Phantom MK-1 buatan Foundation Future Industries dikerahkan ke medan perang Ukraina

Robot Humanoid Phantom MK-1 Dikerahkan ke Medan Perang Ukraina

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Foundation Future Industries kirim dua unit robot humanoid Phantom MK-1 ke Ukraina
  • Pengerahan perdana robot berbentuk manusia di teater pertempuran aktif
  • Robot masih terbatas pada tugas logistik dengan kapasitas angkut 20 kg
  • Foundation dapat kontrak penelitian militer AS senilai USD 24 juta
  • Phantom 2 direncanakan dikirim dengan kapasitas muatan dua kali lipat
  • Kehadiran Eric Trump picu kontroversi dan tuduhan korupsi
  • China juga dilaporkan mengembangkan robot humanoid untuk militer

Telset.id – Foundation Future Industries, sebuah startup robotika asal San Francisco, telah mengirimkan dua unit robot humanoid Phantom MK-1 ke Ukraina. Langkah ini menandai pengerahan perdana robot berbentuk manusia di teater pertempuran aktif, membawa perang modern selangkah lebih dekat ke skenario fiksi ilmiah.

CEO Foundation Future Industries, Sankaet Pathak, menyatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah menciptakan mesin yang mampu mengambil alih peran berbahaya dari manusia, khususnya untuk misi-misi di zona konflik. Startup yang didirikan pada tahun 2024 ini kini mencetak sejarah dengan mengirimkan robot humanoid pertamanya ke zona perang.

Masih Sebatas Kurir Logistik, Belum Menjadi ‘Mesin Pembunuh’

Medan perang Ukraina belakangan ini memang menjadi arena uji coba berbagai teknologi militer mutakhir, mulai dari drone canggih, kecerdasan buatan (AI), hingga Robot Anjing. Kini, robot humanoid turut masuk dalam daftar tersebut.

Berdasarkan uji coba di Ukraina, kemampuan Phantom MK-1 saat ini masih berfokus pada tugas logistik, seperti mengambil dan mengantar pasokan. Robot ini masih memiliki sejumlah keterbatasan teknis: kapasitas angkut maksimal hanya sekitar 20 kilogram, belum mengantongi sertifikasi tahan air, dan daya tahan baterai masih kurang memadai untuk pengerahan skala besar.

Robot Phantom MK-1

Namun, perusahaan tidak berhenti sampai di situ. Foundation berencana untuk mengirimkan generasi penerusnya, Phantom 2, ke Ukraina pada tahun ini. Model terbaru ini diklaim memiliki “kemampuan super” dengan kapasitas muatan dua kali lipat lebih besar dari pendahulunya. Perusahaan juga tengah mengembangkan robot dengan Bentuk Paling Sempurna untuk aplikasi militer.

Incar Garis Depan Militer AS dan Picu Kontroversi

Ambisi militer Foundation telah jauh melampaui sekadar tahap perencanaan. Perusahaan dilaporkan telah mengantongi kontrak penelitian pemerintah Amerika Serikat senilai USD 24 juta (sekitar Rp 390 miliar). Kontrak ini melibatkan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara AS untuk menguji kelayakan robot dalam hal inspeksi area berbahaya, logistik dan suplai amunisi, serta penanganan senjata (weapons handling).

Pathak menargetkan agar robot-robot produksinya siap diuji di garis depan bersama militer AS dalam kurun waktu 12 hingga 18 bulan ke depan, sekaligus meningkatkan skala produksinya hingga ribuan unit pada tahun ini.

Di balik inovasi canggihnya, perusahaan ini juga tengah disorot secara politik. Kehadiran Eric Trump yang baru-baru ini bergabung sebagai Kepala Penasihat Strategi perusahaan telah memicu tuduhan korupsi dan kritik tajam dari Senator Demokrat, Elizabeth Warren.

Bayang-bayang Perang Otonom di Masa Depan

AS bukan satu-satunya negara yang gencar menguji aplikasi militer dari robot humanoid. China, yang saat ini diyakini lebih unggul dalam skala manufaktur, efisiensi biaya, dan kecepatan komersialisasi, juga telah merilis sejumlah laporan terkait potensi mesin humanoid untuk peperangan.

Tren ini memicu kekhawatiran global yang semakin membesar. Dengan hadirnya agen AI yang mendorong senjata otonom penuh (fully autonomous weapons)—seperti kapal perang nirawak hingga jet tempur yang dikendalikan AI—potensi penghapusan manusia dari rantai keputusan mematikan (kill-chain) menjadi isu etis yang sangat serius.

Generasi pertama robot humanoid mungkin saat ini hanya terlihat tertatih-tatih di medan perang sambil membawa ransum dan amunisi, namun arah perkembangan teknologi ini di masa depan menjadi peringatan yang patut diwaspadai, demikian dikutip detikINET dari CNBC, Rabu (3/6/2026).

Komentar

Belum ada komentar.