📑 Daftar Isi

Ilustrasi kursi rebahan di dalam kabin mobil otonom Tesla Cybercab yang tengah ditinjau standar keselamatannya oleh NHTSA.

Regulator AS Kaji Ulang Standar Kursi Rebahan untuk Mobil Otonom

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • NHTSA meninjau ulang standar keselamatan kursi rebahan untuk mobil otonom
  • Data federal AS catat 42 korban tewas dengan posisi kursi rebahan dalam satu dekade
  • Sabuk keselamatan berisiko melukai perut, panggul, dan organ dalam saat posisi rebahan
  • Tesla sarankan sandaran kursi Cybercab maksimal 35 derajat dari vertikal
  • China berpotensi jadi negara pertama yang wajibkan uji tabrak posisi rebahan

Telset.id – National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) mulai meninjau ulang standar keselamatan kursi rebahan yang selama ini menjadi celah risiko pada mobil otonom seperti Tesla Cybercab. Langkah ini muncul setelah data federal Amerika Serikat mencatat 42 orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas selama satu dekade terakhir dengan keterangan “seat back not in normal upright position, seat back reclined”. Regulator kini mempertimbangkan ulang aturan yang dibangun dengan asumsi penumpang selalu duduk tegak.

Pemicu utamanya adalah kehadiran kendaraan tanpa pengemudi. Dalam pernyataan resmi kepada WIRED, juru bicara NHTSA menyebut pihaknya memilih posisi penumpang rebahan sebagai titik awal eksplorasi keselamatan penumpang kendaraan otomatis. Alasannya, penumpang berpotensi memilih duduk dengan posisi rebahan ketika mengemudi tidak lagi diperlukan. Namun, menurut NHTSA, data lapangan untuk penumpang dengan posisi rebahan masih sangat minim.

Angka 42 korban itu sendiri dianggap sebagai hitungan yang lebih rendah dari kondisi sebenarnya. Becky Mueller, senior research engineer di Insurance Institute for Highway Safety (IIHS), menjelaskan bahwa setelah kecelakaan, identifikasi posisi duduk korban sangat sulit dilakukan. Kecelakaan mengubah posisi tubuh manusia, sementara tim penyelamat bergerak cepat mengevakuasi korban dari kendaraan yang rusak. Hampir tidak ada yang mencatat, atau bahkan punya cara mencatat, bagaimana korban duduk sebelum atau saat kecelakaan terjadi.

Risiko Sabuk Keselamatan di Posisi Rebahan

Masalah intinya ada pada desain sabuk keselamatan. Sabuk dirancang untuk dipakai pada tubuh yang duduk tegak dan menghadap ke depan. Ketika tubuh dalam posisi rebahan atau menyamping mengalami kecelakaan, sabuk tidak bekerja sesuai peruntukannya. Sabuk mengencang di area perut yang lunak, bukan di panggul yang keras dan bertulang. Tekanan keras itu berpotensi menyebabkan pendarahan internal, cedera tulang belakang bagian bawah, cedera panggul, hingga kerusakan organ dalam.

Kerusakan pada kaki bagian bawah dan telapak kaki lebih sering terjadi ketika sabuk keselamatan tidak dipakai dengan benar. Meski penumpang bisa pulih, cedera jenis ini termasuk yang paling melemahkan karena memengaruhi mobilitas harian. Untuk membantu penumpang tidur, Tesla bahkan mendemonstrasikan bahwa kursi Cybercab dapat direbahkan. Namun dalam panduan resmi penumpang Cybercab, Tesla menyatakan penumpang di kendaraan otonomnya sebaiknya menjaga sandaran kursi tidak lebih dari 35 derajat dari posisi vertikal, dengan sabuk terpasang kencang di pinggul dan kaki menapak rata di lantai. Langkah itu, menurut Tesla, mengurangi risiko cedera saat tabrakan atau pengereman mendadak. Tesla tidak merespons pertanyaan WIRED untuk artikel ini.

Baca Juga:

Standar keselamatan kendaraan yang wajib dipenuhi produsen saat ini umumnya mengasumsikan penumpang duduk tegak dengan sabuk melintang di pinggul. Airbag dikonfigurasi untuk posisi duduk seperti itu. Bahkan boneka uji tabrak yang dipakai dalam crash test memiliki panggul yang kaku, sehingga secara fisik tidak bisa membungkuk. Untuk membuat standar baru, studi harus diusulkan, didanai, diselesaikan, dan dianalisis. Setelah itu, pemerintah mengumpulkan komentar publik dari berbagai pihak.

Mueller menyebut proses berbelit itu sebagai alasan utama regulasi sulit dibuka kembali. Menurutnya, kendaraan otonom akhirnya meyakinkan regulator untuk membuka sejumlah aturan kuno dan melakukan modifikasi. Modifikasi itu dinilai bisa membantu memodernisasi regulasi untuk kendaraan lain juga. “Ini waktu yang tepat untuk membuat perubahan besar,” ujarnya.

Uji Tabrak dan Persaingan Regulasi Global

Perusahaan yang ingin mengoperasikan mobil swakemudi dengan konfigurasi kursi berbeda saat ini umumnya memilih menempuh proses panjang untuk mendapat persetujuan khusus pemerintah. Zoox, anak perusahaan Amazon, mencoba melakukan self-certify pada 2022 bahwa kendaraannya memenuhi standar keselamatan, tetapi pemerintah federal tidak menerimanya. Pada musim gugur 2025, Zoox resmi mengajukan persetujuan khusus. Prosesnya memakan waktu berbulan-bulan, dan Zoox menerima izin pada musim panas tahun ini untuk menggunakan hingga 5.000 kendaraan dalam layanan robotaxi selama dua tahun. Tesla juga tengah berupaya melakukan self-certify untuk Cybercab, dan NHTSA saat ini menyelidiki isu tersebut.

Pemerintah mencari solusi yang lebih permanen. Dalam laporan Maret kepada Kongres, NHTSA menyatakan penelitinya setidaknya sedang menelaah cara mencegah cedera yang terjadi pada mobil, khususnya mobil tanpa pengemudi, ketika penumpang tidak duduk persis seperti yang diasumsikan standar saat ini. Agensi itu, menurut laporan tersebut, terus menyempurnakan pemahaman soal kinematika respons manusia dan cedera untuk penumpang berbagai ukuran dalam kondisi kursi rebahan menghadap depan maupun belakang. Salah satu area studi adalah boneka uji tabrak canggih yang dirancang untuk diuji dengan sabuk keselamatan dan kondisi kursi yang ditemukan di kendaraan otonom.

Humanetics, produsen boneka uji tabrak terbesar di dunia, menggarap area ini. Boneka buatannya bersama sejumlah kecil produsen global lain disebut THOR, atau Test device for Human Occupant Restraint. Uji tabrak dengan THOR sudah tertulis dalam standar keselamatan kendaraan di sejumlah negara, dan banyak program uji tabrak konsumen memakai perangkat itu. Boneka Humanetics tersedia dalam berbagai ukuran, dengan model untuk usia dan jenis kelamin yang berbeda. Boneka modern ini berharga ratusan ribu dolar, meniru respons tubuh manusia, dan dipenuhi sensor yang mengukur setiap gerakan.

Sejak 2019, Humanetics menguji THOR-AV, lini baru boneka dan alat simulasi online yang dikembangkan khusus untuk menguji desain dan postur kursi pada mobil tanpa pengemudi. THOR-AV memiliki panggul yang lebih fleksibel dibanding THOR lain dan dapat disesuaikan pada sudut 25, 45, dan 65 derajat. Namun saat ini belum ada regulator atau kelompok keselamatan independen yang mewajibkan uji tabrak dengan boneka THOR-AV, kata Chris O’Connor, presiden dan CEO Humanetics. Ia memperkirakan negara pertama yang mewajibkan produk uji tabrak baru itu bukan Amerika Serikat, melainkan China.

Menurut O’Connor, China bergerak lebih cepat dari siapa pun dan ingin dianggap sebagai pemimpin keselamatan. CCARI, badan sertifikasi China, telah menjalankan ratusan tes dengan boneka THOR-AV. Ia memperkirakan China akan mewajibkan uji tabrak posisi rebahan dalam dua atau tiga tahun. Negara-negara Eropa yang menjual kendaraan ke China mau tidak mau harus mengikuti, dan O’Connor menyebut produsen mobil di sana sudah mulai bekerja dengan boneka uji tabrak baru itu untuk bersiap.

Regulator otomotif China juga mengusulkan aturan baru pada Juni yang menindak apa yang disebut “zero-gravity seats”, desain populer yang kini ada di puluhan model mobil China, tempat kursi merebah tajam untuk mendistribusikan berat tubuh lebih merata sehingga penumpang lebih mudah tidur selama perjalanan. Aturan yang diusulkan akan mencegah kursi pengemudi merebah lebih dari 35 derajat dan mewajibkan peringatan risiko jika kursi direbahkan saat kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi.

O’Connor menilai Amerika Serikat justru sangat sedikit melakukan langkah serupa. Ia khawatir kendaraan otonom malah memundurkan standar keselamatan, mungkin lebih dari satu dekade. Selama bertahun-tahun, pengembang teknologi dan produsen mobil menjanjikan teknologi yang tidak mabuk, tidak terpengaruh obat, dan tidak mengantuk sudah dekat. Regulator pun enggan menyesuaikan apa pun karena keselamatan jalan robotik yang sempurna dianggap sudah di depan mata. Namun kenyataannya tidak demikian, dan pemerintah kini mengejar ketertinggalan.

Alex Mueller, senior research scientist di IIHS yang meneliti teknologi bantuan pengemudi dan otomasi, mengikuti proses revisi standar keselamatan kendaraan AS dengan saksama. Ia bukan kerabat rekannya di IIHS, Becky Mueller. Administrasi Trump tengah merampingkan dan memperbarui aturan agar mobil swakemudi lebih mudah dan cepat masuk ke jalan publik. Alex Mueller merasa agak khawatir. Menurutnya, modernisasi tidak bisa dijadikan alasan untuk menghapus standar keselamatan inti yang terbukti penting bagi keselamatan publik. Mobil tanpa pengemudi mungkin lebih aman dalam beberapa hal, tetapi begitu ada yang diubah dari sistem keselamatan—menghilangkan setir, membiarkan penumpang menghadap arah berlawanan, atau merebahkan kursi hingga horizontal—seluruh sistemnya harus ditinjau ulang. “Kita tidak bisa membuang bayi bersama air mandinya,” ujarnya.

Bagi penumpang yang terbiasa menghabiskan waktu di dalam kendaraan, perubahan aturan ini akan menentukan seberapa bebas posisi duduk yang bisa diambil tanpa mengorbankan keselamatan. Perkembangan standar uji tabrak, termasuk langkah yang tengah dikaji lewat panduan self-hosting untuk kebutuhan simulasi dan pengujian digital, menunjukkan bahwa keselamatan kendaraan otonom kini bergerak dari sekadar klaim teknologi menuju pembuktian regulasi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.