📑 Daftar Isi

Ilustrasi satelit di orbit Bumi yang menggambarkan kekhawatiran RAND soal pembangunan ulang satelit perang AS

RAND: AS Kesulitan Ganti Satelit Perang Karena Krisis Tenaga Kerja

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Laporan RAND "Breaking Glass, Missing Hands" menyoroti kekurangan tenaga kerja kontraktor antariksa sipil AS
  • AS dinilai tak mampu bangun ulang satelit hilang dalam 12-24 bulan setelah perang dengan Rusia atau China
  • Kekurangan mencakup insinyur, teknisi terampil, dan spesialis electro-optical sensing serta radiation hardening
  • Rasio kekurangan tenaga kerja mencapai 19:1 untuk teknisi ruang bersih, tukang las, dan penyolder
  • Keterlambatan izin keamanan Secret rata-rata 87 hari dan Top Secret hampir enam bulan
  • Rekomendasi RAND hanya sekitar 4 juta dolar AS per tahun untuk beasiswa dan magang
  • Target Gedung Putih 1.000 peluncuran pada 2030 berisiko terhambat tanpa tenaga kerja memadai

Telset.id – Amerika Serikat berpotensi kesulitan membangun ulang satelit yang hilang dalam perang antariksa karena kekurangan tenaga kerja terampil. Temuan ini tertuang dalam laporan terbaru berjudul “Breaking Glass, Missing Hands” yang disponsori oleh Vice Chief of Space Operations dan disusun oleh RAND Project AIR FORCE, pusat penelitian yang didanai federal di bawah Department of the Air Force, sebagai bagian dari proyek fiskal 2024 bertajuk “In Emergency, Break Glass.”

Laporan tersebut tidak berfokus pada tenaga kerja internal Department of the Air Force atau pegawai sipil Space Force. Sebaliknya, laporan ini menyoroti kekurangan di sektor sipil, khususnya pada kontraktor antariksa yang menjadi tulang punggung produksi satelit militer AS.

RAND menilai bahwa tenaga kerja kontraktor antariksa sipil di AS tidak mampu mendukung pembangunan ulang satelit yang hilang dalam rentang 12 hingga 24 bulan setelah perang dengan Rusia atau China. Tolok ukur waktu tersebut didasarkan pada asumsi dan perhitungan RAND sendiri terkait perang berkepanjangan dengan salah satu kekuatan super regional itu.

A satellite in orbit around the earth

Tiga Kelompok Pekerja yang Paling Terdampak

Laporan RAND mengidentifikasi kekurangan pada tiga kelompok pekerja. Pertama, insinyur dengan gelar sarjana atau lebih tinggi. Kedua, tenaga kerja terampil atau skilled touch labor yang mencakup teknisi dan perakit. Ketiga, spesialis bergelar lanjutan di bidang electro-optical sensing dan radiation hardening.

Ketiganya bukan kelompok yang mudah digantikan atau direplikasi dalam waktu singkat. Namun, target 12 hingga 24 bulan merupakan penilaian RAND sendiri di industri yang rata-rata membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk mengganti satelit.

Yang paling dikhawatirkan laporan ini, menariknya, bukanlah para ilmuwan. RAND justru menyoroti teknisi ruang bersih (cleanroom technicians), tukang las, dan penyolder karena kekurangan tenaga kerja yang sudah terjadi saat ini. Rasio kekurangan tersebut mencapai sekitar sembilan belas lowongan untuk satu individu yang memenuhi kualifikasi.

RAND juga mencatat bahwa persyaratan formal semacam ini belum pernah ada. Pembentukan Space Force pada 2019 disebut bisa dibaca sebagai pengakuan implisit atas ketergantungan jangka pendek pada antariksa.

Hambatan Izin Keamanan dan Rekomendasi RAND

Masalah ini diperparah oleh upaya RAND menetapkan standar yang terbilang agresif, sementara Pentagon belum mendefinisikannya secara formal. Laporan itu juga menyebut keterlambatan izin keamanan sebagai penghambat perekrutan. Investigasi awal untuk tingkat Secret rata-rata memakan waktu lebih dari 87 hari pada fiskal 2024, sementara kasus Top Secret mendekati enam bulan.

RAND mencatat bahwa dalam konflik di mana musuh dapat menghancurkan sistem lebih cepat daripada kemampuan AS meluncurkan penggantinya, membangun replika persis dengan kerentanan yang sudah diketahui mungkin tidak banyak membantu, terutama dalam perang berkepanjangan.

Untuk masalah yang digambarkan besar itu, RAND menawarkan solusi yang terbilang kecil. Rekomendasinya mencakup biaya sekitar 4 juta dolar AS per tahun untuk beasiswa dan magang, 1 juta dolar AS per tahun untuk penjangkauan dan rekrutmen, serta 800.000 dolar AS sekali keluaran untuk studi kelayakan pelatihan ulang pekerja dari industri yang berdekatan.

Jumlah tersebut sangat kecil dibandingkan dengan sekitar 32 miliar dolar AS yang diperkirakan dimiliki US Space Force pada Fiskal 2027. Angka itu hanya setara 0,016 persen dari total tersebut, dan 0,003 persen dari 185 miliar dolar AS yang dialokasikan untuk proyek Golden Dome.

Northrop Grumman Mission Robotic Vehicle (MRV)

Namun, perang mungkin tidak diperlukan untuk memperparah masalah ini. Kebijakan transportasi antariksa Gedung Putih yang dirilis pada Agustus menargetkan lebih dari 1.000 peluncuran dan masuk kembali pada 2030, naik dari sekitar 200 per tahun saat ini. Lonjakan di masa perang tanpa karyawan yang memadai, baik yang sedang dilatih maupun dalam cadangan, hanya akan semakin mempersulit target tersebut.

Krisis tenaga kerja ini menyoroti kerentanan rantai pasok pertahanan antariksa AS yang bergantung pada keterampilan khusus. Tanpa percepatan pelatihan dan rekrutmen, kemampuan membangun ulang aset satelit dalam skenario konflik akan tetap menjadi titik lemah yang signifikan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.