Ilustrasi konsep rongga atau area dengan radiasi kosmik rendah di orbit Bulan yang melindungi astronot.

Radiasi Kosmik di Bulan Turun 20% Saat Pagi, Temuan Baru untuk Misi Artemis

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:30 Maret 2026
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Sebuah “rongga” atau area dengan radiasi kosmik yang jauh lebih rendah telah ditemukan di orbit Bulan, memberikan jendela waktu yang aman bagi astronot untuk melakukan aktivitas di permukaan satelit Bumi. Temuan ini, berdasarkan data dari misi Chang’e-4 China, mengungkap bahwa medan magnet Bumi melindungi Bulan lebih jauh dari perkiraan sebelumnya, terutama beberapa jam setelah matahari terbit di sana.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances oleh tim internasional, termasuk profesor Robert Wimmer-Schweingruber dari Universitas Kiel, menganalisis pengukuran dari instrumen Lunar Lander Neutron and Dosimetry di wahana Chang’e-4. Mereka menemukan penurunan fluks radiasi kosmik galaksi (GCR) yang signifikan di sektor sebelum tengah hari dalam orbit Bulan. “Rongga ini menunjukkan bahwa pengaruh medan magnet Bumi dalam lingkungan luar angkasa meluas secara tak terduga hingga dan jauh melampaui orbit Bulan,” tulis para peneliti dalam makalahnya.

Wimmer-Schweingruber mengungkapkan kejutan atas temuan ini. “Saya tidak menyangka akan melihat ‘bayangan’ atau rongga ini,” katanya kepada Live Science. “Ini sangat masuk akal dalam retrospeksi, tetapi saya sangat skeptis ketika pertama kali melihat hasil ini.”

Rongga pelindung radiasi ini terbentuk berkat perisai medan magnet Bumi, yang menciptakan area dengan intensitas radiasi lebih rendah. Ilustrasi dari penelitian menunjukkan bagaimana “rongga radiasi kosmik galaksi” terbentuk sebagai garis cahaya lebih terang di sepanjang aliran partikel dari Matahari, tepat sebelum fajar di Bulan.

Ilustrasi rongga radiasi kosmik di orbit Bulan

Implikasi temuan ini untuk perjalanan ruang angkasa masa depan dinilai cukup besar. Data menunjukkan bahwa periode aman ini terjadi selama sekitar dua hari Bumi dalam setiap revolusi Bulan, yang setara dengan satu hari lunar (29,5 hari Bumi). Selama jendela waktu itu, tingkat radiasi yang menghantam permukaan Bulan bisa turun sekitar 20 persen dibandingkan tingkat rata-ratanya.

“Temuan ini memberikan strategi potensial untuk perencanaan misi, terutama untuk misi lunar berawak dan aktivitas ekstrakendaraan, karena operasi dapat dijadwalkan bertepatan dengan periode radiasi yang lebih rendah ini untuk mengurangi risiko paparan,” simpul para peneliti. Wimmer-Schweingruber menambahkan bahwa pagi hari di Bulan adalah waktu terbaik untuk ekskursi, mengacu pada penurunan radiasi tersebut.

Penemuan ini datang pada saat yang krusial, mengingat NASA terus mendorong kehadiran permanen di Bulan melalui program Artemis. Misi Artemis berikutnya, Artemis 2, yang dijadwalkan meluncur dalam waktu dekat, akan membawa astronot melampaui Bulan, menempatkan mereka pada paparan radiasi ruang angkasa yang lebih tinggi. Kekhawatiran utama adalah bahwa sinar kosmik ini dapat menembus tubuh astronot, merusak DNA, dan meningkatkan risiko kanker.

Temuan dari Chang’e-4 ini menantang asumsi lama bahwa radiasi “terdistribusi secara seragam di seluruh jarak Bumi-Bulan.” Sebelumnya, diketahui bahwa Bulan memiliki tingkat radiasi berbahaya yang jauh lebih tinggi daripada Bumi karena tidak memiliki medan magnet global dan atmosfer yang signifikan untuk perlindungan.

Para peneliti berharap studi lebih lanjut dengan dataset yang diperluas dapat mengklarifikasi sejauh mana ruang dan perilaku rongga ini, menawarkan wawasan yang lebih dalam tentang strategi perlindungan radiasi. “Tidak hanya untuk sistem Bumi-Bulan,” tambah mereka, “tetapi berpotensi untuk misi di dekat benda-benda termagnetisasi lain dalam Tata Surya.”

Persaingan untuk kembali ke Bulan semakin intens, dengan AS dan China meningkatkan upaya mereka untuk mengirim astronot. Informasi tentang jendela radiasi rendah ini dapat menjadi pertimbangan vital dalam logistik misi, mulai dari penjadwalan jalan-jalan di luar kendaraan hingga durasi misi permukaan. Persiapan teknis untuk eksplorasi lunar juga terus berjalan, termasuk pengembangan perangkat keras khusus seperti ban khusus untuk mobil penjelajah Bulan yang dirancang oleh Bridgestone.

Selain misi berawak, eksplorasi robotik ke benda langit lain juga mendapat perhatian. Sebagai contoh, prototipe robot NASA sedang dipersiapkan untuk menjelajahi bulan es Jupiter, Europa, dalam pencarian kehidupan asing. Sementara itu, debat publik tentang pencapaian masa lalu seperti misi Apollo 11 terkadang masih muncul, menggarisbawahi pentingnya transparansi dan sains yang solid dalam eksplorasi ruang angkasa.

Dengan temuan rongga radiasi ini, perencana misi masa depan memiliki data baru yang dapat dimanfaatkan untuk memitigasi salah satu bahaya terbesar dalam eksplorasi ruang angkasa manusia, membuka jalan yang sedikit lebih aman untuk kembalinya manusia ke Bulan dan seterusnya.