Ilustrasi Fourier pixel yang mampu mengendalikan dan menganalisis cahaya secara bersamaan

Pixel Revolusioner Bisa Ubah Layar Jadi Kamera

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Peneliti ETH Zurich mengembangkan Fourier pixel yang bisa mengendalikan dan menganalisis cahaya secara bersamaan
  • Teknologi ini memungkinkan layar gadget masa depan berfungsi ganda sebagai kamera
  • Pixel berbasis prinsip interferensi gelombang cahaya dan diukir pada skala nanometer
  • Saat ini masih memerlukan laser dan hanya bisa menampilkan gambar statis
  • Publik khawatir tentang potensi penyalahgunaan untuk pengawasan
  • Aplikasi potensial termasuk optik adaptif, tampilan holografik, dan komunikasi optik

Telset.id – Para peneliti dari ETH Zurich, Swiss, berhasil mengembangkan jenis pixel baru yang mampu mengendalikan dan menganalisis cahaya secara bersamaan. Temuan ini membuka jalan bagi layar gadget masa depan yang juga berfungsi sebagai kamera.

Pixel revolusioner ini, yang dinamakan Fourier pixel, dapat membaca intensitas, osilasi, fase, dan polarisasi cahaya. Kemampuan bidirectional ini memungkinkan satu pixel untuk menampilkan gambar sekaligus menangkap cahaya yang datang, sebuah lompatan besar dari teknologi layar konvensional yang hanya bisa menampilkan gambar.

Teknologi ini didasarkan pada prinsip fisika interferensi gelombang cahaya. Pixel dibuat dengan ukuran nanometer dan diukir secara presisi untuk mengarahkan cahaya yang mengenainya. Saat cahaya bergerak melintasi pixel dan dipantulkan kembali untuk menciptakan gambar, analisis terhadap cahaya yang masuk juga dapat dilakukan secara simultan.

Pendekatan ini, menurut para peneliti dalam jurnal Nature, “menetapkan arsitektur universal yang terukur untuk pixel yang dapat diprogram secara vektorial dengan aplikasi dalam optik adaptif, tampilan holografik, komunikasi optik, dan pemrosesan informasi kuantum.”

Meskipun menjanjikan, teknologi ini masih dalam tahap awal. Saat ini, pixel tersebut memerlukan sumber cahaya laser dan hanya dapat menampilkan gambar yang tetap, tidak seperti layar TV yang bisa menampilkan konten apa pun. Namun, ada beberapa jalur potensial untuk mengembangkan teknologi ini ke arah yang lebih fleksibel.

Reaksi publik di Reddit menunjukkan kekhawatiran yang langsung tertuju pada potensi pengawasan. “Layar yang juga kamera, apa yang bisa salah?” tulis seorang pengguna. Yang lain menambahkan, “Saya tidak akan pernah membeli perangkat dengan teknologi itu.” Beberapa penggemar fiksi ilmiah bahkan mengutip bagian dari novel 1984 tentang ‘telescreen’, televisi dua arah yang digunakan untuk memantau warga.

Tantangan utama yang harus diatasi adalah penskalaan teknologi ini untuk penggunaan komersial. Tim peneliti harus mencari cara agar pixel ini dapat beroperasi tanpa laser dan mampu menampilkan gambar yang dinamis seperti layar pada umumnya.

Menurut laporan TechRadar, inovasi ini bisa menjadi dasar bagi generasi baru perangkat dengan layar yang multifungsi. Bayangkan sebuah laptop yang layarnya bisa digunakan untuk video call tanpa perlu kamera eksternal, atau smartphone yang seluruh permukaan depannya adalah kamera.

Teknologi ini juga memiliki implikasi besar dalam bidang keamanan dan privasi. Kemampuan layar untuk merekam secara diam-diam menimbulkan pertanyaan etis yang serius. Para ahli memperkirakan akan ada perdebatan sengit mengenai regulasi penggunaan teknologi ini di masa depan.

Sejarah mencatat bahwa istilah ‘pixel’, yang berasal dari ‘picture element’, pertama kali digunakan dalam cetakan pada tahun 1927. Tahun depan akan menandai satu abad sejak kata tersebut diperkenalkan, dan inovasi ini bisa menjadi tonggak baru dalam evolusi pixel.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature oleh tim yang dipimpin oleh Glauser YM dan Vonk SJW. Mereka berhasil menunjukkan bahwa pixel ini dapat menjadi komponen kunci dalam berbagai aplikasi optik canggih.

Dalam konteks industri teknologi, temuan ini sejalan dengan perkembangan lain seperti upaya menggabungkan teknologi NAND dan DRAM, serta pengembangan layar 2D/3D yang dapat dialihkan oleh Samsung. Inovasi-inovasi ini menunjukkan bahwa industri sedang bergerak menuju perangkat yang lebih terintegrasi dan multifungsi.

Namun, jalan menuju komersialisasi masih panjang. Para peneliti perlu mengatasi keterbatasan teknis seperti ketergantungan pada laser dan sifat statis dari tampilan yang dihasilkan. Jika berhasil, teknologi ini bisa mengubah cara kita berinteraksi dengan layar selamanya.

Reaksi publik yang skeptis menunjukkan bahwa adopsi teknologi ini mungkin akan menghadapi hambatan dari sisi penerimaan sosial. Isu privasi menjadi perhatian utama, terutama di era di mana kekhawatiran tentang pengawasan digital semakin meningkat.

Tim peneliti dari ETH Zurich optimis bahwa tantangan-tantangan ini bisa diatasi. Mereka melihat potensi besar dalam aplikasi seperti optik adaptif, yang bisa meningkatkan kualitas teleskop dan sistem pencitraan medis.

Selain itu, teknologi ini juga bisa digunakan dalam komunikasi optik untuk meningkatkan kecepatan dan keamanan transmisi data. Pemrosesan informasi kuantum juga menjadi salah satu area yang bisa diuntungkan dari kemampuan pixel ini.

Meskipun masih dalam tahap awal, perkembangan ini menandai langkah penting dalam penelitian fotonik. Kemampuan untuk mengendalikan dan menganalisis cahaya pada tingkat yang begitu detail membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya hanya ada dalam fiksi ilmiah.

Para pengamat industri teknologi menyarankan untuk terus memantau perkembangan penelitian ini. Jika tim ETH Zurich berhasil mengatasi tantangan penskalaan, kita mungkin akan melihat prototipe layar bidirectional dalam beberapa tahun ke depan.

Inovasi ini juga menunjukkan bagaimana penelitian fundamental dalam fisika dapat menghasilkan terobosan teknologi yang aplikatif. Fourier pixel adalah contoh sempurna dari bagaimana pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip dasar alam dapat diterjemahkan menjadi teknologi yang mengubah dunia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.