šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi peta tiga dimensi alam semesta dari DESI yang menampilkan miliaran galaksi dan objek langit

Peta Alam Semesta 3D Terbesar Rilis, 4 Miliar Objek Langit

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Peta alam semesta 3D terbesar dirilis oleh DESI dengan 4 miliar objek langit
  • Data mencakup 5,6 triliun piksel dan 75 persen dari seluruh langit
  • Survei melibatkan 160 ilmuwan dan menghasilkan 1.800 makalah ilmiah
  • Instrumen menggunakan 5.000 mata mekanis untuk menangkap gambar luar angkasa
  • Analisis penuh data lima tahun akan dirilis pada 2027
  • Data DESI menjadi referensi untuk proyek kosmik lain termasuk teleskop NASA

Telset.id – Peta tiga dimensi (3D) alam semesta terbesar yang pernah dibuat kini telah dirilis untuk publik. Data yang dikumpulkan oleh Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) selama lima tahun ini mencakup sekitar 4 miliar objek langit, mulai dari bintang, galaksi, lubang hitam, hingga asteroid. Peta tersebut dapat diakses secara gratis melalui DESI Legacy Imaging Surveys, sebuah alat online untuk menjelajahi data pencitraan luar angkasa dalam jumlah besar.

Peta baru ini memiliki informasi yang sangat besar, dengan total 5,6 triliun piksel yang mencakup sekitar 75 persen dari seluruh langit. Data tersebut merekam cahaya tampak dan panjang gelombang inframerah dekat. Peta ini dibangun dari observatorium yang terletak di gunung terpencil di Gurun Sonoran, Arizona, Amerika Serikat.

Rilis peta ini menjadi kabar penting bagi para astronom dan penggemar sains. Pasalnya, survei ini tidak hanya menghasilkan gambar langit malam yang menakjubkan, tetapi juga menjadi fondasi bagi riset astronomi modern. Sejak awal proyek, para peneliti telah menerbitkan lebih dari 1.800 makalah ilmiah yang merujuk pada data DESI.

Pencitraan Langit Paling Jelas

Salah satu tantangan terbesar dalam survei astronomi berbasis darat adalah keberadaan galaksi kita sendiri, Bimasakti. Galaksi ini membentang seperti telur goreng sehingga tampak sebagai pita bintang yang padat di langit malam. Materi antariksa seperti bintang, debu kosmik, dan materi lain di dalam galaksi kita sering kali menghalangi pandangan ke bagian luar angkasa yang lebih dalam.

Untuk mengatasi hambatan ini, para peneliti mengarahkan 5.000 mata mekanis DESI ke arah atas dan bawah galaksi Bimasakti. Strategi ini memungkinkan DESI menangkap beberapa gambar luar angkasa terjauh yang paling jelas yang pernah direkam. Survei khusus ini berlangsung selama lima tahun, namun sebenarnya dibangun di atas 13 tahun kerja dasar sebelumnya.

Proyek ini melibatkan lebih dari 160 ilmuwan dalam pengumpulan datanya. David Schlegel, peneliti di Lawrence Berkeley National Laboratory dan salah satu pemimpin Legacy Surveys, menyatakan bahwa data ini telah menjadi bagian penting dari penelitian astronomi modern. Ia menambahkan bahwa ketika bekerja dengan objek astronomi saat ini, para peneliti sering memulai dengan membuka Legacy Imaging Viewer untuk melihat apa yang sedang mereka amati.

Mengungkap Misteri Energi Gelap

Sebelumnya, pada awal tahun ini, para peneliti DESI merilis peta lain yang memproyeksikan jarak 47 juta galaksi dan quasar. Peta tersebut merekonstruksi 11 miliar tahun sejarah kosmik dan membawa efek energi gelap menjadi fokus penelitian. Energi gelap diyakini bertanggung jawab atas perluasan alam semesta kita.

Meskipun gaya tersebut masih sulit dipahami, para astronom dapat melacaknya dengan menganalisis kecepatan objek langit lain yang tampak menjauh dari kita. Data dari tiga tahun pertama survei DESI, yang dikombinasikan dengan pengamatan supernova dan radiasi sisa dari Big Bang, menunjukkan bahwa energi gelap mungkin bukan gaya yang konstan, melainkan secara bertahap melemah seiring waktu.

Analisis penuh dari data lima tahun dijadwalkan akan dirilis pada tahun 2027. Para ilmuwan percaya analisis ini akan menggambarkan masa lalu dan masa kini alam semesta lebih jelas dari sebelumnya. Ke depan, observasi DESI juga akan menjadi referensi dan titik perbandingan untuk proyek kosmik lainnya, seperti Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA yang baru saja diluncurkan.

Para peneliti juga berencana melatih alat kecerdasan buatan untuk mempercepat analisis data astronomi berskala petabyte, yang di dalamnya masih banyak hal yang belum ditemukan. Penemuan signifikan dalam bidang ini terus berkembang, seperti Planet LHS 1140b yang menjadi kandidat kuat kehidupan alien.

Peta untuk Semua Orang

Arjun Day, salah satu direktur Legacy Surveys dan astronom dengan National Science Foundation, menegaskan bahwa eksplorasi alam semesta selalu dimulai dengan gambar langit malam. Data ini fundamental untuk investigasi sejarah perluasan alam semesta dan pembentukan galaksi kita. Ia menambahkan bahwa langit adalah milik semua orang, dan survei ini memberikan kesempatan bagi semua orang untuk mengagumi keajaibannya.

Dengan dirilisnya peta ini, publik kini dapat menjelajahi objek-objek langit yang sebelumnya hanya bisa diakses oleh para ilmuwan. Peta ini juga menjadi sumber daya penting untuk memahami struktur alam semesta, termasuk posisi galaksi, lubang hitam, dan fenomena kosmik lainnya.

Data DESI membuka peluang baru dalam penelitian astronomi. Setiap orang dapat menggunakan alat ini untuk melihat area luar angkasa yang sebelumnya tersembunyi. Para peneliti juga dapat memanfaatkan data ini untuk berbagai studi, mulai dari memahami pembentukan galaksi hingga melacak evolusi alam semesta.

Rilis peta alam semesta ini sejalan dengan berbagai penemuan astronomi lainnya yang terus bermunculan. Teknologi pencitraan luar angkasa berkembang pesat, dan data dari DESI akan menjadi salah satu referensi utama dalam penelitian astronomi di masa mendatang. Survei ini membuktikan bahwa kolaborasi ilmiah berskala besar dapat menghasilkan data yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.