πŸ“‘ Daftar Isi

Menkes: Teknologi LVAD Buka Peluang Sembuh Pasien Gagal Jantung Berat

Menkes: Teknologi LVAD Buka Peluang Sembuh Pasien Gagal Jantung Berat

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa perkembangan teknologi dan inovasi membuka peluang baru untuk membantu pasien dengan gagal jantung berat, termasuk melalui penggunaan left ventricular assist device (LVAD). Teknologi ini berfungsi membantu kerja jantung dalam memompa darah dan menjadi pilihan bagi pasien tertentu yang membutuhkan terapi lanjutan.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (5/9/2026). Menurutnya, teknologi LVAD merupakan salah satu harapan baru bagi pasien gagal jantung berat yang selama ini memiliki keterbatasan opsi pengobatan. Kehadiran teknologi ini dinilai mampu menjadi jembatan menuju transplantasi jantung atau terapi definitif lainnya.

Indonesia sendiri telah mulai membangun kemampuan dalam prosedur LVAD. Pengalaman tersebut, kata Budi, perlu dikembangkan dari satu pusat layanan menjadi jejaring yang lebih luas. Dengan demikian, manfaat teknologi ini tidak terkonsentrasi hanya di wilayah tertentu saja.

Pengembangan Jejaring Layanan LVAD di Indonesia

Budi mendorong agar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari pusat rujukan dapat dibagikan kepada rumah sakit lain, termasuk yang berada di luar Pulau Jawa. Langkah ini diharapkan mampu membantu tenaga kesehatan dalam memantau pasien, mengakses pengetahuan medis, serta memberikan dukungan setelah tindakan medis dilakukan.

Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Wei Siang Yu, menilai bahwa masa depan layanan gagal jantung membutuhkan model kolaborasi yang memungkinkan dokter berbagi pengetahuan tanpa dibatasi wilayah. Menurutnya, LVAD hanyalah salah satu bagian dari transformasi layanan jantung secara keseluruhan.

Wei menambahkan bahwa pengembangan knowledge sharing cloud, kecerdasan buatan (AI), rehabilitasi, dan terapi regeneratif perlu diintegrasikan untuk membangun sistem perawatan yang lebih menyeluruh. Ia menekankan bahwa teknologi tidak hanya berhenti pada alat implan sebagai jembatan menuju transplantasi atau terapi definitif.

β€œBukan hanya alat implan yang menjadi jembatan menuju transplantasi atau terapi definitif. Kami melihat peluang baru melalui kematangan terapi regeneratif, termasuk pengembangan sel punca,” ujar Wei.

Ia menjelaskan bahwa knowledge sharing cloud dapat mempertemukan dokter lokal dengan spesialis dari daerah maupun negara lain. Dengan begitu, tenaga kesehatan di daerah tetap dapat memperoleh akses terhadap pengetahuan dan pengalaman klinis dari pusat keunggulan.

Perkembangan teknologi di sektor kesehatan memang menjadi perhatian global. Integrasi kecerdasan buatan dalam berbagai bidang, termasuk layanan medis, terus berkembang pesat. Hal serupa juga terlihat di industri lain, seperti pengembangan prosesor AI yang semakin canggih untuk mendukung komputasi berat.

RSCM Kembangkan Program Gagal Jantung Lanjut

Direktur Utama RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Supriyanto Dharmoredjo mengatakan bahwa pengembangan layanan gagal jantung membutuhkan ekosistem yang mencakup pelayanan, pendidikan, dan penelitian. RSCM saat ini tengah mengembangkan Advanced Heart Failure Program dan membangun tim multidisiplin untuk menangani pasien gagal jantung lanjut.

Program tersebut termasuk pengembangan program LVAD di rumah sakit rujukan nasional tersebut. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperluas akses layanan kesehatan jantung berkualitas bagi masyarakat Indonesia.

Sebelumnya, RSCM juga telah melakukan implantasi LVAD paling kecil di dunia. Keberhasilan tersebut menjadi modal berharga bagi pengembangan layanan serupa di berbagai daerah di Indonesia.

Transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi ini menunjukkan bahwa inovasi medis terus berkembang untuk menjawab tantangan penyakit tidak menular, khususnya gagal jantung. Dengan kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, dan sektor swasta, diharapkan akses terhadap teknologi LVAD semakin luas.

Penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari memang terus meningkat. Di sektor lain, inovasi seperti printer 3D untuk konstruksi juga mulai diterapkan untuk menjawab kebutuhan hunian. Sementara itu, persaingan platform digital juga menunjukkan dinamika tersendiri, seperti yang terlihat pada penutupan aplikasi Lasso oleh Facebook.

Menteri Kesehatan berharap pengalaman dari pusat layanan yang telah menguasai prosedur LVAD dapat menjadi pembelajaran bagi rumah sakit lain. Dengan berbagi pengetahuan, kapabilitas nasional dalam menangani gagal jantung berat dapat meningkat secara merata.

Langkah ini penting mengingat penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kehadiran teknologi LVAD memberikan alternatif baru bagi pasien yang sebelumnya tidak memiliki banyak pilihan pengobatan.

Ke depan, integrasi antara layanan klinis, pendidikan kedokteran, dan riset menjadi kunci dalam membangun sistem perawatan jantung yang komprehensif. Dukungan lintas sektor diperlukan agar teknologi ini dapat diakses oleh lebih banyak pasien yang membutuhkan.

Pemerintah bersama rumah sakit dan mitra industri terus berupaya memperluas jejaring layanan LVAD. Targetnya, teknologi ini tidak hanya tersedia di Jakarta, tetapi juga menjangkau rumah sakit di berbagai provinsi di Indonesia.

Dengan demikian, pasien gagal jantung berat di daerah tidak perlu lagi dirujuk jauh ke pusat layanan di Pulau Jawa. Mereka dapat memperoleh perawatan yang setara dengan standar nasional di rumah sakit terdekat.

Upaya pemerataan layanan kesehatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Teknologi medis seperti LVAD menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan layanan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perkembangan ini menjadi kabar baik bagi pasien gagal jantung berat di Indonesia. Dengan semakin luasnya akses terhadap teknologi LVAD, harapan untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik semakin terbuka lebar.

Kementerian Kesehatan bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus mendorong pengembangan kapasitas layanan jantung di tanah air. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, rumah sakit, akademisi, dan industri kesehatan menjadi fondasi utama dalam transformasi layanan ini.

Keberhasilan pengembangan program LVAD di Indonesia akan menjadi tonggak penting dalam sejarah layanan kesehatan jantung nasional. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat diadopsi dan dikembangkan di dalam negeri untuk kepentingan masyarakat luas.

Dengan dukungan semua pihak, bukan tidak mungkin Indonesia akan memiliki lebih banyak pusat layanan LVAD yang tersebar di berbagai wilayah. Pada akhirnya, yang menjadi prioritas utama adalah keselamatan dan kualitas hidup pasien gagal jantung berat di seluruh Indonesia.

Menkes optimistis bahwa dengan terus mengembangkan kemampuan dan memperluas jejaring, teknologi LVAD akan memberikan dampak signifikan bagi penanganan gagal jantung berat di masa mendatang.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.