📑 Daftar Isi

Open hard disk drive with an exposed platter resting on a computer circuit board.

Memori Volatile vs Non-Volatile: Perbedaan dan Cara Kerjanya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Perbedaan dasar memori volatile dan non-volatile: data bertahan atau hilang saat daya mati
  • DRAM dan SRAM termasuk memori volatile dengan fungsi berbeda: memori utama dan cache prosesor
  • NAND flash untuk penyimpanan SSD, NOR flash untuk firmware perangkat tertanam
  • Contoh Ryzen AI Max 128GB unified memory dan Ryzen 9 9950X3D 144MB cache
  • Cara kerja hierarki memori: dari penyimpanan non-volatile ke DRAM ke cache CPU
  • Perbedaan mode hibernasi dan sleep pada Windows terkait kedua jenis memori
  • Penjelasan spesifikasi laptop "16GB memory | 512GB SSD" sebagai dua sumber daya berbeda

Telset.id – Perbedaan mendasar antara memori volatile dan non-volatile terletak pada nasib data saat daya listrik terputus. Memori volatile membutuhkan daya berkelanjutan untuk menyimpan data, sementara memori non-volatile tetap menyimpan data meskipun daya sudah dimatikan. Inilah alasan mengapa RAM komputer kosong setelah shutdown, tetapi file di SSD masih utuh saat dinyalakan kembali.

Pemahaman ini penting bagi pengguna yang ingin mengetahui spesifikasi perangkat mereka. Spesifikasi laptop seperti “16GB memory | 512GB SSD” sebenarnya menggambarkan dua sumber daya berbeda. Angka pertama menunjukkan kapasitas ruang kerja untuk tugas aktif, sedangkan angka kedua menunjukkan kapasitas penyimpanan permanen untuk sistem operasi, aplikasi, dan file.

Perlu dicatat bahwa volatilitas hanya menjelaskan apa yang terjadi pada data ketika daya hilang. Sifat ini tidak menentukan kecepatan, kapasitas, atau fungsi sebuah memori. Berikut penjelasan lengkap tentang kedua jenis memori tersebut.

Memori Volatile: DRAM dan SRAM

Close-up of memory chips mounted on a RAM module.

Ketika spesifikasi laptop atau desktop menyebutkan RAM 16GB atau 32GB, itu merujuk pada dynamic random-access memory atau DRAM. DRAM berfungsi sebagai memori kerja utama komputer yang menyimpan data selama program berjalan. DDR5 adalah salah satu bentuk DRAM saat ini untuk komputer, sementara ponsel dan perangkat seluler umumnya menggunakan DRAM daya rendah seperti LPDDR5X.

Setiap sel DRAM menyimpan satu bit menggunakan kapasitor dan transistor. Muatan listrik pada kapasitor bocor seiring waktu, sehingga DRAM harus menyegarkan isinya secara berulang selama sistem berjalan. Ketika daya dihilangkan dan penyegaran berhenti, data yang tersimpan pun hilang.

DRAM tidak selalu berbentuk stik yang bisa dilepas seperti di PC desktop. Chip AMD Ryzen AI Max, misalnya, dapat bekerja dengan memori terpadu hingga 128GB. Tugas dasarnya tetap sebagai memori kerja sementara, meskipun bentuk fisiknya berbeda dari DIMM tradisional.

Sementara itu, static random-access memory atau SRAM juga bersifat volatile. Istilah “statis” merujuk pada kemampuan SRAM mempertahankan keadaan tanpa siklus penyegaran berkala yang dibutuhkan DRAM, selama daya masih tersedia. SRAM menggunakan rangkaian latch dengan beberapa transistor per bit yang memberikan akses lebih cepat daripada sel kapasitor-transistor DRAM.

Karakteristik tersebut membuat SRAM cocok untuk cache prosesor, tempat data yang sering dibutuhkan disimpan dekat CPU. Ryzen 9 9950X3D menjadi contoh prosesor dengan cache besar, memiliki 144MB gabungan cache L2 dan L3. Jumlah itu masih kecil dibandingkan DRAM bergiga-giga yang digunakan sebagai memori utama, menunjukkan perbedaan penggunaan kedua teknologi volatile tersebut.

Memori Non-Volatile: NAND dan NOR Flash

Samsung 980 Pro NVMe SSD installed on a Gigabyte motherboard.

Memori non-volatile menangani informasi yang harus tetap tersedia saat perangkat kehilangan daya. Contoh paling umum di perangkat konsumen saat ini adalah NAND flash, yang digunakan untuk penyimpanan permanen di SSD, tablet, USB drive, dan kartu memori.

SSD memiliki dua bagian utama: memori flash yang menyimpan data meskipun daya mati, dan controller yang mengelola cara data ditulis dan dibaca. Controller juga membantu mengoreksi kesalahan dan mendistribusikan operasi tulis ke berbagai sel memori, mencegah sebagian sel aus lebih cepat daripada lainnya. Pengaturan dasar ini berlaku untuk SSD SATA maupun NVMe.

Selain NAND, ada NOR flash sebagai jenis memori non-volatile lain. NOR flash biasanya digunakan untuk kode daripada file berukuran besar. Perangkat dapat menggunakannya untuk menyimpan firmware yang memulai perangkat keras dan memuat sistem operasi, bersama kode program lain yang harus tetap tersedia setelah shutdown.

NOR flash sangat berguna di perangkat tertanam karena prosesor sering dapat menjalankan kode langsung dari chip flash, tanpa menyalinnya ke RAM terlebih dahulu. Seperti halnya DRAM dan SRAM yang sama-sama volatile dengan fungsi berbeda, NAND dan NOR menunjukkan bahwa istilah “non-volatile” menggambarkan properti, bukan satu jenis komponen tunggal.

Perangkat Modern Memindahkan Data Antar Kedua Jenis Memori

Abstract visualization of data flowing to and from a computer processor on a circuit board.

Membuka dan menggunakan aplikasi pengedit foto memberikan contoh cara kerja hierarki memori. Aplikasi dan foto yang tersimpan berada di penyimpanan non-volatile. Saat digunakan, sistem memuat kode dan data yang dibutuhkan ke DRAM. Cache prosesor kemudian menyimpan salinan informasi yang sering diakses lebih dekat ke CPU, mengurangi frekuensi akses ke memori utama.

Tidak ada salinan sementara tersebut yang perlu bertahan setelah shutdown normal. Yang terpenting adalah perubahan yang disimpan akhirnya mencapai penyimpanan non-volatile. Sistem hibernasi membuat perbedaan ini mudah terlihat.

Windows dapat menulis isi memori volatile ke file hibernasi di penyimpanan non-volatile sebelum mematikan daya DRAM. Saat komputer dilanjutkan, Windows membaca file tersebut dan mengembalikan isi memori. Ini berbeda dengan mode sleep, di mana sesi tetap berada di RAM dan hilang jika daya padam.

Alur kerja ini juga relevan dengan ekosistem aplikasi modern. Misalnya, ketika aplikasi perpesanan menyimpan riwayat percakapan, data tersebut harus ditulis ke media non-volatile agar tidak hilang saat perangkat dimatikan. Sementara itu, notifikasi yang sedang aktif hanya berada di memori volatile karena sifatnya sementara.

Pemahaman tentang perbedaan memori volatile dan non-volatile membantu pengguna menghargai mengapa perangkat memiliki dua jenis penyimpanan sekaligus. Memori volatile menyediakan kecepatan untuk tugas aktif, sedangkan memori non-volatile menjamin data tetap aman dalam jangka panjang. Keduanya saling melengkapi dalam arsitektur komputer modern.

Dengan mengetahui cara kerja kedua memori ini, pengguna dapat lebih bijak dalam memilih perangkat sesuai kebutuhan. Kapasitas RAM menentukan kemampuan multitasking, sementara kapasitas SSD menentukan jumlah file yang bisa disimpan secara permanen.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.