📑 Daftar Isi

Ilustrasi tikus sebagai hewan pengerat pembawa hantavirus dengan latar belakang peta perubahan iklim

Perubahan Iklim Ancam Ledakan Populasi Tikus Pembawa Virus

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Perubahan iklim diprediksi memperluas habitat tikus padi kerdil berekor panjang ke timur Argentina
  • Lebih dari 100 kasus hantavirus tercatat antara Juni 2025 dan awal Mei 2026, dua kali lipat tahun sebelumnya
  • Virus Andes adalah satu-satunya hantavirus yang dapat menular antarmanusia
  • Tingkat kematian HCPS mencapai 50%, salah satu bentuk hantavirus terparah
  • Fluktuasi El Nino dan La Nina dapat memperkuat ekspansi populasi hewan pengerat
  • Studi machine learning memetakan risiko spillover arenavirus di Amerika Selatan 20-40 tahun ke depan

Telset.id – Perubahan iklim diprediksi akan memperluas habitat tikus padi kerdil berekor panjang (Oligoryzomys longicaudatus), reservoir alami virus Andes, ke arah timur menuju pantai Atlantik Argentina. Ekspansi ini berpotensi meningkatkan risiko spillover, yaitu virus melompat dari hewan ke manusia, yang dapat memicu wabah baru.

Klaster hantavirus di kapal MV Hondius baru-baru ini menjadi sorotan. Meskipun negara-negara di Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Cile, telah berurusan dengan hantavirus selama beberapa dekade, terjadi lonjakan infeksi. Menurut Kemenkes Argentina, lebih dari 100 kasus hantavirus tercatat antara Juni 2025 dan awal Mei 2026, atau dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Ancaman Hantavirus dan Dampak Perubahan Iklim

Hantavirus adalah kelompok virus bawaan hewan pengerat yang ditemukan di Amerika, Eropa, dan Asia. Di Amerika, hantavirus menyebabkan sindrom kardiopulmonal hantavirus (HCPS), yang ditandai dengan sakit kepala, demam, dan gejala pencernaan, diikuti masalah pernapasan yang berpotensi fatal. Virus Andes, yang bertanggung jawab atas kasus terkait MV Hondius, adalah satu-satunya jenis hantavirus yang dapat menular antarmanusia.

Dengan tingkat kematian mencapai 50%, HCPS dianggap sebagai salah satu bentuk penyakit hantavirus terparah. Sementara itu, infeksi yang melanda wilayah Eropa dan Asia memiliki tingkat kematian yang lebih rendah.

Reservoir alami virus Andes, yaitu tikus padi kerdil berekor panjang, biasanya hidup di hutan lembap dan semak di Andes selatan di Cile dan Argentina. Virus ini menyebar ke manusia terutama melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur tikus.

Model iklim memprediksi perubahan pola cuaca beberapa dekade ke depan yang mungkin akan memperluas habitat tikus ini ke arah timur, menuju pantai Atlantik Argentina, tempat mayoritas penduduk tinggal.

“Pengawasan dan pengujian yang lebih intensif diperlukan di seluruh provinsi, karena virus ini mungkin saja mencapai area-area baru tanpa kita sadari,” ungkap Juan Diego Pinotti, peneliti Dewan Riset Nasional Argentina, kepada Live Science.

Fluktuasi El Nino dan La Nina dapat semakin memperkuat pola ini. Di Argentina, El Nino biasanya meningkatkan curah hujan yang merangsang pertumbuhan vegetasi. Artinya, hewan pengerat memiliki akses ke makanan dan tempat berlindung yang melimpah, sehingga mendorong ekspansi populasi.

Ancaman dari Virus Lain

Studi baru pada kelompok virus bawaan hewan pengerat lain, yang dikenal sebagai arenavirus, menarik kesimpulan serupa. Arenavirus “Dunia Baru” yang mencakup virus Guanarito di Venezuela dan Kolombia, virus Machupo di Bolivia dan Paraguay, serta virus Junin di Argentina, dapat menyebabkan demam berdarah parah. Tingkat kematiannya berkisar 5% hingga 30%.

Peneliti menggunakan machine learning untuk memetakan bagaimana proyeksi iklim, perubahan populasi hewan pengerat, dan pergeseran penggunaan lahan dapat mengubah sebaran dan penularan arenavirus di Amerika Selatan dalam 20 hingga 40 tahun ke depan.

Pergeseran suhu dan curah hujan yang dipicu iklim, ditambah perluasan lahan pertanian, kemungkinan besar meningkatkan risiko spillover seiring menyebarnya virus ke wilayah baru. Peneliti berharap pemodelan tersebut akan membantu para pejabat untuk bersiap.

“Ini adalah penyakit berdampak tinggi tapi cukup terabaikan dalam hal seberapa banyak penelitian mengenainya, atau apakah penyakit ini masuk dalam radar pejabat kesehatan,” kata penulis studi, Pranav Kulkarni, ahli epidemiologi di Weill School of Veterinary Medicine, University of California, Davis.

Penelitian ini menekankan perlunya pengawasan yang lebih intensif di seluruh provinsi di Argentina, terutama karena perubahan iklim dapat membawa virus ke area-area baru yang sebelumnya tidak terjangkau. Lonjakan kasus hantavirus yang tercatat antara Juni 2025 dan awal Mei 2026 menjadi sinyal peringatan yang tidak bisa diabaikan.

Dengan lebih dari 100 kasus tercatat dalam periode tersebut, angka ini dua kali lipat dari tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa ancaman ini semakin nyata di tengah perubahan iklim global.

Komentar

Belum ada komentar.