Telset.id – Bayangkan Anda harus mengajari seorang bayi berjalan hanya dengan memberinya tumpukan buku teks. Mustahil, bukan? Nah, itulah dilema yang selama ini menghantui industri robotika. Data teks dari internet berlimpah untuk melatih model bahasa, tapi mengajari robot bergerak? Itu cerita yang sama sekali berbeda. Setiap gerakan harus direkam secara fisik, butuh robot, fasilitas, dan operator. Biayanya pun melambung tinggi. Di tengah kegalauan ini, sebuah startup bernama Config muncul dengan solusi yang mungkin akan mengubah peta persaingan kecerdasan buatan fisik (physical AI).
Config, startup yang berkantor di Seoul dan San Jose, baru saja mengumumkan pendanaan besar-besaran. Mereka mendapat sokongan dari raksasa manufaktur Korea Selatan seperti Samsung, Hyundai, LG, dan SK Telecom. Total dana yang terkumpul mencapai USD 35 juta atau sekitar Rp 560 miliar (kurs Rp 16.000 per USD), dengan valuasi menembus USD 200 juta atau Rp 3,2 triliun. Angka yang fantastis untuk perusahaan yang baru berdiri pada Januari 2025. Tapi, apa sebenarnya yang membuat Config begitu istimewa? Jawabannya sederhana: mereka tidak membuat robot, melainkan menyediakan “darah” yang membuat robot bisa hidup, yaitu data.
Pendiri Config, Minjoon Seo, mantan peneliti Meta dan kepala ilmuwan di TwelveLabs, punya visi yang jernih. Bersama tiga rekannya yang berpengalaman di Waymo, Google, dan Naver, mereka sadar bahwa masalah terbesar robotika bukanlah pada perangkat kerasnya, melainkan pada kelangkaan data berkualitas tinggi. “Data harus dikonversi, bukan modelnya. Teknologi konversi inilah yang menjadi pembeda teknis inti Config,” ujar Seo dalam wawancara eksklusif dengan TechCrunch. Analoginya sederhana: mengajar model AI dengan data mentah yang tidak diolah sama seperti mengajar bahasa Korea hanya dengan materi berbahasa Inggris. Hasilnya pasti kacau.
Pendekatan Config ini menarik perhatian banyak pihak, terutama karena persaingan di ranah robotika global semakin memanas. Untuk memahami konteksnya, Anda bisa membaca soal drama Pentagon yang mengguncang internal OpenAI baru-baru ini, atau bagaimana Strategi AiMOGA Robotics dari Chery mencoba menyatukan otomotif dan robotika di IIMS 2026. Jelas, ini adalah medan pertempuran yang sengit.
Mengapa Data Robot Lebih Mahal dari Data Teks?
Ini pertanyaan kunci yang sering luput dari perhatian publik. Melatih model bahasa raksasa seperti GPT-4 memang memakan biaya komputasi yang luar biasa besar. Tapi, bahan bakunya—teks dari internet—tersedia gratis dan melimpah. Berbeda dengan robot. Setiap data gerakan harus diciptakan dari nol. Anda butuh robot fisik, ruang uji coba, dan manusia yang mengoperasikannya. Proses ini lambat, mahal, dan sulit di-scale up. Inilah celah pasar yang coba diisi oleh Config.
Startup ini merekam aktivitas manusia di lingkungan studio yang terkontrol dan juga di lapangan nyata. Mereka beroperasi dari Seoul dan Hanoi, dengan hampir 300 tenaga kerja yang fokus pada produksi data. Hasilnya? Mereka sudah mengumpulkan lebih dari 100.000 jam data gerakan manusia. Jumlah ini 30 kali lipat lebih besar dari AgiBot World, dataset open source terbesar sejenis yang hanya memiliki sekitar 3.000 jam data. Ini bukan sekadar kuantitas, tapi juga kualitas dan cara pengolahannya yang membuat Config unik.
Tim robotika pada umumnya melatih model AI dengan data gerakan manusia, lalu mencoba mengadaptasi model tersebut ke robot. Config justru melakukan pendekatan sebaliknya. Mereka mengubah data mentah sebelum proses pelatihan dimulai, agar data tersebut lebih cocok dengan cara robot bergerak dan berinteraksi dengan dunia. Ini adalah perbedaan fundamental yang membuat data Config lebih “dapat dicerna” oleh mesin.
Model Bisnis ala TSMC untuk Dunia Robot
Config dengan gamblang membandingkan peran mereka dengan TSMC, raksasa semikonduktor asal Taiwan. TSMC memproduksi chip untuk Apple, Nvidia, dan AMD tanpa bersaing dengan kliennya. Config ingin melakukan hal yang sama di dunia robotika: menjadi pemasok data yang netral dan tepercaya. Strategi ini dinilai tepat karena semakin banyak produsen besar yang ingin membangun kecerdasan buatan robotik milik mereka sendiri (proprietary), alih-alih bergantung sepenuhnya pada vendor luar.
COO dan salah satu pendiri Config, Jack Bang, mengungkapkan bahwa startup ini sudah menghasilkan pendapatan. Pelanggan mereka saat ini meliputi produsen besar, integrator sistem, serta perusahaan di sektor pertanian dan pertahanan. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan data robotik yang “siap pakai” sudah sangat nyata di pasar. Pesaing Config di ruang ini antara lain Physical Intelligence, Generalist AI, dan Skild AI, yang juga berlomba-lomba menjadi fondasi bagi kecerdasan robot generasi berikutnya.
Fakta bahwa Korea Selatan—negeri chaebol seperti Samsung dan Hyundai—menjadi basis utama Config bukanlah kebetulan. Negara ini memiliki struktur manufaktur yang sangat kuat, berbeda dengan ekonomi yang lebih berorientasi pada jasa atau perangkat lunak. Dukungan dari venture arms Samsung, Hyundai, LG, dan SK Telecom adalah sinyal bahwa industri berat Asia serius ingin menguasai lapisan data dari rantai pasok robotika global. Ini sejalan dengan laporan bahwa China kuasai robotika global, membuat Amerika Serikat tertinggal jauh. Config bisa menjadi “senjata rahasia” Korea untuk membalikkan keadaan.
Baca Juga:
Dengan pendanaan segar sebesar USD 27 juta (sekitar Rp 432 miliar) yang dipimpin oleh Samsung Venture Investment, Config punya tiga prioritas utama. Pertama, memperbesar skala operasi data di Vietnam dan Seoul hingga mencapai target 1 juta jam data terkumpul. Kedua, mengembangkan platform enterprise mereka untuk mencapai pendapatan berulang tahunan (ARR) sebesar USD 10 juta atau Rp 160 miliar pada akhir 2027. Ketiga, meluncurkan produk robot-as-a-service berbasis cloud yang memungkinkan perusahaan menjalankan model fondasi Config tanpa perlu perangkat keras tambahan di dalam robot itu sendiri.
Langkah ini sangat ambisius. Jika berhasil, Config tidak hanya akan menjadi “pabrik data” bagi robot-robot di pabrik dan gudang, tetapi juga bisa menjadi standar baru dalam pelatihan AI fisik. Bayangkan sebuah masa depan di mana Anda tidak perlu membeli robot yang sudah diprogram, cukup berlangganan layanan data dari Config, dan robot Anda akan “belajar” sendiri cara memegang gelas, menyusun kotak, atau bahkan memandu Anda di jalan raya. Ini bukan lagi fiksi ilmiah.
Namun, tantangan tetap ada. Persaingan dengan startup Amerika seperti Physical Intelligence sangat ketat. Belum lagi isu etika dan keamanan data yang pasti akan muncul. Siapa yang memiliki hak atas data gerakan manusia yang direkam? Bagaimana mencegah data ini digunakan untuk membuat robot militer yang otonom? Pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab. Yang jelas, Config telah membuka babak baru dalam perlombaan kecerdasan buatan. Mereka tidak berlomba membuat robot terkuat, melainkan menyediakan “bahan bakar” terbaik untuk semua robot.
Di tengah hiruk-pikuk akuisisi startup robot humanoid oleh Meta yang siap lawan Tesla, dan gebrakan Voice AI baru dari OpenAI, Config memilih jalur yang lebih tenang namun tidak kalah strategis. Mereka adalah bukti bahwa inovasi tidak selalu harus spektakuler. Kadang, solusi terbaik justru datang dari hal yang paling mendasar: data. Dan di dunia yang semakin otomatis, siapa pun yang menguasai data, akan menguasai dunia.





Komentar
Belum ada komentar.