📑 Daftar Isi

Ilustrasi pesawat taksi udara elektrik eVTOL terbang di atas wilayah perkotaan modern dengan latar belakang gedung pencakar langit.

Perang Hukum Joby vs Archer Guncang Industri Taksi Udara

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Perseteruan hukum antara Joby Aviation dan Archer Aviation memanas di tahun 2026 terkait spionase korporat dan tuduhan hubungan dengan China.
  • Archer menuduh Joby melakukan misklasifikasi impor komponen China sebagai "jepit rambut" dan "kaos kaki".
  • Sengketa desain melibatkan Vertical Aerospace yang dituduh menjiplak desain pesawat Midnight milik Archer.
  • Nilai saham Joby dan Archer anjlok lebih dari 30% akibat ketidakpastian sertifikasi FAA dan beban biaya hukum.
  • Joby berencana meluncurkan layanan di Dubai tahun ini, sementara Archer menargetkan Olimpiade LA 2028.

Telset.id – Persaingan panas antara Joby Aviation dan Archer Aviation kini berpindah dari landasan pacu ke ruang sidang, memicu guncangan hebat di tengah upaya industri taksi udara membangun legitimasi sebagai moda transportasi masa depan. Dua raksasa asal San Francisco Bay Area ini terlibat dalam serangkaian gugatan dan gugatan balik yang melibatkan tuduhan mulai dari spionase korporat hingga manipulasi impor komponen dari China.

Konflik hukum ini pecah di saat yang sangat krusial bagi sektor mobilitas udara tingkat lanjut. Di satu sisi, perusahaan-perusahaan ini berjanji untuk menghadirkan solusi transportasi perkotaan yang bebas kebisingan dan polusi karbon. Di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan adanya penurunan nilai saham yang drastis serta tenggat waktu sertifikasi yang terus bergeser. Ketegangan ini semakin diperkeruh dengan keterlibatan aliansi industri lain seperti ekosistem elektrik global yang juga tengah berkembang pesat di sektor otomotif.

Pada November 2025, Joby Aviation secara resmi menggugat Archer Aviation atas dugaan spionase korporat. Dalam dokumen gugatannya, Joby mengeklaim bahwa seorang mantan karyawannya yang pindah ke Archer telah mencuri informasi teknis rahasia serta komunikasi pemangku kepentingan. Joby menuduh Archer secara terang-terangan menggunakan informasi curian tersebut untuk mempercepat pengembangan produk mereka. Rivalitas ini menunjukkan betapa kecilnya kolam talenta di industri ini, sehingga perebutan sumber daya manusia sering kali berujung pada sengketa rahasia dagang.

Tidak tinggal diam, Archer melakukan serangan balik pada Maret 2026. Archer menuduh Joby telah menipu pemerintah Amerika Serikat dengan melakukan misklasifikasi pada komponen pesawat yang diimpor dari China. Dalam tuduhan yang cukup satir, Archer mengeklaim bahwa Joby mendaftarkan suku cadang pesawat sebagai barang konsumsi biasa seperti “jepit rambut” dan “kaos kaki” untuk menghindari regulasi tertentu. Serangan balik ini membuahkan hasil ketika Komisi Perdagangan Internasional (ITC) membuka investigasi resmi terhadap hubungan Joby dengan China, yang berpotensi menunda rencana peluncuran layanan mereka hingga melampaui target tahun 2028.

Perselisihan Archer tidak berhenti pada Joby saja. Pada Februari 2026, Archer juga melayangkan gugatan pelanggaran paten terhadap rival lainnya, Vertical Aerospace yang berbasis di Inggris. Archer menuduh desain pesawat “Valo” milik Vertical merupakan tiruan dari desain “Midnight” milik Archer. Secara teknis, kedua pesawat ini memang memiliki kemiripan spesifikasi: kapasitas empat penumpang, menggunakan motor listrik dengan baling-baling tilt-rotor untuk lepas landas vertikal, kecepatan jelajah 150 mph, dan jangkauan maksimum 100 mil.

Eric Lentell, Chief Strategy and Legal Officer Archer, menyatakan bahwa kemiripan desain Valo dengan fitur distingtif Midnight sangatlah nyata. Namun, juru bicara Vertical Aerospace, Justin Bates, membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai “gangguan” dari tantangan pasar yang sebenarnya sedang dihadapi perusahaan. Drama hukum ini juga mencerminkan bagaimana infrastruktur pendukung seperti teknologi 5G nantinya akan menjadi krusial dalam mengelola lalu lintas udara yang semakin padat oleh kendaraan eVTOL.

Progres Sertifikasi FAA dan Realitas Pasar

Hingga saat ini, belum ada satu pun perusahaan taksi udara yang berhasil menyelesaikan sertifikasi tipe FAA secara penuh untuk menerbangkan penumpang secara komersial di Amerika Serikat. Joby Aviation saat ini dianggap sebagai pemimpin di barisan depan karena telah melewati empat tahap proses sertifikasi. Mereka memproduksi sekitar satu pesawat per bulan dan telah mendemonstrasikan penerbangan dari Bandara JFK ke Lower Manhattan sebagai pratinjau rute masa depan. Karena ketatnya regulasi di AS, Joby berencana meluncurkan layanan penumpang pertamanya di Dubai akhir tahun ini.

Di sisi lain, Archer masih berkutat dengan model pra-produksi dan baru melewati tiga dari empat tahap sertifikasi FAA. Archer menargetkan kesiapan operasional tepat waktu untuk Olimpiade Musim Panas 2028 di Los Angeles. Namun, kepercayaan investor tampaknya mulai goyah. Sejak awal tahun 2026, saham Joby telah anjlok hampir 35 persen, sementara saham Archer merosot hampir 33 persen. Biaya hukum yang membengkak di tengah anggaran yang menipis menjadi kekhawatiran utama para pemilik modal.

Meskipun penuh turbulensi hukum, beberapa perusahaan terus mencoba membuktikan kemampuannya. Beta Technologies, misalnya, baru-baru ini mengundang media untuk menguji pesawat listrik “Alia” mereka, meskipun belum memiliki izin operasi komersial. Sementara itu, adopsi teknologi eVTOL untuk operasi militer mulai terlihat dengan penempatan pesawat Joby di pangkalan Angkatan Udara Edwards dan MacDill, serta kemitraan Archer dengan firma teknologi pertahanan Anduril untuk varian VTOL bertenaga hibrida.

Upaya percepatan juga datang dari sisi regulasi melalui eVTOL Integration Pilot Program yang diluncurkan oleh pemerintah. Program ini bertujuan mempercepat penyebaran aman pesawat listrik di wilayah udara AS. Namun, para ahli mengingatkan agar publik meredam ekspektasi. Seperti yang diungkapkan oleh seorang profesor teknik kepada The New York Times, pemandangan “mobil terbang” di setiap jendela rumah bukanlah sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat. Bagi masyarakat yang terbiasa dengan mobilitas perkotaan berbasis darat, transisi ke langit tetap membutuhkan waktu dan kepastian hukum yang jauh lebih stabil daripada kondisi saat ini.

Pada akhirnya, perang hukum antara Joby dan Archer bukan sekadar masalah ego perusahaan, melainkan pertarungan memperebutkan dominasi di industri yang berpotensi bernilai miliaran dolar. Selama masalah kekayaan intelektual dan kepatuhan regulasi masih menjadi senjata untuk saling menjatuhkan, industri taksi udara elektrik mungkin akan tetap kesulitan untuk benar-benar lepas landas secara komersial.

Komentar

Belum ada komentar.