Administrator NASA Jared Isaacman dengan gambar besar Pluto di latar belakang

NASA Kaji Ulang Status Pluto sebagai Planet

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Administrator NASA Jared Isaacman secara resmi mengusulkan untuk mengembalikan status Pluto sebagai planet, menantang keputusan International Astronomical Union (IAU) yang telah berusia dua dekade. Dalam sidang Senat pada Selasa lalu, Isaacman menyatakan dukungannya terhadap kampanye “Make Pluto A Planet Again,” sebagaimana dikutip Space.com.

Isaacman mengungkapkan bahwa badan antariksa tersebut saat ini sedang menyusun makalah ilmiah untuk mendorong diskusi ulang di kalangan komunitas astronomi. “Kami sedang mengerjakan beberapa makalah sekarang,” ujarnya dalam sidang tersebut. Ia menambahkan bahwa NASA ingin memastikan Clyde Tombaugh, astronom Amerika yang menemukan Pluto pada 1930, mendapatkan pengakuan yang layak.

Kontroversi status Pluto bermula pada 2006 ketika IAU secara resmi mendefinisikan kriteria planet. Menurut definisi tersebut, sebuah benda langit harus memenuhi tiga syarat: mengorbit Matahari, memiliki massa cukup untuk membentuk bulatan, dan “membersihkan lingkungan” orbitnya dari objek lain dengan ukuran serupa.

Pluto gagal memenuhi kriteria ketiga karena orbitnya masih dipenuhi objek-objek lain. Akibatnya, Pluto direklasifikasi sebagai “planet kerdil” atau dwarf planet, bersama empat objel resmi lainnya di tata surya. Diameter Pluto sekitar 1.500 mil, hanya setengah lebar Amerika Serikat, sehingga julukan “kerdil” dianggap tidak berlebihan.

Keputusan IAU ini sempat memicu kontroversi di kalangan publik. Banyak yang merasa Pluto telah “diturunkan pangkat” secara tidak hormat dari klub objek astronomi yang dianggap penting. Persepsi yang berkembang adalah bahwa birokrasi telah ikut campur mengubah pemahaman masyarakat tentang tata surya tanpa alasan yang jelas.

Namun, sebagian besar astronomi justru mendukung keputusan ilmiah IAU. Mereka tidak senang melihat kepala lembaga sebesar NASA memperdebatkan kembali isu yang sudah dianggap selesai dengan menggunakan slogan politik.

Mike Brown, profesor astronomi planet di California Institute of Technology, menyatakan ketidaksetujuannya. “Sementara administrator NASA bebas bernostalgia tentang masa ketika Pluto masih menjadi planet, para ilmuwan yang bekerja di bidang ini akan terus berupaya menjelaskan dan mengklasifikasikan objek di tata surya dengan cara yang benar-benar membantu kita memahami dunia tempat kita hidup,” ujarnya kepada The Independent.

Bill McKinnon, Direktur McDonnell Center for the Space Sciences di Washington University di St. Louis, menyebut debat ini “buang-buang waktu.” Ia menegaskan, “Tentu Pluto adalah planet, tetapi ia adalah planet kerdil, sub-spesies planet. Argumennya tampaknya berkisar pada mereka yang ingin mengatakan apakah planet kerdil itu planet atau bukan.”

Faktanya, definisi planet memang masih menjadi perdebatan di kalangan astronomi. Namun, para ahli berpendapat bahwa definisi tersebut seharusnya diserahkan kepada para astronom untuk dipecahkan. Seiring bertambahnya pengetahuan tentang tata surya dan sistem planet lain, definisi ini akan terus berkembang dan disempurnakan.

Isaacman memang pantas dihargai atas antusiasmenya terhadap topik ini. Namun, beberapa pakar menilai bahwa isu ini sebenarnya di luar wewenangnya. Mereka memahami mengapa para ahli merasa terganggu mendengar pernyataan Isaacman yang dengan enteng menyatakan bahwa mereka salah.

Administrator NASA Jared Isaacman tampil dengan mikrofon di tangan, sementara di belakangnya terpampang gambar besar planet Pluto dengan latar hitam.

Keputusan akhir mengenai status Pluto tetap berada di tangan IAU. Namun, langkah Isaacman menunjukkan bahwa perdebatan ini masih jauh dari kata selesai, setidaknya di mata publik dan beberapa pejabat NASA.