πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi teknologi brain-computer interface non-invasif Meta Brain2Qwerty

Meta Kembangkan BCI Non-Invasif Brain2Qwerty Tanpa Operasi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
  • Meta kembangkan Brain2Qwerty, BCI non-invasif tanpa operasi otak
  • Sistem gunakan pemindai magnetoencephalography (MEG) untuk baca aktivitas otak
  • Akurasi rata-rata capai 61%, tertinggi 78% dari peserta terbaik
  • Versi sebelumnya hanya memiliki akurasi rata-rata 40%
  • Masih belum cukup baik untuk pengujian klinis
  • Tantangan utama: ukuran sensor MEG yang sangat besar
  • Meta rencanakan pelatihan dengan lebih banyak data untuk tingkatkan akurasi
  • Teknologi penting untuk pengembangan neuroprostetik di masa depan

Telset.id – Meta baru saja mengumumkan perkembangan signifikan dalam teknologi brain-computer interface (BCI) non-invasif bernama Brain2Qwerty. Sistem ini memungkinkan pengguna mengetik hanya dengan pikiran, tanpa memerlukan operasi otak seperti yang diterapkan Neuralink milik Elon Musk.

Berbeda dengan BCI implan yang membutuhkan prosedur bedah, Brain2Qwerty menggunakan pemindai magnetoencephalography (MEG) non-invasif untuk membaca perubahan medan magnet otak. Teknologi ini kemudian menghubungkan aktivitas otak tersebut dengan penekanan tombol pada keyboard virtual.

Versi terbaru ini merupakan pengembangan dari proof of concept yang dirilis tahun lalu. Meta mengklaim telah meningkatkan akurasi secara drastis setelah melatih sistem dengan data sepuluh kali lebih banyak untuk setiap subjek uji.

a man using a BCI

Peningkatan Akurasi Signifikan

Meta melaporkan bahwa rata-rata akurasi Brain2Qwerty kini mencapai 61%, dengan peserta terbaik mampu mencapai akurasi kata hingga 78%. Sebagai perbandingan, versi sebelumnya hanya memiliki rata-rata akurasi 40%, sementara pengguna terbaik hanya mencapai 48%.

Meskipun peningkatan ini tergolong besar, Meta mengakui bahwa angka tersebut masih belum cukup baik untuk pengujian klinis. Akurasi rata-rata 61% masih terasa seperti untung-untungan dan sulit digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Perusahaan berencana menggunakan lebih banyak data untuk melatih sistem dan mengklaim hasil yang terus membaik sejauh ini. Meta juga terus meneliti pengembangan teknologi AI yang dapat meningkatkan performa sistem.

Tantangan Ukuran Perangkat Keras

Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah ukuran sensor MEG. Teknologi MEG saat ini membutuhkan perangkat keras yang sangat besar, bahkan lebih besar dari pengguna dan kursi tempat mereka duduk. Namun, ada perkembangan menjanjikan dalam sensor MEG yang bisa menghasilkan perangkat lebih kecil dan lebih mudah digunakan di lingkungan klinis.

Meta bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan BCI non-invasif. Sebuah tim dari Georgia Tech juga mengembangkan BCI kecil yang bisa dengan mudah dimasukkan di bawah kulit kepala. Pendiri Valve, Gabe Newell, juga membangun startup yang bertujuan menciptakan BCI tanpa baterai.

Meskipun masih jauh dari memungkinkan pasien mengontrol webcam atau bermain game, teknologi ini tetap menjadi perkembangan penting dalam neuroprostetik. Pada akhirnya, perangkat medis ini bisa membantu pasien memulihkan atau meningkatkan kualitas hidup mereka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.