Telset.id – Pernah bayangin, data center raksasa milik Meta bisa tetap menyala terang di malam hari tanpa bantuan baterai raksasa? Atau lebih gilanya lagi, listriknya datang langsung dari luar angkasa. Kedengarannya seperti skrip film fiksi ilmiah, tapi inilah yang baru saja terjadi. Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, baru saja menandatangani kesepakatan ambisius dengan startup bernama Overview Energy untuk menyedot listrik dari satelit yang mengorbit di luar angkasa.
Kesepakatan ini bukan proyek iseng. Di balik ambisi besar Meta mengembangkan kecerdasan buatan (AI), ada satu masalah klasik yang terus menghantui: konsumsi listrik yang luar biasa besar. Pada tahun 2024 saja, data center Meta menghabiskan lebih dari 18.000 gigawatt-jam listrik. Angka itu cukup untuk menyalurkan energi ke lebih dari 1,7 juta rumah di Amerika Serikat selama setahun penuh. Dan kebutuhan itu dipastikan akan terus membengkak seiring makin canggihnya model AI yang mereka kembangkan.
Overview Energy, startup yang baru muncul dari persembunyiannya pada Desember lalu, punya solusi yang tidak biasa. Mereka mengembangkan wahana antariksa yang dirancang khusus untuk mengumpulkan energi matahari di luar angkasa, lalu mengubahnya menjadi cahaya inframerah, dan menyorotkannya ke ladang panel surya di Bumi.
Ketika Matahari Tak Pernah Tenggelam
Selama ini, masalah utama energi surya untuk data center adalah ketidakmampuannya beroperasi di malam hari. Solusi konvensional adalah dengan memasang baterai raksasa atau mengandalkan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil sebagai cadangan. Meta sendiri berkomitmen membangun 30 gigawatt sumber energi terbarukan, terutama dari pembangkit listrik tenaga surya skala industri.
Namun, pendekatan Overview Energy berbeda. Alih-alih menyimpan energi di Bumi, mereka memilih memanennya langsung dari sumbernya: matahari di luar angkasa, yang tidak pernah terhalang oleh rotasi Bumi atau awan. CEO Overview Energy, Marc Berte, mengklaim teknologi mereka aman. Anda bahkan bisa menatap langsung sinar inframerah yang dipancarkan satelitnya tanpa efek samping berbahaya.
Cara kerjanya cukup cerdik. Satelit-satelit itu akan mengubah energi matahari menjadi berkas cahaya inframerah lebar, lalu menyorotkannya ke ladang panel surya yang sudah ada di Bumi. Dengan begitu, panel surya yang tadinya hanya menghasilkan listrik di siang hari, bisa tetap produktif di malam hari.
Megawatt Foton: Satuan Baru untuk Energi Masa Depan
Dalam pengumuman resmi, Meta mengatakan telah menandatangani perjanjian reservasi kapasitas pertama dengan Overview Energy untuk menerima hingga 1 gigawatt listrik dari wahana antariksa milik startup tersebut. Meski belum jelas apakah ada uang yang berpindah tangan, kontrak ini menggunakan metrik baru yang disebut megawatt photons (megawatt foton). Istilah ini mengacu pada jumlah cahaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu megawatt listrik.
Marc Berte menargetkan peluncuran satelit perdana pada Januari 2028 ke orbit rendah Bumi untuk melakukan transmisi daya pertama dari luar angkasa. Sementara untuk memenuhi komitmen dengan Meta, Berte memperkirakan peluncuran satelit akan dimulai pada 2030 dengan target mengorbitkan 1.000 wahana antariksa di orbit geosinkron.
Orbit geosinkron adalah orbit tinggi di mana setiap satelit tetap berada di titik yang sama di atas Bumi. Setelah berada di sana, armada satelit ini diperkirakan bisa beroperasi selama lebih dari 10 tahun. Mereka akan mampu menjangkau sekitar sepertiga permukaan planet, dengan cakupan awal dari Pantai Barat Amerika Serikat hingga Eropa Barat.
Mengapa Ini Penting untuk AI?
Anda mungkin bertanya, kenapa Meta repot-repot sampai ke luar angkasa? Jawabannya sederhana: kecepatan dan skala. Data center AI butuh pasokan listrik yang stabil dan besar 24 jam sehari. Dengan energi dari luar angkasa, Meta bisa mengurangi ketergantungan pada baterai mahal dan pembangkit listrik kotor.
Konsep ini juga bisa menjadi solusi untuk masalah yang sudah lama menghantui industri energi terbarukan: intermitensi. Matahari tidak bersinar 24 jam, angin tidak selalu bertiup. Tapi di luar angkasa, matahari selalu bersinar. Ini artinya, energi bisa dipanen terus-menerus tanpa jeda.
Overview Energy sendiri sudah mendemonstrasikan transmisi daya dari pesawat ke darat. Langkah selanjutnya adalah membuktikan bahwa teknologi ini bisa bekerja dari orbit. Jika berhasil, ini bisa menjadi terobosan besar tidak hanya untuk Meta, tapi juga untuk seluruh industri teknologi yang haus energi.
Berte melihat peluang besar dalam menggabungkan fungsi pembangkit dan transmisi. Dengan fleksibilitas untuk mengirimkan daya ke ladang surya kapan pun dan di mana pun paling dibutuhkan, model bisnis ini bisa sangat menguntungkan. Seperti yang dikatakannya kepada TechCrunch, “Ada perbedaan besar antara berada di satu pasar energi, dan berada di semua pasar energi.”
Masa Depan yang (Mungkin) Tak Terhindarkan
Langkah Meta ini menambah daftar panjang ambisi perusahaan teknologi besar untuk menjadikan luar angkasa sebagai solusi atas keterbatasan sumber daya di Bumi. Sebelumnya, kita sudah mendengar kabar tentang rencana Elon Musk yang ingin membangun data center di luar angkasa. Kini Meta mengambil pendekatan berbeda: bukan memindahkan komputasi ke luar angkasa, melainkan mengirimkan energinya ke Bumi.
Tentu saja, masih banyak tantangan. Biaya peluncuran satelit masih mahal, meski sudah turun drastis berkat roket yang bisa digunakan kembali milik SpaceX. Belum lagi soal regulasi, keamanan orbital, dan potensi sampah antariksa. Tapi jika para pemain besar seperti Meta mulai serius, bukan tidak mungkin hambatan-hambatan itu akan teratasi seiring waktu.
Yang jelas, satu hal sudah pasti: perlombaan untuk mengamankan pasokan listrik untuk AI telah mencapai level baru. Dan kali ini, panggungnya bukan lagi di Bumi, melainkan di luar angkasa. Siapa sangka, perang antara raksasa teknologi untuk menguasai AI justru akan dimenangkan oleh mereka yang berhasil menguasai energi dari bintang.




