Gunung Es Terbesar di Dunia Ancam Habitat Pulau di Samudra Atlantik

Gunung Es Terbesar di Dunia

Telset.id, Jakarta – Laporan menyebut bahwa tim ilmuwan sedang dikirim untuk mempelajari gunung es terbesar di dunia yang berpotensi tabrakan dengan sebuah pulau di Samudra Atlantik Selatan.

Gunung es terbesar di dunia dengan kode “A68a” itu diperkirakan NASA memiliki ukuran setara dengan salah satu wilayah di Amerika Serikat, yakni Delaware.

Gunung itu merupakan pecahan dari Lapisan Es Larsen C di Semenanjung Antartika pada 2017 lalu. Gunung es terbesar tersebut saat ini sedang melewati Front Antartika Selatan.

Ia menuju pulau Georgia Selatan dan terancam kandas. Dilansir New York Post, jika gunung es bertabrakan dengan pulau, ada potensi mengganggu ekosistem satwa liar dan akses hewan terhadap makanan.

{Baca juga: NASA Temukan Pegunungan Misterius di Mars}

Dikutip Telset, Sabtu (19/12/2020), gunung es itu dapat mengubah suhu laut dan menghasilkan volume besar air tawar saat mencair, yang tentu saja memengaruhi kondisi semua kehidupan laut.

British Antarctic Survey akan memimpin ekspedisi untuk melihat para peneliti terbang ke Falklands pada 11 Januari 2021 mendatang. Mereka akan melakukan karantina terlebih dahulu, dan naik kapal penelitian RRS James.

“Kami belum pernah melihat gunung es sebesar itu. Artinya, kami baru melihatnya. Gunung es tersebut membawa perubahan besar terhadap lingkungan,” kata Prof Geraint Tarling, ahli kelautan biologi.

Ketika kapal suplai dan penelitian tiba di gunung es itu, para ilmuwan akan mengumpulkan dan mempelajari hewan di dalam air. Mereka juga akan meluncurkan dua kapal selam robotik bernama glider untuk membantu penelitian.

{Baca juga: Ilmuwan Tak Sengaja Ciptakan Ikan Spesies Baru, Seperti Apa?}

Kapal selam tersebut akan mengukur suhu, salinitas, dan tingkat fitoplankton di air di sekitar gunung es. Saat glider berpatroli selama empat bulan, para ilmuwan akan mendapat gambaran tentang dampaknya.

“Gambar terbaru menunjukkan gunung es berukuran sekitar 60 mil di lepas pantai Georgia Selatan. Ia akan menabrak atau bergesekan dengan pulau,” demikian menurut Povl Abrahamsen, kepala tim ilmuwan. (SN/MF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here