📑 Daftar Isi

Litium sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik dan perangkat elektronik

Gunung di AS Simpan Litium Senilai Rp 1.150 Triliun

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • USGS mengungkap Pegunungan Appalachian di AS menyimpan 2,3 juta metrik ton litium
  • Nilai cadangan diperkirakan mencapai USD 65 miliar (Rp 1.150 triliun)
  • Litium ditemukan di Carolina, Maine, dan New Hampshire
  • Cukup memenuhi kebutuhan impor AS selama 328 tahun
  • Bisa memberi daya pada 1,6 juta baterai skala jaringan, 130 juta kendaraan listrik
  • USGS proyeksikan kapasitas produksi litium berlipat ganda pada 2029
  • Australia produsen litium terkemuka, China menyusul ketat
  • Temuan berpotensi mengubah peta persaingan global litium

Telset.id – Pegunungan Appalachian di Amerika Serikat diperkirakan menyimpan cadangan litium raksasa yang belum tergarap. U.S. Geological Survey (USGS) mengungkapkan kawasan tersebut mengandung 2,3 juta metrik ton litium, setara nilai hingga USD 65 miliar atau sekitar Rp 1.150 triliun berdasarkan perhitungan New York Post.

Temuan ini menjadi sorotan karena litium merupakan bahan baku utama baterai untuk kendaraan listrik, laptop, ponsel, hingga penyimpanan energi skala jaringan. Direktur USGS, Ned Mamula, menegaskan bahwa potensi ini bisa menjadi game-changer bagi ketahanan mineral AS.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah Appalachian menyimpan cukup litium untuk membantu memenuhi kebutuhan negara yang terus meningkat, sebuah kontribusi besar bagi ketahanan mineral AS, di saat permintaan litium global sedang melonjak tajam,” ujar Mamula seperti dikutip detikINET dari Yahoo Finance.

Potensi Litium di Tiga Negara Bagian

Menurut laporan USGS, litium di gugusan pegunungan Pantai Timur tersebut utamanya ditemukan di tiga negara bagian: Carolina, Maine, dan New Hampshire. Jika angka 2,3 juta metrik ton terbukti benar, mineral tersebut akan cukup memenuhi kebutuhan impor AS selama 328 tahun berdasarkan tingkat impor tahun 2025.

Jumlah litium yang berpotensi tersimpan di Pegunungan Appalachian dapat memberi daya pada 1,6 juta baterai skala jaringan, 130 juta kendaraan listrik, 180 miliar laptop, dan 500 miliar ponsel, sebagaimana diperkirakan oleh USGS.

Peningkatan kapasitas tersebut menjadi sangat penting mengingat USGS memproyeksikan bahwa kapasitas produksi litium akan berlipat ganda pada tahun 2029 akibat meningkatnya permintaan untuk produk-produk ini.

Metode dan Validasi Data

Untuk mengukur kandungan litium di pegunungan tersebut, ilmuwan USGS memanfaatkan berbagai alat dan metode, termasuk peta geologi, sejarah tektonik, pengambilan sampel geokimia, survei geofisika, dan catatan mineral. Setelah melakukan simulasi, mereka mendapatkan perkiraan angka 2,3 juta metrik ton tersebut, serta menyajikannya dengan interval kepercayaan 50% yang menunjukkan bahwa tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah sama-sama mungkin terjadi.

Sekalipun nanti jumlahnya kurang dari perkiraan, temuan ini tetap merupakan sesuatu yang sangat besar bagi industri pertambangan domestik dan teknologi yang bergantung pada baterai litium ion.

Mamula menambahkan, “Amerika Serikat adalah produsen litium dominan di dunia tiga dekade lalu dan penelitian ini menyoroti potensi yang melimpah untuk merebut kembali kemandirian mineral kita.”

Peta Persaingan Global

Menurut laporan Mineral Commodity Summaries 2026 dari USGS, Australia saat ini menjadi produsen litium terkemuka di dunia, menyumbang hampir sepertiga dari total pasokan global. China menyusul dengan ketat dan tingkat pemurnian serta konsumsi litiumnya terus meningkat seiring pesatnya penerapan teknologi bertenaga baterai, termasuk kendaraan listrik.

Temuan di Pegunungan Appalachian ini berpotensi mengubah peta persaingan global, mengingat AS pernah menjadi produsen litium dominan tiga dekade lalu. Kini, dengan cadangan baru yang teridentifikasi, AS memiliki peluang untuk merebut kembali posisinya di pasar litium dunia.

Penelitian ini menjadi langkah awal yang krusial. USGS menekankan bahwa eksplorasi lebih lanjut masih diperlukan untuk memvalidasi angka pasti cadangan litium di kawasan tersebut. Namun, tanpa data tambahan dari sumber, tidak dapat diinformasikan lebih lanjut mengenai jadwal eksplorasi atau investasi yang akan dilakukan.

Implikasinya, jika terbukti, temuan ini dapat memperkuat rantai pasok baterai dalam negeri AS dan mengurangi ketergantungan pada impor litium dari negara lain, terutama di tengah persaingan global yang semakin ketat untuk mengamankan sumber daya mineral strategis ini.

Komentar

Belum ada komentar.