Ilustrasi roket Long March 10B China bersiap lepas landas dari landasan peluncuran

China Berhasil Uji Coba Tangkap Roket dengan Jaring di Laut

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • China berhasil melakukan uji coba penangkapan roket pertama di dunia menggunakan jaring di laut
  • Roket Long March 10B lepas landas dari Wenchang Spacecraft Launch Site pada 10 Juli 2026
  • Tahap pertama roket ditangkap oleh sistem jaring kabel di kapal Linghangzhe
  • Metode ini berbeda dengan pendekatan SpaceX yang menggunakan kaki pendarat
  • Roket mampu membawa muatan 16 metrik ton ke orbit rendah Bumi
  • China berencana menerbangkan kembali roket yang berhasil dipulihkan sebelum akhir 2026
  • Keberhasilan ini menjadi langkah besar menuju reusable rocket dan menyaingi dominasi SpaceX
  • Pejabat US Space Force khawatir China akan menutup celah frekuensi peluncuran

Telset.id – China mencatat sejarah baru dalam program antariksa nasionalnya dengan berhasil melakukan uji coba penangkapan roket pertama di dunia menggunakan jaring di laut. Keberhasilan ini menjadi langkah besar menuju pengembangan roket yang dapat digunakan kembali (reusable rocket), menyaingi capaian SpaceX.

Pada 10 Juli 2026 pukul 12:15 waktu setempat, roket Long March 10B milik China sukses melakukan penerbangan perdananya dari Wenchang Spacecraft Launch Site di Provinsi Hainan. Sekitar enam menit setelah lepas landas, tahap pertama roket berhasil memisahkan diri dan melakukan penurunan terkendali yang kemudian ditangkap oleh sistem jaring kabel di atas kapal pemulihan khusus bernama Linghangzhe.

Pencapaian ini merupakan yang pertama di dunia. Tidak ada program antariksa lain yang pernah berhasil menangkap roket kelas orbital dengan cara seperti ini. Metode yang digunakan China berbeda dengan pendekatan SpaceX yang menggunakan kaki pendarat dan platform beton atau kapal drone.

Roket Long March 10B sendiri merupakan roket dua tahap kelas menengah yang mampu membawa muatan sekitar 16 metrik ton ke orbit rendah Bumi. Kapasitas ini sedikit di bawah kemampuan Falcon 9 milik SpaceX. Tahap pertama roket ditenagai oleh tujuh mesin YF-100K yang menggunakan bahan bakar minyak tanah dan oksigen cair, sementara tahap kedua menggunakan satu mesin YF-219 berbahan bakar metana.

China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) mengonfirmasi bahwa misi utama berhasil dengan muatan satelit mencapai orbit yang ditentukan. China berencana untuk menerbangkan kembali roket yang berhasil dipulihkan tersebut sebelum akhir tahun 2026.

Keberhasilan uji coba ini menjadi sinyal serius bagi persaingan antariksa global. Reusability atau kemampuan penggunaan kembali roket adalah alasan utama mengapa SpaceX saat ini dapat meluncurkan roket dengan kecepatan sekitar dua kali lipat dari gabungan seluruh roket China. Celah dalam frekuensi peluncuran inilah yang memungkinkan SpaceX mendominasi kontrak peluncuran komersial.

Pejabat US Space Force sebelumnya telah menyatakan kekhawatiran mereka tentang apa yang akan terjadi ketika China berhasil menutup celah tersebut. Pemulihan roket ini mungkin tidak langsung menutup kesenjangan, tetapi ini adalah tanda kredibel pertama bahwa China berada di jalur yang sama dan dapat mengejar ketertinggalan dalam waktu yang cukup singkat.

Metode penangkapan dengan jaring ini menunjukkan inovasi China dalam pendekatan pemulihan roket. Tanpa kaki pendarat dan tanpa pendaratan vertikal, sistem jaring di kapal Linghangzhe menjadi alternatif yang unik dan efektif. Keberhasilan ini membuktikan bahwa ada lebih dari satu cara untuk mencapai tujuan yang sama: roket yang dapat digunakan kembali.

Keberhasilan China ini juga menandai babak baru dalam perlombaan antariksa global. Dengan kemampuan memulihkan dan menerbangkan kembali roket, China berpotensi meningkatkan frekuensi peluncuran secara signifikan. Hal ini akan berdampak langsung pada pasar peluncuran komersial yang saat ini didominasi oleh SpaceX.

Para ahli antariksa menilai bahwa langkah China ini akan mempercepat pengembangan teknologi roket reusable di negara lain. Persaingan yang semakin ketat ini pada akhirnya akan menguntungkan industri antariksa global dengan mendorong inovasi dan menekan biaya peluncuran.

Meskipun metode yang digunakan berbeda, prinsip dasarnya tetap sama: menangkap dan memulihkan tahap pertama roket agar dapat digunakan kembali untuk misi berikutnya. China kini telah membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan teknis untuk melakukannya.

Ke depan, China diperkirakan akan terus mengembangkan teknologi ini untuk meningkatkan keandalan dan efisiensi. Uji coba lebih lanjut akan dilakukan untuk menyempurnakan sistem penangkapan dan memastikan roket yang dipulihkan dalam kondisi optimal untuk diterbangkan kembali.

Keberhasilan uji coba penangkapan roket dengan jaring di laut ini menjadi bukti nyata kemajuan pesat China dalam teknologi antariksa. Dengan target menerbangkan kembali roket yang berhasil dipulihkan sebelum akhir 2026, China menunjukkan komitmennya untuk bersaing di level tertinggi industri antariksa global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.