📑 Daftar Isi

Ilustrasi wahana BepiColombo milik ESA dan JAXA saat mendekati planet Merkurius

BepiColombo Sukses Pisah, Misi ESA-JAXA Siap Orbit Merkurius 2027

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Modul propulsi BepiColombo berhasil berpisah pada 3 September
  • Misi bersama ESA dan JAXA menempuh 9,9 miliar kilometer dari Bumi
  • Sembilan manuver gravity assist: Bumi sekali, Venus dua kali, Merkurius enam kali
  • Wahana akan terpecah menjadi MPO dan Mio untuk orbit simultan pertama
  • MPO mencapai orbit akhir Maret 2027, observasi ilmiah mulai April 2027
  • Misi akan uji teori relativitas umum Einstein dan asal-usul planet terestrial

Telset.id – Misi antariksa bersama European Space Agency (ESA) dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), BepiColombo, resmi memasuki fase akhir setelah modul propulsinya berhasil berpisah dari bagian utama wahana pada 3 September. Konfirmasi dari pusat kendali Bumi ini menandai tahap krusial sebelum dua probe ilmiahnya mulai mengorbit Merkurius secara simultan untuk pertama kalinya.

Perjalanan BepiColombo menuju planet terdekat dengan Matahari itu tidak berlangsung mulus. Transmisi dari probe menunjukkan seluruh proses separasi berjalan lancar, meski wahana telah menempuh jarak lebih dari 200 juta kilometer dari Bumi. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam misi yang dirancang untuk mengungkap misteri planet yang baru dua kali dijelajahi manusia, keduanya oleh probe milik NASA.

Merkurius dikenal sebagai salah satu tujuan tersulit dalam eksplorasi tata surya. Posisinya yang paling dekat dengan Matahari membuat wahana harus menghadapi tantangan gravitasi ekstrem. Saat bergerak menuju pusat tata surya, sebuah pesawat antariksa pada dasarnya “jatuh” dari Bumi menuju gravitasi Matahari yang jauh lebih besar. Bagian yang mudah justru berubah menjadi rumit ketika wahana harus berhenti jatuh dan mulai mengerem.

Strategi Manuver Gravitasi BepiColombo

Untuk mencapai Merkurius, BepiColombo membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar, bukan untuk melaju, melainkan untuk menyalakan roket pengereman. Alternatifnya, wahana dapat memanfaatkan gravitasi planet lain sebagai sarana memperlambat laju, meski harus menempuh jalur berkelok yang melingkari antarobjek langit. Hingga saat ini, BepiColombo telah menempuh sekitar 6 miliar mil atau setara 9,9 miliar kilometer, dengan sembilan manuver gravity assist yang mencakup satu kali mengelilingi Bumi, dua kali Venus, dan enam kali Merkurius.

Tantangan tidak berhenti pada navigasi. Karena berada sangat dekat dengan Matahari, permukaan Merkurius bisa mencapai suhu ekstrem melebihi 800 derajat Fahrenheit atau sekitar 430 derajat Celsius. Tanpa atmosfer yang berarti, suhu planet kecil ini anjlok hingga -290 derajat Fahrenheit atau -180 derajat Celsius pada malam hari. BepiColombo dituntut mampu bertahan tidak hanya pada kondisi ekstrem tersebut, tetapi juga pada fluktuasi suhu harian yang drastis.

Baca Juga:

Setelah berada di posisi yang tepat, BepiColombo akan terpecah menjadi dua wahana terpisah. Mercury Planetary Orbiter (MPO) bertugas mempelajari permukaan dan struktur internal Merkurius. Sementara Mercury Magnetospheric Orbiter yang dijuluki “Mio” akan menyelidiki medan magnet dan atmosfer tipis planet tersebut. Ini menjadi kali pertama beberapa probe mengorbit Merkurius secara bersamaan, dengan tujuan memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh dibandingkan yang bisa ditangkap satu probe saja.

Jadwal Orbit dan Observasi Ilmiah

Mio akan memasuki orbit elips yang lebih tinggi dan berorientasi melintasi kutub. MPO kemudian akan menurunkan ketinggiannya lebih jauh dan dijadwalkan mencapai orbit akhirnya pada Maret 2027. Meski kedua probe telah mengambil posisi, observasi skala penuh tidak akan langsung dimulai. Keduanya harus melalui serangkaian prosedur, termasuk penyebaran sunshield penting milik Mio, sebelum melakukan pengamatan ilmiah yang dijadwalkan mulai April 2027.

Kedua probe akan berupaya mengungkap jawaban atas berbagai hal yang masih belum diketahui tentang planet yang bergerak cepat ini. Beberapa pertanyaan kunci meliputi alasan Merkurius memiliki inti besi yang sangat besar relatif terhadap ukurannya, mengapa es tetap ada di kawah yang selalu tertutup bayangan di kutub meski panas menyengat, mengapa Merkurius menjadi satu-satunya planet berbatu selain Bumi yang memiliki medan magnet sendiri, serta sifat sebenarnya dari depresi misterius yang disebut “hollows” yang menghiasi permukaannya.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diharapkan memberikan petunjuk penting tentang bagaimana planet-planet terestrial, termasuk Bumi, terbentuk dan berevolusi di dalam tata surya. Para astrofisikawan juga berencana memanfaatkan data orbit presisi dari misi ini untuk menguji teori relativitas umum Einstein. Karena kedekatannya dengan Matahari, Merkurius menjadi lokasi ideal untuk memverifikasi distorsi gravitasi ruang-waktu.

Perkembangan misi BepiColombo ini menjadi bagian dari lanskap inovasi teknologi antariksa yang terus bergerak, sejalan dengan berbagai terobosan di sektor lain seperti yang terlihat pada valuasi AfterQuery yang menunjukkan percepatan adopsi teknologi. Misi ESA-JAXA ini menegaskan bahwa eksplorasi luar angkasa tetap menjadi medan uji paling menantang bagi rekayasa manusia, terutama dalam menghadapi kondisi ekstrem yang tidak dapat direplikasi di Bumi.

Dengan sembilan manuver gravity assist yang telah dilalui dan jarak hampir 10 miliar kilometer, BepiColombo kini berada di ambang fase paling menentukan. Keberhasilan separasi modul propulsi menjadi sinyal bahwa seluruh perhitungan navigasi selama bertahun-tahun berjalan sesuai rencana. Jika jadwal observasi April 2027 tercapai, misi ini akan membuka babak baru dalam pemahaman manusia tentang Merkurius dan asal-usul tata surya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.