Telset.id – Printer yang selama ini dianggap perangkat pasif dan aman ternyata menjadi titik lemah keamanan siber yang sering diabaikan perusahaan. Risiko keamanan printer kini menjadi perhatian serius karena perangkat ini merupakan endpoint jaringan yang terhubung ke lingkungan cloud rahasia dan sering dikelola oleh vendor pihak ketiga, sehingga memperluas permukaan serangan yang berpotensi membahayakan data perusahaan.
Temuan dari HP menunjukkan bahwa 57% pengambil keputusan TI menilai keamanan cetak sebagai prioritas rendah dalam strategi keamanan siber mereka. Lebih mengkhawatirkan lagi, 45% dari mereka tidak yakin lingkungan cetak mereka memenuhi standar kepatuhan. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa dua pertiga pekerja pengetahuan berasumsi printer jaringan aman secara default, sehingga kemungkinan terjadinya pelanggaran keamanan akibat printer bukan lagi persoalan “apakah” tetapi “kapan”.
Insiden Nyata dan Dampaknya
Singapura menjadi contoh nyata risiko ini pada 2025, ketika serangan ransomware terhadap vendor percetakan untuk cabang Bank of China di Singapura mengekspos 11.200 nama nasabah dan detail akun. Insiden ini menjadi bukti jelas bagaimana vendor cetak dapat menjadi mata rantai terlemah dalam jaringan yang seharusnya solid.
Kebocoran data dari printer dapat terjadi melalui berbagai cara. Hard drive yang tidak terenkripsi dan firmware yang tidak di-patch menjadi celah yang mudah dieksploitasi. Riwayat cetak juga dapat mengungkap dokumen yang ditinggalkan di baki keluaran printer. Sementara itu, pekerja jarak jauh yang mencetak di rumah menggunakan perangkat yang tidak dikelola dan Wi-Fi yang tidak aman, sehingga visibilitas terhadap apa yang dicetak dan ke mana hasil cetakan pergi menjadi sangat minim.
Ketika pekerjaan cetak dirutekan melalui server cloud pihak ketiga tanpa enkripsi end-to-end, file yang sedang dikirim menjadi terekspos. Pemberian akses administratif jaringan kepada vendor MPS eksternal juga menciptakan pintu belakang di mana penyerang dapat dengan mudah masuk ke jaringan korporat jika vendor tersebut dikompromikan.
Baca Juga:
Kepatuhan Regulasi dan Risiko Hukum
Bagi perusahaan jasa keuangan di Inggris, kondisi ini menciptakan risiko operasional dan regulasi yang serius. Otoritas Perilaku Keuangan (FCA) tidak memiliki batas atas denda, dan ekspektasi mereka terhadap tata kelola data mencakup cara perusahaan menangani informasi secara fisik, bukan hanya digital. Regulator tidak akan membedakan antara pelanggaran yang disebabkan oleh server yang dikompromikan dengan yang disebabkan oleh baki keluaran printer yang tidak diawasi; kewajiban untuk melindungi data nasabah tetap sama.
Perusahaan dapat mengenkripsi data saat transit, menerapkan autentikasi multi-faktor (MFA), dan melakukan segmentasi jaringan, namun tetap menghadapi eksposur jika printer atau vendor MPS menjadi titik kegagalan. Penanganan data elektronik dan fisik yang salah dapat menyebabkan hukuman regulasi yang berat, sehingga perusahaan perlu mengambil langkah-langkah seperti enkripsi data, penerapan MFA, segmentasi jaringan, dan deteksi endpoint yang tajam sebagai fondasi keamanan yang solid.
Meskipun alur kerja semakin digital, printer tidak akan hilang. Tuntutan regulasi masih membutuhkan salinan fisik dan tanda tangan tinta, menempatkan infrastruktur cetak di jantung percakapan yang lebih luas tentang otomatisasi dan pemrosesan dokumen cerdas. Setiap pekerjaan cetak, pindai, atau perutean berada di antara alur kerja fisik dan digital, menjadikannya pengungkit yang kuat untuk perbaikan proses end-to-end.
Penjahat siber menyadari hal ini, dan kelalaian dalam keamanan printer menjadi pintu terbuka menuju data rahasia. Platform manajemen cetak berbasis cloud yang sadar konten dapat menutup celah ini. Dengan menghilangkan server cetak fisik, bisnis dapat mengelola printer secara terpusat, mengotomatiskan instalasi driver, dan menegakkan “pull printing” yang aman, di mana dokumen hanya dilepaskan setelah pengguna melakukan autentikasi di perangkat.
Banyak platform cetak berbasis cloud berjalan di Azure, sehingga keamanan yang sama yang melindungi email dan Teams dapat diperluas ke cetak. Dokumen diperiksa terhadap aturan sadar konten yang menentukan apakah dokumen tersebut dapat dicetak atau harus dilaporkan, dengan pekerjaan yang ditandai diblokir atau ditingkatkan secara otomatis. Bisnis juga dapat menggunakan integrasi yang kompatibel dengan S3 untuk menghindari vendor lock-in, menjaga pelepasan aman terpisah dari produk, sehingga tidak ada yang terinstal di printer itu sendiri dan semuanya dikelola dari jarak jauh.
Keamanan pada akhirnya adalah masalah tingkat dewan direksi, dan printer perlu diperlakukan sebagai endpoint yang sebenarnya. Ini berarti memperluas deteksi endpoint dan patching firmware ke armada cetak, serta memperluas tata kelola ke pencetakan jarak jauh, bahkan jika itu berarti membatasi apa yang dapat dicetak di rumah. Visibilitas adalah kunci di sini. Dalam manajemen risiko pihak ketiga, jejak kertas seharusnya menceritakan kisah yang koheren, tetapi jarang terjadi. Bukti pengawasan terlalu sering tersebar di utas email, dokumen fisik, dan file lokal. Memeriksa vendor MPS adalah cara bisnis menutup celah itu, tetapi pekerjaan dimulai dengan memperlakukan infrastruktur cetak seserius endpoint lain di jaringan.
Artikel ini ditulis oleh Kate Bohn, Industry Consultant di Tungsten Automation, dan dipublikasikan sebagai bagian dari TechRadar Pro Perspectives. Pandangan yang diungkapkan adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan TechRadarPro atau Future plc. Untuk keamanan yang lebih baik, perusahaan juga perlu memperhatikan risiko dari perangkat lain yang terhubung, seperti yang dibahas dalam artikel tentang Cara Efektif Mencegah Browser Fingerprinting di Chrome, Edge, dan Safari. Sementara itu, perkembangan teknologi cetak juga terus berlanjut, termasuk Replika FPGA F-14 Tomcat CADC yang berhasil diuji dengan sayap 3D printed, menunjukkan bahwa industri percetakan terus berinovasi di berbagai bidang.





Komentar
Belum ada komentar.