Radiasi 5G Dianggap Bahayakan Burung dan Serangga

burung

Telset.id, Jakarta – Radiasi elektromagnetik dari jaringan listrik, Wi-Fi, tiang telepon, dan pemancar siaran ternyata menimbulkan ancaman serius bagi kehidupan. Ironisnya, lansir Newsweek, para ahli lingkungan memperingatkan bahwa peluncuran jaringan 5G bisa mengakibatkan bahaya yang lebih besar.

Sebuah analisis dari 97 studi oleh badan peninjau yang didanai Uni Eropa, EKLIPSE, menyimpulkan bahwa radiasi adalah risiko potensial terhadap orientasi serangga, burung, serta kesehatan tanaman. Namun, badan amal Buglife memperingatkan, meski ada bukti, hanya ada sedikit penelitian yang dilakukan untuk menilai dampaknya.

Buglife mengatakan, dampak serius akibat jaringan 5G terhadap lingkungan tidak dapat dikesampingkan. Karenanya, pemancar 5G diharapkan berada jauh dari lampu jalan yang menarik serangga atau area di mana mereka bisa membahayakan satwa liar.

”Kami menerapkan batasan untuk semua jenis polusi guna melindungi kelayakan lingkungan hidup. Tapi, sampai sekarang, bahkan di Eropa, batas aman radiasi elektromagnetik belum ditentukan, apalagi diterapkan,” kata Matt Shardlow, CEO Buglife.

Menurutnya, ada risiko yang dipercaya bahwa 5G bisa berdampak signifikan terhadap satwa liar. Dan, menempatkan pemancar lampu jalan LED yang menarik serangga pada malam hari akan meningkatkan paparan yang berisiko.

Tak mau hal itu terjadi, Buglife menyerukan kepada semua operator jaringan 5G untuk memasukkan studi terperinci tentang pengaruh dan dampaknya terhadap satwa liar. Nantinya, hasil penelitian tersebut akan dipublikasikan.

Tahun ini, Laporan EKLIPSE menemukan bahwa orientasi magnetik burung, mamalia, dan invertebrata seperti serangga dan laba-laba dapat terganggu oleh radiasi elektromagnetik (EMR). Ditemukan juga bahwa metabolisme tanaman akan diubah oleh EMR.

Baca juga: Smartphone 5G Huawei Segera Diperkenalkan Tahun Depan

Para penulis menyimpulkan, ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat dasar ilmiah pengetahuan tentang EMR dan dampak potensial mereka terhadap satwa liar.

Secara khusus, ada kebutuhan untuk mendasarkan penelitian masa depan kepada eksperimen yang berkualitas, berkualitas tinggi, dapat direplikasi sehingga ada bukti yang kredibel, transparan, dan mudah diakses. [BA/HBS]

 

 

Sumber: Newsweek

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here