📑 Daftar Isi

Logo Polymarket dalam artikel tentang upaya lobi ke regulator Uni Eropa dan Inggris

Polymarket Lobi Uni Eropa dan Inggris Agar Tak Dianggap Situs Judi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Polymarket melobi regulator Uni Eropa dan Inggris agar dianggap layanan keuangan, bukan situs judi
  • Berkomunikasi dengan European Commission dan ESMA untuk diatur di bawah aturan MiFID
  • Perwakilan Polymarket bertemu CEO FCA Nikhil Rathi
  • Spanyol blokir Polymarket dan Kalshi pada Mei, Prancis perintahkan ISP blokir akses pada Juli
  • ESMA peringatkan prediction market marak perdagangan orang dalam

Telset.id – Polymarket dilaporkan tengah melobi sejumlah regulator di Uni Eropa dan Inggris agar platformnya diperlakukan sebagai penyedia layanan keuangan, bukan sebagai situs judi. Langkah ini ditempuh perusahaan prediction market tersebut untuk bisa lepas dari jerat aturan perjudian yang membuat operasionalnya diblokir di sejumlah negara Eropa.

Informasi ini pertama kali dilaporkan Financial Times. Menurut laporan tersebut, Polymarket telah berbicara dengan otoritas di Uni Eropa dan Inggris dengan tujuan meyakinkan mereka bahwa bisnisnya lebih tepat diatur sebagai bagian dari sektor jasa keuangan. Jika berhasil, Polymarket berharap bisa membalikkan status pemblokiran yang saat ini berlaku di Spanyol dan Prancis.

Polymarket sendiri merupakan situs “prediction market” yang memberi pengguna cara untuk bertaruh pada hasil berbagai peristiwa dunia nyata. Objek taruhannya mencakup pemilihan umum, pertandingan dan turnamen olahraga, pembukaan box office film, hingga konflik internasional.

Upaya Polymarket Menembus Aturan MiFID

Dalam upayanya tersebut, Polymarket dikabarkan telah berkomunikasi dengan European Commission dan European Securities and Markets Authority (ESMA). Perusahaan berharap kedua lembaga itu setuju untuk mengatur platformnya di bawah aturan MiFID. MiFID atau Markets in Financial Instruments Directive adalah hukum Uni Eropa yang memuat aturan standar untuk layanan investasi.

Alasan Polymarket mendorong skema ini berkaitan dengan fragmentasi aturan di kawasan Eropa. Setiap negara anggota Uni Eropa memiliki hukum perjudian yang berbeda-beda, sehingga menyulitkan Polymarket untuk beroperasi di kawasan tersebut. Dengan berada di bawah payung aturan MiFID, perusahaan bisa menghadapi satu kerangka regulasi yang lebih seragam.

Selain berbicara dengan pihak Uni Eropa, perwakilan Polymarket juga dikabarkan telah bertemu dengan Nikhil Rathi. Ia menjabat sebagai chief executive Financial Conduct Authority (FCA), regulator untuk perusahaan dan pasar jasa keuangan di Inggris.

Upaya lobi ini bukan tanpa kendala. Di dalam negeri sendiri, Polymarket menghadapi sejumlah persoalan, termasuk insiden keamanan yang pernah menimpa platformnya. Sebelumnya, Polymarket Diretas dan dana pengguna dilaporkan dicuri melalui pihak ketiga.

Blokir Spanyol dan Prancis Jadi Latar Belakang Lobi

Langkah lobi Polymarket tidak lepas dari tekanan regulasi yang sudah berjalan di beberapa negara Eropa. Spanyol memblokir Polymarket dan Kalshi di negaranya pada Mei, bersamaan dengan penyelidikan atas legalitas keduanya untuk beroperasi tanpa lisensi perjudian. Pada Juli, Prancis memerintahkan penyedia layanan internet (ISP) untuk memblokir akses warga setempat ke Polymarket.

Berdasarkan aturan yang berlaku saat ini, Polymarket diwajibkan mengantongi lisensi perjudian di negara-negara Uni Eropa. Posisi FCA Inggris juga menjadi tantangan tersendiri. FCA sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya memiliki kewenangan untuk mengawasi prediction market pada “peristiwa keuangan atau peristiwa iklim tertentu”. Namun, platform yang menawarkan perdagangan atas hasil politik dan olahraga berada di bawah otoritas Gambling Commission.

Sikap ESMA pun tampaknya belum sejalan dengan harapan Polymarket. Mengutip laporan Financial Times, ESMA terlihat tidak antusias melonggarkan aturan Uni Eropa soal prediction market. ESMA baru-baru ini bahkan mengeluarkan peringatan bahwa praktik tersebut “rife with insider trading” atau marak dengan perdagangan orang dalam.

Peringatan itu bukan tanpa dasar. Dalam beberapa bulan terakhir, seorang karyawan Google, tiga kandidat politik, dan seorang staf White House tertangkap melakukan perdagangan berdasarkan informasi orang dalam di platform-platform tersebut.

Selain isu perdagangan orang dalam, Polymarket juga disebut-sebut pernah membayar influencer media sosial untuk mengunggah video taruhan palsu sebagai iklan. Menurut laporan sebelumnya dari The Wall Street Journal, separuh dari taruhan “menang” yang ditampilkan dalam video-video palsu itu sebenarnya akan kalah di dunia nyata.

Dinamika kompetisi di sektor prediction market juga semakin ramai. Meta dikabarkan tengah menyiapkan aplikasi bernama Arena yang menyasar segmen serupa. Langkah tersebut membuat lanskap Prediction Markets kian kompetitif di tengah ketidakpastian regulasi di Eropa.

Dengan posisi Polymarket yang masih berstatus diblokir di Spanyol dan Prancis, hasil lobi ke European Commission, ESMA, dan FCA akan menentukan apakah perusahaan bisa kembali beroperasi di kawasan tersebut. Sampai saat itu, pengguna di negara-negara terkait masih menghadapi pembatasan akses yang berlaku saat ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.