Ilustrasi penggerebekan kantor Supermicro oleh Kejaksaan Distrik Keelung terkait penyelundupan chip AI Nvidia ke China.

Penggerebekan Supermicro Taiwan Perluas Investigasi Chip AI Nvidia ke China

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Kejaksaan Distrik Keelung, Taiwan, menggerebek kantor Supermicro, enam rumah individu, dan tiga perusahaan afiliasi.
  • Saham Supermicro turun 8% di AS, Albatron turun 10% di Taipei, dan Chief Telecom turun lebih dari 2%.
  • Hukum Taiwan tidak mengkriminalisasi ekspor chip AI tanpa izin ke China, sehingga jaksa menggunakan tuduhan pemalsuan dokumen.
  • Enam orang diperiksa atas pelanggaran dokumen, bukan karena melanggar pembatasan ekspor.
  • AS menuntut Wally Liaw, salah satu pendiri Supermicro, atas konspirasi pengalihan server Nvidia senilai USD 2,5 miliar ke China.
  • Taiwan sedang mempertimbangkan undang-undang baru yang akan membatasi penjualan chip AI ke semua pelanggan di China.

Telset.id – Kejaksaan Distrik Keelung, Taiwan, memperluas penyelidikan kriminal pertama di pulau itu terkait pengalihan chip AI Nvidia ke China. Penggerebekan pada Senin lalu menyasar kantor Supermicro Computer di Taiwan, rumah enam individu, dan tiga lokasi perusahaan afiliasi, menandai eskalasi signifikan dalam kasus penyelundupan teknologi canggih ini.

Enam orang yang digerebek telah dipanggil untuk diperiksa. Dampaknya langsung terasa di pasar saham; saham Supermicro anjlok 8% dalam perdagangan di Amerika Serikat. Perusahaan tersebut menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka bekerja sama dengan pihak berwenang dan tetap “berkomitmen untuk melindungi teknologi canggih dan kekayaan intelektual kami.”

Penyelidikan ini tidak hanya berhenti pada Supermicro. Menurut laporan Bloomberg yang dikutip, penyidik juga menggeledah distributor Supermicro, Albatron Technology, dan operator pusat data, Chief Telecom. Albatron mengonfirmasi penggeledahan tersebut dalam sebuah pengajuan bursa, melaporkan tidak ada dampak finansial atau operasional, namun sahamnya tetap jatuh 10% di Taipei. Sementara itu, Chief Telecom menyatakan operasionalnya berjalan normal, meskipun sahamnya turun lebih dari 2%.

Super Micro

Kasus ini menyoroti celah hukum yang unik di Taiwan. Hukum Taiwan saat ini tidak mengklasifikasikan ekspor chip AI tanpa izin ke China sebagai tindak pidana. Akibatnya, jaksa penuntut harus menggunakan interpretasi longgar dari undang-undang yang sudah ada untuk membangun kasus mereka. Penggerebekan bulan lalu yang membuka penyelidikan ini akhirnya menghasilkan dakwaan terhadap tiga tersangka, bukan karena melanggar pembatasan ekspor, melainkan karena pemalsuan dokumen pengiriman. Otoritas menyita sekitar 50 server Supermicro yang ditujukan ke China, Hong Kong, dan Makau.

Pola yang sama diterapkan pada pemanggilan hari Senin. Keenam individu diperiksa atas pelanggaran dokumen, bukan terkait ekspor itu sendiri. Situasi ini menjadi ironis mengingat Taiwan adalah yurisdiksi yang memproduksi sebagian besar chip AI canggih dunia melalui TSMC, namun memiliki mekanisme hukum terlemah untuk menghentikan pengalihan ilegalnya.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) telah menempuh jalur hukum yang berbeda. Sebuah dakwaan federal menuduh salah satu pendiri Supermicro, Yih-Shyan “Wally” Liaw, terlibat konspirasi mengalihkan server bermuatan Nvidia senilai sekitar USD 2,5 miliar ke China melalui perusahaan depan di Asia Tenggara. Modus operandinya melibatkan penggunaan server palsu dan label nomor seri yang diangkat dengan panas untuk mengelabui auditor. Liaw mengaku tidak bersalah dan dibebaskan dengan jaminan USD 5 juta. Sidangnya dijadwalkan pada 2 November dan ia menghadapi hukuman hingga 20 tahun penjara jika terbukti bersalah.

Penggerebekan Senin lalu menandai pertama kalinya rantai distribusi itu sendiri menjadi sasaran. Upaya sebelumnya hanya menyasar para eksekutif yang didalangi sebagai otak skema penyelundupan. Supermicro sebelumnya telah menyatakan bahwa kasus sebelumnya menunjukkan risiko yang muncul ketika produknya melewati banyak pihak hilir di luar kendali langsung mereka. Hingga saat ini, Albatron dan Chief Telecom belum didakwa.

Taipei saat ini sedang mempertimbangkan undang-undang baru yang akan membatasi penjualan chip AI ke semua pelanggan di China, tidak hanya perusahaan yang masuk daftar hitam seperti Huawei dan SMIC. Perubahan ini, jika disahkan, akan memungkinkan jaksa untuk menuntut penyelundupan sebagai kejahatan ekspor untuk pertama kalinya. Namun, langkah ini masih dalam pembicaraan dagang dengan Amerika Serikat dan belum final. Sampai undang-undang tersebut disahkan, setiap tindakan oleh pejabat Taiwan harus didasarkan pada tuduhan pemalsuan dan penipuan.

Taipei 101

Kasus ini memiliki implikasi besar bagi industri teknologi global. Chip AI Nvidia, yang diproduksi oleh TSMC di Taiwan, adalah komponen paling kritis dalam perlombaan kecerdasan buatan global. Pengalihan chip ini ke China, yang berada di bawah sanksi ekspor AS, dapat mempercepat kemampuan AI militer China dan mengubah keseimbangan kekuatan teknologi. Penggerebekan ini menunjukkan bahwa Taiwan mulai mengambil tindakan serius, meskipun dengan keterbatasan hukum yang ada.

Penyelidikan yang diperluas ini juga menyoroti kerentanan dalam rantai pasokan chip global. Mulai dari fabrikasi di TSMC, perakitan menjadi server oleh Supermicro, hingga distribusi melalui pihak ketiga seperti Albatron, setiap titik memiliki potensi celah. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan teknologi global tentang pentingnya kepatuhan ekspor dan pengawasan rantai pasokan yang ketat.

Bagi para pengamat industri, kasus ini adalah contoh nyata bagaimana regulasi teknologi berjuang mengejar realitas pasar. Sementara chip AI menjadi komoditas paling berharga di era digital, mekanisme hukum untuk mengontrol pergerakannya masih belum memadai di banyak yurisdiksi. Taiwan, sebagai pusat manufaktur chip global, kini berada di garis depan dalam upaya menutup celah ini.

Ke depan, perkembangan undang-undang baru di Taiwan akan menjadi kunci. Jika disahkan, Taiwan akan memiliki alat hukum yang lebih kuat untuk mencegah pengalihan chip AI. Namun, sampai saat itu tiba, jaksa penuntut harus terus bergantung pada tuduhan pemalsuan dokumen yang lebih ringan. Sementara itu, di AS, proses hukum terhadap Wally Liaw akan menjadi preseden penting bagi penegakan hukum ekspor teknologi di masa depan.

Nvidia RTX Pro supermicro server

Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang etika dan keamanan nasional dalam perdagangan teknologi. Di satu sisi, perusahaan teknologi didorong untuk memaksimalkan keuntungan dan pangsa pasar global. Di sisi lain, mereka harus mematuhi sanksi dan kontrol ekspor yang semakin ketat. Ketegangan ini menciptakan lingkungan yang rawan pelanggaran, seperti yang terlihat dalam kasus Supermicro.

Bagi Taiwan, kasus ini adalah ujian kredibilitas sebagai mitra dagang yang bertanggung jawab. Sebagai rumah bagi TSMC, Taiwan memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk memastikan bahwa chip AI tidak jatuh ke tangan yang salah. Kegagalan dalam hal ini tidak hanya akan merusak hubungan dengan AS, tetapi juga dapat mengancam posisi Taiwan sebagai pusat manufaktur chip global yang terpercaya.

Super Micro Server rack

Penggerebekan ini adalah pengingat keras bahwa era kontrol teknologi baru saja dimulai. Dengan nilai chip AI yang mencapai miliaran dolar, insentif untuk menyelundupkannya akan terus ada. Hanya dengan kerjasama internasional yang kuat dan kerangka hukum yang kokoh, pengalihan ilegal ini dapat dihentikan secara efektif.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.