Ilustrasi seorang pekerja wanita menggunakan headset VR di kantor dengan layar futuristik di depannya

Riset Box: AI Justru Ciptakan Lapangan Kerja Baru, Bukan PHK Massal

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Riset Box menemukan 65% ITDM di Inggris perkirakan jumlah karyawan bertambah berkat AI
  • Hanya 8% perusahaan yang menggunakan AI melaporkan PHK
  • Peran baru seperti operator agen AI (48%) dan spesialis keamanan (31%) mulai banyak dibutuhkan
  • 94% ITDM setuju tata kelola yang lebih baik akan mempercepat adopsi AI
  • AI tidak menggantikan manusia, melainkan menciptakan kolaborasi untuk capai tujuan lebih tinggi

Telset.id – Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan atau AI akan menggantikan pekerja manusia mulai terbantahkan. Sebuah riset terbaru dari Box, perusahaan penyedia solusi cloud, justru menemukan bahwa adopsi AI mendorong pertumbuhan jumlah karyawan di perusahaan, bukan sebaliknya.

Riset yang dilakukan Box mengungkapkan bahwa dua pertiga (65%) pengambil keputusan IT di Inggris memperkirakan jumlah karyawan akan bertambah dalam tiga tahun ke depan. Hanya 14% yang percaya bahwa jumlah karyawan akan berkurang. Temuan ini menjadi sinyal positif di tengah narasi yang seringkali mengaitkan AI dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Box menyebutkan bahwa kita kini memasuki era ‘agentic enterprise’, di mana agen AI tertanam dalam alur kerja sehari-hari dan memiliki pengetahuan serta konteks di seluruh organisasi. Meskipun agen AI menjadi lebih canggih, dampaknya terhadap pekerja manusia diperkirakan positif. Dari semua perusahaan yang menggunakan atau menguji agen AI, hanya 8% yang melaporkan terjadinya PHK.

Seorang pekerja wanita menggunakan headset VR di kantor di depan layar futuristik

Alih-alih mengurangi lapangan kerja, AI justru menciptakan peran-peran baru. Hampir setengah (48%) dari seluruh organisasi saat ini sedang merekrut untuk posisi operator agen AI di tim IT. Selain itu, spesialis otomatisasi alur kerja (32%), profesional keamanan, risiko, dan kepatuhan (31%), manajemen perubahan dan peran AI enablement (31%), serta spesialis etika dan tata kelola AI (26%) menjadi peluang krusial bagi pekerja manusia.

“Seiring organisasi merangkul fase AI berikutnya, fokus mulai bergeser dari peningkatan produktivitas individu menuju transformasi cara kerja,” ujar Presiden EMEA Box, Samantha Wessels.

Peluang di bidang keamanan diprediksi akan semakin besar. Hampir satu dari dua perusahaan (45%) pernah mengalami insiden paparan data terkait AI. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan tenaga profesional keamanan siber akan terus meningkat. Box juga menekankan bahwa bukanlah soal memilih antara manusia atau AI, melainkan bagaimana keduanya dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Sebanyak 94% ITDM percaya bahwa tata kelola yang lebih baik akan membantu mereka mengadopsi AI secara lebih cepat.

Riset Box ini memberikan perspektif baru dalam diskusi mengenai dampak AI terhadap pasar tenaga kerja. Alih-alih menjadi ancaman, AI justru membuka peluang karir baru yang sebelumnya tidak ada. Peran seperti operator agen AI dan spesialis keamanan AI adalah contoh nyata bagaimana teknologi menciptakan permintaan akan keahlian baru.

Bagi para profesional IT, ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan keterampilan di bidang terkait AI, tata kelola data, dan keamanan siber. Perusahaan pun perlu mulai merancang strategi pengembangan talenta untuk mengisi peran-peran baru ini.

Kesimpulannya, riset Box dengan jelas menunjukkan bahwa adopsi AI di lingkungan perusahaan tidak serta merta berujung pada PHK massal. Sebaliknya, AI mendorong pertumbuhan jumlah karyawan dan menciptakan lapangan kerja baru yang lebih terspesialisasi. Kunci keberhasilannya adalah tata kelola yang baik dan kesiapan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan. Bagi para pengambil keputusan IT, temuan ini menjadi landasan untuk merancang strategi adopsi AI yang lebih optimistis dan berorientasi pada pertumbuhan.

Dengan hanya 8% perusahaan yang melaporkan PHK akibat AI, narasi bahwa AI adalah ‘pembunuh lapangan kerja’ perlu dikaji ulang. Faktanya, perusahaan justru melihat AI sebagai alat untuk meningkatkan kapasitas dan mencapai tujuan yang lebih besar, bukan sebagai pengganti manusia.

Artificial intelligence India

Pergeseran narasi ini terjadi pada saat yang penting, di mana AI berevolusi dari tahap eksperimen menuju penerapan nyata. Perusahaan tidak lagi sekadar ‘mencoba-coba’ AI, tetapi mulai mengintegrasikannya ke dalam operasi bisnis inti. Hal ini menciptakan kebutuhan akan tenaga ahli yang dapat mengelola, mengoptimalkan, dan mengawasi sistem AI tersebut.

Peran operator agen AI, misalnya, menjadi salah satu yang paling banyak dicari. Posisi ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang cara kerja agen AI, kemampuan untuk memonitor kinerjanya, dan keterampilan untuk melakukan perbaikan jika terjadi kesalahan. Ini adalah profesi yang sepenuhnya baru dan lahir dari perkembangan AI.

Selain itu, meningkatnya kekhawatiran akan keamanan data di era AI mendorong permintaan akan profesional keamanan, risiko, dan kepatuhan. Dengan hampir setengah perusahaan mengalami insiden paparan data terkait AI, kebutuhan akan ahli yang dapat melindungi data perusahaan dari ancaman siber menjadi semakin krusial. Peran ini tidak hanya relevan bagi perusahaan teknologi, tetapi juga bagi semua organisasi yang menggunakan AI.

Spesialis etika dan tata kelola AI juga menjadi profesi yang mulai dilirik. Perusahaan menyadari bahwa adopsi AI harus dilakukan secara bertanggung jawab dan etis. Peran ini bertugas untuk memastikan bahwa sistem AI yang digunakan tidak bias, transparan, dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Dengan demikian, riset Box memberikan gambaran yang lebih optimistis tentang masa depan pekerjaan di tengah revolusi AI. Kuncinya bukanlah pada apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan pada bagaimana manusia dapat beradaptasi dan mengembangkan keterampilan baru untuk bekerja berdampingan dengan AI. Bagi para profesional, ini adalah kesempatan untuk terus belajar dan meng-upgrade skill. Bagi perusahaan, ini adalah panggilan untuk berinvestasi pada pengembangan talenta dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kolaborasi manusia-AI.

Pada akhirnya, era ‘agentic enterprise’ bukanlah tentang mesin yang mengambil alih, melainkan tentang sinergi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Riset Box menjadi bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, AI bisa menjadi motor pertumbuhan, bukan mesin PHK.

Bagi para profesional IT di Indonesia, temuan ini bisa menjadi acuan untuk merencanakan pengembangan karir. Menguasai keterampilan di bidang AI, keamanan siber, dan tata kelola data akan menjadi investasi yang sangat berharga di masa depan. Perusahaan-perusahaan di Indonesia pun dapat mulai mempersiapkan diri untuk mengisi peran-peran baru ini.

Momentum ini juga bisa menjadi peluang bagi institusi pendidikan untuk merancang kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri di era AI. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri menjadi kunci untuk mencetak tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan dan peluang baru.

Secara keseluruhan, pesan utama dari riset Box ini jelas: AI bukanlah akhir dari pekerjaan manusia, melainkan awal dari era baru di mana manusia dan mesin dapat bekerja sama untuk mencapai lebih banyak hal. Optimisme ini didukung oleh data yang kuat dan analisis yang mendalam.

Dengan hanya 14% responden yang memperkirakan penurunan jumlah karyawan, sementara 65% justru memperkirakan pertumbuhan, masa depan pasar tenaga kerja di era AI tampak lebih cerah dari yang dibayangkan banyak orang. Kini, saatnya bagi para profesional dan perusahaan untuk bersiap menyambut era baru ini dengan penuh optimisme dan persiapan yang matang.

Riset Box ini memberikan perspektif berharga yang dapat mengubah cara pandang kita terhadap AI. Alih-alih takut tergantikan, kita bisa melihat AI sebagai alat yang memberdayakan dan menciptakan peluang baru. Ini adalah narasi yang perlu terus disebarkan agar adopsi AI dapat berjalan lebih lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak.

Sebagai penutup, data dari Box menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang tepat menuju masa depan di mana AI dan manusia dapat hidup berdampingan dan saling melengkapi. Dengan tata kelola yang baik, investasi pada pengembangan keterampilan, dan sikap optimistis, era AI justru akan membawa lebih banyak lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.