📑 Daftar Isi

Ilustrasi fasilitas pengeboran panas bumi Mazama Energy di Oregon untuk menghasilkan listrik bagi data center AI

Mazama Energy Raih USD 135 Juta, Panas Bumi Super Panas Kuasai Data Center AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Mazama Energy raih pendanaan Seri B USD 135 juta (oversubscribed)
  • Dana untuk kembangkan sumur horizontal di batuan super panas, 15 MW per sumur
  • Situs Oregon berpotensi hasilkan 10 gigawatt, revisi dari estimasi 5 gigawatt
  • Target produksi listrik mulai tahun depan, situs pertama selesai 2030 dengan 200 MW
  • Dipimpin Centaurus Capital dan Doerr Capital, diikuti ConocoPhillips dan Shell Ventures

Telset.id – Startup panas bumi Mazama Energy mengumpulkan pendanaan Seri B sebesar USD 135 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun dalam putaran yang oversubscribed. Dana segar ini akan dipakai perusahaan untuk mengembangkan sumur horizontal di batuan super panas yang mampu menghasilkan 15 megawatt listrik per sumur, menjadikannya salah satu pendorong utama pasokan energi bagi data center AI di masa depan.

Langkah Mazama Energy ini menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan energi panas bumi generasi baru atau enhanced geothermal kian serius menantang dominasi gas alam dalam perlombaan menyuplai listrik bagi data center AI dan beban besar lain di jaringan listrik. Perusahaan menyatakan rencananya untuk mulai memproduksi listrik pada suatu waktu di tahun depan.

Mazama mengungkapkan bahwa situs pertamanya di Oregon berpotensi menghasilkan 10 gigawatt listrik. Angka ini merupakan revisi tajam ke atas dari estimasi perusahaan pada tahun sebelumnya. Ketika itu, investor Vinod Khosla menyebut situs tersebut memiliki potensi produksi 5 gigawatt. Revisi ini menunjukkan keyakinan yang meningkat terhadap kapasitas komersial dari teknologi yang dikembangkan Mazama.

Teknologi Sumur Super Panas dan Target 15.000 Kaki

Berbeda dari proyek panas bumi konvensional, startup enhanced geothermal seperti Mazama Energy membidik batuan yang lebih dalam dan lebih panas. Mazama, sebagai contoh, telah mengebor melewati 10.000 kaki dalam 15 hari dalam perjalanan menuju kedalaman sekitar 15.000 kaki.

Pada kedalaman tersebut, perusahaan dapat mengakses panas 750 derajat Fahrenheit atau setara 400 derajat Celsius. Pada tekanan tinggi, panas ini mengubah air menjadi fluida “superkritis” yang tidak sepenuhnya cair maupun sepenuhnya gas. Kondisi ini memungkinkan fluida menyerap energi jauh lebih banyak dibandingkan uap biasa. Mazama menyatakan hal tersebut akan memungkinkan setiap sumur memproduksi hingga 10 kali lebih banyak listrik dibandingkan teknologi panas bumi tradisional.

Mengingat kedalaman yang dibidik Mazama, potensi hasilnya signifikan. Menurut University of Twente dan Clean Air Task Force, memanfaatkan hanya 1% dari batuan super panas di seluruh dunia dapat menghasilkan lebih dari 63 terawatt listrik. Angka ini memberi gambaran besarnya peluang yang terbuka bagi pengembangan energi panas bumi super panas.

Dukungan Investor dan Rencana Pengembangan Situs

Putaran pendanaan baru ini dipimpin oleh Centaurus Capital dan Doerr Capital, dengan partisipasi dari ConocoPhillips dan Shell Ventures. Investor yang sudah ada sebelumnya, termasuk Khosla Ventures dan Gates Frontier, kembali berpartisipasi. Selain itu, investor baru seperti SiteGround Capital, H. Barton Asset Management, serta Jeffrey and Marieke Rothschild Foundation juga bergabung dalam putaran ini. Mazama sendiri diinkubasi di Khosla Ventures.

Meskipun pekerjaan di situs Oregon masih dalam tahap awal, startup ini telah mengamankan lahan untuk pengembangan kedua. Mazama menargetkan penyelesaian pengembangan situs pertama pada tahun 2030. Pada titik itu, perusahaan menyatakan situs tersebut seharusnya dapat menghasilkan 200 megawatt listrik.

Perkembangan Mazama Energy mencerminkan tren yang lebih luas di sektor energi, di mana startup enhanced geothermal mulai diperhitungkan sebagai kuda hitam dalam persaingan menyediakan listrik bagi infrastruktur AI. Selama ini, perusahaan teknologi dan pengembang data center lebih banyak memberikan dukungan mereka pada gas alam. Namun, startup panas bumi bergerak cepat memajukan teknologi mereka.

Pendekatan yang ditempuh Mazama dan perusahaan sejenis menunjukkan bahwa akses ke batuan yang lebih dalam dan lebih panas menjadi kunci. Dengan kemampuan mengebor hingga 15.000 kaki dan mengakses panas 400 derajat Celsius, potensi listrik yang dihasilkan per sumur menjadi jauh lebih besar dibandingkan metode konvensional. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pusat data AI yang menuntut pasokan listrik besar dan stabil.

Keberhasilan pendanaan Seri B ini juga menegaskan bahwa investor besar, termasuk perusahaan energi tradisional seperti ConocoPhillips dan Shell Ventures, melihat masa depan pada teknologi panas bumi super panas. Partisipasi mereka menunjukkan adanya pengakuan terhadap potensi komersial yang ditawarkan, meskipun pengembangan masih berada pada tahap awal. Bagi industri, langkah Mazama Energy bisa menjadi tolok ukur seberapa cepat energi panas bumi generasi baru dapat masuk ke jaringan listrik secara signifikan.

Dengan target produksi listrik mulai tahun depan dan penyelesaian situs pertama pada 2030, Mazama Energy menempatkan diri sebagai salah satu pemain yang patut diperhitungkan dalam lanskap penyediaan energi untuk beban besar. Revisi estimasi kapasitas situs Oregon dari 5 gigawatt menjadi 10 gigawatt menjadi indikasi konkret bahwa potensi yang ada mungkin lebih besar dari perkiraan awal.

Bagi pengamat industri energi dan teknologi, perkembangan ini menjadi penanda bahwa perlombaan menyuplai listrik bagi data center AI tidak lagi hanya mengandalkan gas alam. Teknologi enhanced geothermal yang menyasar batuan super panas menawarkan jalur alternatif dengan potensi hasil listrik yang jauh lebih besar per sumur. Ke depan, bagaimana Mazama Energy merealisasikan target produksi dan penyelesaian situsnya akan menjadi indikator penting bagi arah sektor energi panas bumi secara keseluruhan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.