Telset.id – Harga termurah Nvidia GeForce RTX 5090 di pasar Amerika Serikat kini menembus $6.000, jauh melampaui harga peluncurannya di $1.999. Lonjakan ini terjadi karena permintaan dari operator pusat data dan laboratorium AI yang memburu kartu grafis kelas konsumen tersebut untuk kebutuhan komputasi, meski Nvidia secara tertulis melarang penggunaan data center sejak 2017.
Data tersebut merujuk pada pelacak harga Tom’s Hardware yang diperbarui 14 September 2026, yang mencatat kartu termurah yang tersedia di AS berada di angka $6.389 atau hampir 3,2 kali lipat harga peluncuran Januari 2025. Kondisi ini menempatkan RTX 5090 sebagai salah satu kartu grafis dengan kenaikan harga paling ekstrem di segmen consumer-grade.
Laporan PCGamesN pada pekan yang sama menyebut stok first-party di Amazon, Newegg, dan Best Buy praktis hilang. Yang tersisa hanya listing marketplace pihak ketiga dengan harga di atas $6.000 dan di beberapa tempat menembus $9.000. Angka ini menegaskan bahwa kelangkaan RTX 5090 bukan lagi gejala pasar lokal, melainkan persoalan pasokan global.
Pallets RTX 5090 di Situs Perakitan Server AI
Fotografi yang beredar melalui media Hong Kong HKEPC, lalu diteruskan sejumlah publikasi termasuk Guru3D, VideoCardz, dan TechPowerUp, tampak memperlihatkan palet kayu berisi kotak-kotak kartu GeForce RTX 5090 retail di lokasi perakitan server AI. Kartu-kartu tersebut menunggu dibuka dan dipasang ke rig multi-GPU.

Yang penting dicatat, gambar yang beredar bukan memperlihatkan RTX PRO workstation, melainkan kartu dari MSI, Gigabyte, dan ASUS yang biasanya dibeli konsumen gaming atau pengguna rumahan. Inilah yang membuat situasi kali ini terasa berbeda dibanding krisis pasokan sebelumnya.
Namun, keaslian gambar tersebut turut dipersoalkan. Kevin Hofer dari peritel Swiss Digitec, salah satu dari sedikit penulis yang memeriksa gambar alih-alih sekadar menerbitkan ulang, mempertanyakan tulisan pada kotak di salah satu bingkai. Ia menyoroti apa maksud dari “50B0” atau “50R0”, dan menyimpulkan bahwa AI kemungkinan terlibat dalam pembuatan gambar itu. Twitter juga telah menambahkan label “made with AI” pada gambar terkait. TechPowerUp dan TweakTown menyampaikan peringatan serupa dalam bentuk yang lebih lunak, sementara Guru3D mencatat bahwa laporan tersebut tidak menjelaskan alasan perusahaan-perusahaan itu memilih RTX 5090 maupun skala pembeliannya.
Meski disertai disclaimer, pemberitaan semacam ini berpotensi memicu fear of missing out (FOMO), di mana kenaikan harga menjadi ramalan yang memenuhi dirinya sendiri karena pelaku usaha dan konsumen sama-sama mempercepat pembelian demi menghindari premi yang lebih tinggi. Fenomena tekanan pasokan komponen AI juga terlihat di sektor lain, seperti yang dibahas dalam artikel peran DRAM di server AI yang mulai bergeser.
Kenapa RTX 5090 Jadi Rebutan Industri AI
Nvidia RTX 5090 merupakan kartu consumer-grade paling kuat saat ini, mengusung chip GB202 berbasis Blackwell dan memori GDDR7 32GB. Kombinasi ini memenuhi sejumlah kebutuhan untuk penggunaan AI lokal maupun gamer yang ingin memaksimalkan permainan di 4K atau lebih tinggi.

Sejak akhir 2017, EULA driver GeForce Nvidia memuat klausul berjudul “No Datacenter Deployment” yang seharusnya, setidaknya di atas kertas, mencegah pusat data menimbun atau memakai kartu tersebut. Nvidia, yang saat ini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia, sebelumnya pernah menerapkan pembatasan teknologi seperti LHR (Lite Hash Rate) pada RTX 3000 series untuk mencegah penambang GPU memborong pasokan selama demam Ethereum.
Nvidia juga merilis RTX 5090 D khusus China yang menurunkan performa AI namun menyamai RTX 5090 dalam throughput gaming. Kartu ini dibuat untuk memenuhi pembatasan ekspor AI, dan menunjukkan bahwa Nvidia mampu membatasi performa AI RTX 5090, tetapi tetap terbilang tidak acuh terhadap pasar yang beberapa tahun lalu menjadi sumber pendapatan intinya.
Kenaikan harga RTX 5090, setidaknya sebagian, mungkin disebabkan oleh harga RTX PRO 6000 yang nyaris dua kali lipat menjadi $16.000. Biaya dasar yang mendorong kenaikan itu adalah VRAM 96GB pada kartu tersebut, yang juga menyumbang porsi besar dalam total bill of materials-nya. RTX 5090 hadir dengan sepertiga VRAM tersebut, tetapi performa komputasinya hampir setara. Karena algoritma berpusat AI kerap membantu memecah tugas antar GPU dan memory pool, tiga tumpuk RTX 5090 disebut seharusnya mampu mengungguli RTX PRO 6000 pada tugas tertentu.
Sementara itu, OEM China dilaporkan berhasil memasang VRAM hingga 96GB pada RTX 5090, yang bisa membuatnya makin diburu di negara tempat RTX PRO 6000 dan RTX 5090 sama-sama dibatasi ekspornya namun tetap masuk secara rutin. Situasi ini menjadikan RTX 5090 sebagai persoalan manufaktur dengan bottleneck memori bagi konsumen AI. Dengan alternatif yang harganya baru saja berlipat, konsumen AI mencari penghematan di mana pun, dan RTX 5090 standar maupun versi modifikasi menjadi kandidat terbaik di pasar yang sudah menghabiskan sebagian besar pasokan generasi sebelumnya.
Dinamika pasokan dan permintaan di sektor GPU ini juga tercermin pada kasus lain, seperti yang diulas dalam artikel mengenai kunci StarCraft FPS yang menunjukkan bagaimana ekspektasi pasar terhadap produk teknologi bisa terbentuk jauh sebelum peluncuran resmi.
Kenaikan harga RTX 5090 menjadi cerminan langsung dari pergeseran prioritas pasar GPU, di mana kebutuhan komputasi AI kini ikut menentukan harga kartu yang dirancang untuk konsumen. Bagi pengguna di Indonesia, angka $6.389 atau sekitar Rp100 juta (asumsi kurs Rp15.700) menjadi patokan baru yang sulit diabaikan ketika mempertimbangkan pembelian kartu grafis kelas atas.





Komentar
Belum ada komentar.