Lempeng Tektonik Hilang 60 Juta Tahun Ditemukan di Samudera Pasifik

Lempeng Tektonik Samudera Pasifik

Telset.id, Jakarta  – Lempeng tektonik yang ditemukan di bawah Samudera Pasifik, setelah hilang selama 60 juta tahun, kini direkonstruksi oleh para ilmuwan di University of Houston.

Dikenal sebagai Resurrection, dikutip Telset dari New York Post, Senin (26/10/2020), lempeng tersebut telah menjadi topik kontroversial di kalangan ahli geologi karena banyak yang percaya tidak pernah ada.

{Baca juga: Paling Mengerikan! 7 Laut Terdalam di Dunia, Gelap dan Misterius}

“Gunung berapi terbentuk di batas lempeng. Semakin banyak lempeng yang Anda miliki, semakin banyak gunung berapi yang Anda miliki,” kata penulis studi Jonny Wu, asisten profesor geologi di Ilmu Bumi.

“Gunung berapi juga memengaruhi perubahan iklim. Saat mencoba membuat model Bumi dan memahami perubahan iklim, Anda benar-benar ingin tahu jumlah gunung berapi yang pernah ada,” tambahnya.

Para peneliti menggunakan model komputer dari kerak bumi untuk merekonstruksi lempengan-lempengan dari awal era Kenozoikum, yang dimulai 66 juta tahun lalu, tak lama sebelum kepunahan dinosaurus.

Saat itu, ada dua lempeng tektonik di Samudera Pasifik, yakni Kula dan Farallon. Lempeng-lempeng tersebut telah lama meluncur di bawah kerak bumi. Proses seperti itu, secara teori, disebut subduksi.

{Baca juga: Ilmuwan Eksplorasi “Lubang Biru” Misterius di Dasar Samudera}

Pada 2013, sekelompok peneliti menemukan bukti Farallon ada di California tengah dan Meksiko. Pada 2019, lempeng tektonik “terkelupas” di dasar laut lepas pantai Portugal “menyusut” di Samudra Atlantik.

Sebelumnya juga dikabarkan bahwa dekade terakhir telah memperlihatkan Samudera Atlantik mengalami suhu terpanas dalam hampir 3.000 tahun terakhir. Lonjakan suhu itu melampaui apa yang diharapkan, dan menjadi berita buruk bagi banyak kehidupan laut.

Lautan yang lebih panas mengakibatkan cuaca menjadi sangat mengkhawatirkan, termasuk kehadiran badai yang semakin parah.

Samudera Atlantik mengalir antara Inggris dan Amerika Serikat, terus sampai ke Afrika. Samudera Atlantik adalah samudera terbesar kedua di dunia. Para ilmuwan pun penasaran melakukan riset di sana.

{Baca juga: Spesifikasi dan Harga HP Terbaru 2020}

Menurut laporan New York Post, para ilmuwan mampu melacak perubahan suhu Samudera Atlantik terpanas kembali ke sekitar 2.900 tahun lalu setelah melakukan studi.

Para ilmuwan melakukannya dengan cara melihat es, data termometer, dan inti sedimen di Arktik Kanada. Inti-inti tersebut diketahui berasal dari zaman ribuan tahun lalu dan terlihat berubah sesuai suhu. [SN/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here