Samudera Atlantik Alami Dekade Terpanas Dalam 3.000 Tahun

Samudera Atlantik Terpanas

Telset.id, Jakarta  – Dekade terakhir telah memperlihatkan Samudera Atlantik mengalami suhu terpanas dalam hampir 3.000 tahun terakhir. Lonjakan suhu itu melampaui apa yang diharapkan, dan menjadi berita buruk bagi banyak kehidupan laut.

Lautan yang lebih panas mengakibatkan cuaca menjadi sangat mengkhawatirkan, termasuk kehadiran badai yang semakin parah.

{Baca juga: Paling Mengerikan! 7 Laut Terdalam di Dunia, Gelap dan Misterius}

Samudera Atlantik mengalir antara Inggris dan Amerika Serikat, terus sampai ke Afrika. Samudera Atlantik adalah samudera terbesar kedua di dunia. Para ilmuwan pun penasaran melakukan riset di sana.

Menurut laporan New York Post, seperti dikutip Telset.id, Rabu (14/10/2020), para ilmuwan mampu melacak perubahan suhu Samudera Atlantik terpanas kembali ke sekitar 2.900 tahun lalu setelah melakukan studi.

Para ilmuwan melakukannya dengan cara melihat es, data termometer, dan inti sedimen di Arktik Kanada. Inti-inti tersebut diketahui berasal dari zaman ribuan tahun lalu dan terlihat berubah sesuai suhu.

Sedimen itu mampu menunjukkan pola reguler perubahan suhu laut serta peningkatan suhu yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penyebab pemanasan laut tidak ditampilkan.

Kendati begitu, perubahan iklim dianggap bertanggung jawab atas pemanasan suhu di seluruh dunia. Suhu yang memanas dapat mengakibatkan badai serta kepunahan massal bagi banyak spesies.

Penelitian menunjukkan bahwa masalahnya hanya akan bertambah buruk. Para peneliti berasal dari Universitas Massachusetts Amherst dan Universitas Quebec. Studi dipublikasikan di jurnal ilmiah nasional.

{Baca juga: Lapisan Es di Antartika Mencair, Bumi Terancam Tenggelam}

Sebelumnya, para ilmuwan juga mengungkapkan bahwa lapisan es Greenland dan Antartika mencair sesuai skenario kenaikan permukaan laut. Lapisan es ini mengandung cukup banyak air beku untuk membuat permukaan laut naik setinggi 65 meter.

Menurut laporan New York Post, apabila prediksi para ilmuwan akurat, rumah-rumah dan pemukiman di seluruh dunia akan berada di bawah air. Tentu kejadian tersebut tidak pernah diharapkan oleh kita semua, bukan?

Laporan Nature Climate Change menyebut, hilangnya es antara 2007 hingga 2017 sesuai perkiraan kasus terburuk dari Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC). Di tingkat itu, hampir 16 inci bisa ditambahkan ke permukaan laut pada 2100. [SN/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here