Ilustrasi ancaman keamanan siber global dengan ikon kunci, data, dan jaringan.

Klaim Data MSG Bocor, Apple Ubah Privasi, dan Ancaman AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Kelompok peretas ShinyHunters mengklaim membocorkan 45GB data Madison Square Garden, termasuk informasi pemain Knicks.
  • Tiga bar di San Francisco menggunakan pemindai wajah dari Patronscan untuk mengumpulkan data pelanggan dan membuat jaringan pengawasan.
  • Badan intelijen Prancis (DGSI) akan mengganti teknologi Palantir dengan perangkat lunak buatan Prancis, ChapsVision.
  • Apple akan mengubah domain 'Hide My Email' menjadi @private.icloud.com, yang berpotensi memudahkan deteksi oleh situs web.
  • Pakar keamanan memperingatkan bahwa model AI dengan kemampuan mengeksploitasi kerentanan akan segera menjadi ancaman global.

Telset.id – Ancaman keamanan siber global semakin kompleks. Dalam sepekan terakhir, dunia dihadapkan pada bocornya data raksasa hiburan Madison Square Garden, perubahan kebijakan privasi Apple, hingga kekhawatiran baru tentang kemampuan AI dalam menciptakan alat peretasan yang berbahaya.

Kelompok peretas dan pemeras ShinyHunters kembali menjadi sorotan. Setelah mengklaim telah membobol Instructure, Kodak, dan organisasi HAM Eropa, kini mereka menerbitkan data yang diduga dicuri dari Madison Square Garden (MSG). Menurut laporan 404 Media, data tersebut mencakup jutaan catatan dalam file sebesar 45GB, termasuk informasi pribadi pelanggan dan referensi pemain serta pelatih Knicks. Data itu dirilis tak lama setelah Knicks memenangkan kejuaraan NBA pertama mereka sejak 1973.

Sampel data yang ditinjau 404 Media menunjukkan adanya satu file yang berisi nama-nama “talent”, termasuk anggota tim Knicks. WIRED sebelumnya telah melaporkan penggunaan teknologi pengawasan ekstensif oleh MSG, termasuk sistem pengenalan wajah. Email yang diduga ada dalam data curian tersebut mencatat keluhan seorang pria tentang teknologi pengenalan wajah. MSG tidak menanggapi permintaan komentar, dan setelah berita ini mencuat, gugatan class action federal diajukan terkait dugaan kebocoran data ini.

Pengenalan Wajah di Bar San Francisco

Di sisi lain, penggunaan teknologi pengenalan wajah juga merambah ke tempat hiburan. Setidaknya tiga bar di distrik Castro, San Francisco, kawasan LGBTQ terkenal, menggunakan pemindai wajah di pintu masuk untuk mengumpulkan data detail pelanggan. Teknologi dari Patronscan, perusahaan verifikasi ID, digunakan untuk mengumpulkan gambar wajah, nama, dan jenis kelamin.

Jika staf bar melihat pelanggan berkelahi, terlibat pencurian, atau perilaku negatif lainnya, mereka dapat mencatatnya dalam sistem. Pengenalan wajah kemudian dapat mengidentifikasi orang tersebut saat mereka kembali ke bar. Data yang terekam dapat dibagikan sebagai bagian dari “jaringan keamanan” antar perusahaan lain yang menggunakan teknologi serupa, menciptakan jaringan pengawasan yang luas.

Prancis Tinggalkan Palantir Demi Keamanan Data

Kekhawatiran terhadap keamanan data juga mendorong pergeseran geopolitik di Eropa. Selama berbulan-bulan, pemerintah dan perusahaan di Eropa telah meninggalkan teknologi AS karena risiko pengawasan. Pekan ini, badan intelijen dalam negeri Prancis, Direction générale de la Sécurité intérieure (DGSI), mengumumkan akan berhenti menggunakan alat data dan AI buatan Palantir dalam beberapa tahun ke depan. Mereka akan menggantinya dengan perangkat lunak dari perusahaan Prancis, ChapsVision.

“Kami harus menggunakan model AI kami sendiri,” ujar Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu. “Kami tidak bisa bergantung pada alat yang dikembangkan oleh kekuatan asing. Prancis harus memiliki alatnya sendiri.” Langkah ini bukan yang pertama; bulan lalu, badan intelijen Jerman BfV juga mengumumkan akan menggunakan teknologi ChapsVision sebagai pengganti Palantir.

Apple Ubah Domain ‘Hide My Email’

Dari sisi pengguna individu, Apple berencana mengubah fitur privasi ‘Hide My Email’. Fitur ini memungkinkan pengguna membuat alamat email acak untuk mendaftar ke situs web dan aplikasi baru tanpa menyerahkan informasi pribadi. Saat ini, semua alamat tersebut menggunakan domain @icloud.com.

Ke depannya, seperti dilaporkan TechCrunch, Apple berencana menggunakan domain @private.icloud.com. Perubahan yang tidak terlalu halus ini justru dapat memudahkan perusahaan mendeteksi pengguna yang menggunakan layanan privasi tersebut dan meminta mereka mendaftar dengan alamat email alternatif.

Ancaman AI dan Keamanan Global

Di tengah hiruk-pikuk kebocoran data dan perubahan kebijakan privasi, kekhawatiran yang lebih besar muncul dari dunia kecerdasan buatan. Anthropic masih bernegosiasi dengan pemerintahan Trump setelah kekhawatiran Gedung Putih tentang keamanan model publik baru Claude Fable 5 menyebabkan Anthropic menarik produk tersebut dari pasar.

Para pakar keamanan menunjukkan bahwa model AI dengan kemampuan canggih untuk menemukan dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak—dengan kata lain, menciptakan alat peretasan berbahaya—akan segera menjadi umum di seluruh dunia. Ancaman ini diperparah oleh fakta bahwa Bug Bounty Zoom baru saja dibuka, yang menunjukkan betapa seriusnya industri mencari celah keamanan. Di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa 12TB Foto Pribadi Bocor dari aplikasi populer, menegaskan bahwa data pribadi semakin rentan.

Pengawasan Wajah untuk Pencari Suaka di Inggris

Inggris juga akan segera memindai wajah para pencari suaka sebagai bagian dari pemeriksaan usia. Hal ini dilakukan meskipun ada bukti bahwa alat evaluasi dan verifikasi usia tersebut memiliki kekurangan yang mendalam dan dapat membuat kesalahan dengan konsekuensi yang mengubah hidup.

Kabar Baik: Kamera Lalu Lintas untuk Parade Knicks

Di sisi yang lebih positif, penggunaan teknologi pengawasan juga bisa menghibur. Para penggemar Knicks di seluruh dunia berkesempatan menonton parade kemenangan di New York City melalui kamera pengawas lalu lintas, berkat siaran langsung dari seniman Morry Kolman.

Komentar

Belum ada komentar.