JAKARTA – Menyandang stutus sebagai perusahaan paling bernilai di dunia, Apple menjadi perusahaan yang paling diidamkan banyak orang. Gaji tinggi, fasilitas terjamin, dan juga kantor yang mewah, membuat Apple dibayangkan sebagai perusahaan ideal bagi para pekerja IT. Namun benarkah Apple menjanjikan semua kenyamanan itu?
Sangat wajar jika banyak orang yang berpandangan bahwa bekerja di Apple itu enak. Namun jika Anda sudah membaca pengakuan dari mantan karyawan Apple ini, dipastikan Anda akan mulai berpikir ulang untuk mendambakan bekerja di Apple.
Adalah Ben Farrell, seorang mantan karyawan Apple yang membeberkan bagaimana suasana kerja di perusahaan raksasa teknologi yang bermarkas di Cupertino, AS itu. Farrell pernah bekerja sebagai Quality Program Manager untuk program dukungan teknis AppleCare di kantor Apple Sydney, Australia.
Ia menuliskan pengalamannya saat bekerja di Apple dalam blog pribadinya. Farrell mengungkapkan bahwa karyawan Apple harus bisa bekerja 16 jam dalam sehari, dan sepanjang waktu tersebut banyak diisi dengan satu meeting ke meeting berikutnya.
“Enam belas jam sehari selalu diisi dengan meeting secara terus menerus. Aktifitas seperti ini mungkin juga biasa ada di perusahaan lain. Tapi rapat di Apple itu seperti agenda untuk saling menjatuhkan (karir) sesorang,” tulis Farrel dalam blog-nya.
Farrell mengatakan bahwa budaya di Apple itu memang memiliki tuntutan yang tinggi. Tapi dibalik itu, orang-orang di Apple sebenarnya culas, karena para karyawan akan mencoba saling menjatuhkan agar mereka bisa terlihat sukses sendirian.
Alhasil, jangan harap ada semangat untuk bekerjasama dalam satu tim di Apple, karena menurut Farrell, setiap orang akan saling menyerang dan memiliki agenda sendiri untuk memuaskan dirinya sendiri.
Farrel juga membuka borok sistem kerja di Apple yang sangat tidak menghargai kondisi karyawannya. Dia mengungkapkan bahwa sistem kerja di Apple sangat tidak sehat, karena telah membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga.
Apple tidak mau tahu alasan-alasan yang diberikan karyawannya saat ingin meminta izin ke perusahaan, karena ada keperluan keluarga yang sangat penting.
“Saya menolak perjalanan dinas karena waktu itu harus mendampingi istri saya yang sedang hamil, yang terjatuh dari tangga, dan harus dirawat di rumah sakit,” keluh Farrell di blog pribadinya, yang dikutip telsetNews dari BGR, Sabtu (11/4/2015).
Penderitaan Farrell tidak berhanti sampai disitu saja. Karena akibat menolak perjalanan dinas tersebut, dia harus mendapat penilaian kinerja minus, dan masalah itu dibawa hingga ke tingkat manajemen. Padahal Farrel sudah menjelaskan bahwa saat itu ia sedang mengurus keluarganya yang sedang dalam keadaan darurat.
Farrell juga mengaku sering mendapat kiriman pesan yang bernada menyerang melalui perangkat ponselnya. Dan itu terjadi tidak mengnal waktu, baik saat dia sedang berada di kantor ataupun sudah di rumah.
“Kamu lagi online gak? Status kamu sedang away, kamu baca pesan aku gak?” demikian beberapa contoh pesan dengan nada menyerang yang sering diterima Farrell.
Selain itu, dia juga sering menerima voicemail yang kasar saat ia terlambat satu menit saja dalam pertemuan rapat. Farrell juga sering mendapat pelecehan yang membawa-bawa suku, terkait dengan etika kerja orang Australia.
Ia mencontohkan bagaimana seorang staf manajemen yang berasal dari Singapura melontarkan omongan yang tidak mengenakkan, denagn mengatakan bahawa orang Australia itu tidak bersahabat dan hanya mau bekerja dengan sesama orang Australia saja.
Farrell kini telah memutuskan untuk keluar dari Apple. Tidak ada penyesalan saat ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu. Farrell bahkan mengaku bahagia setelah bisa keluar dari perusahaan yang paling diidamkan banyak orang itu.
Nah, setelah membaca curhatan Farrell tadi, apakah Anda masih berminat bekerja di Apple? [HBS]



