Telset.id – Seorang karyawan Target bernama Toru Hinkle menjadi korban prank perekaman menggunakan Ray-Ban Meta glasses saat sedang bekerja. Insiden ini memicu kekhawatiran baru tentang penggunaan kacamata pintar di tempat kerja dan dampaknya terhadap privasi pekerja layanan publik.
Hinkle, yang sedang merapikan barang di rak saat bertugas, didekati dua pelanggan yang meminta cek harga sebuah barang. Meski Hinkle sudah memberi tahu bahwa barang tersebut seharga USD 20, kedua pelanggan itu terus mengulangi pertanyaan yang sama berulang kali. Hinkle kemudian menyadari bahwa dirinya sedang menjadi sasaran prank ketika melihat kacamata dengan lampu berkedip yang dikenakan salah satu pelanggan.
Kedua pelanggan tersebut ternyata sedang merekam interaksi itu menggunakan Meta glasses. Video perekaman diam-diam ini kemudian diunggah ke media sosial dan menjadi konten hiburan. Salah satu klip yang menampilkan insiden dengan Hinkle telah ditonton hampir 400.000 kali di Instagram dan 155.000 kali di TikTok.
Dampak Kacamata Pintar bagi Pekerja Layanan Publik
Insiden di Target ini menjadi contoh nyata bagaimana kacamata pintar menciptakan ketidakseimbangan kekuatan antara pelanggan dan karyawan. Pekerja retail dan layanan jasa menjadi target utama perekaman diam-diam menggunakan perangkat ini. Banyak pekerja merasa tidak punya pilihan untuk melawan karena bergantung pada pekerjaan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Emily, seorang kasir di destinasi wisata populer Seattle, mengaku menghadapi hingga 10 orang pengguna kacamata pintar setiap jam pada hari-hari tertentu. Ia khawatir pengguna kacamata tersebut merekam ke arah yang tidak pantas, terutama ketika pria yang lebih tinggi berdiri di dekatnya. Berbeda dengan ponsel yang jelas terlihat saat merekam, kacamata pintar membuat sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya direkam.
Jennifer, mantan karyawan Sprouts di area Atlanta, bahkan memilih mengundurkan diri setelah atasannya menggunakan Meta glasses di tempat kerja. Ia telah mengajukan keluhan ke HR dan meminta perusahaan membuat kebijakan formal tentang kacamata pintar, namun perusahaan dianggap tidak responsif. Jennifer justru diberi ultimatum: menerima kondisi kerja atau berhenti.
Baca Juga:
- Kacamata Meta Dipakai Pelajar untuk Bully Teman Sekolah
- ICE Larang Karyawan Pakai Meta Smart Glasses di Tempat Kerja
Respons Meta dan Upaya Perlindungan Privasi
Meta membantah bahwa kacamata pintarnya dirancang untuk melanggar privasi. Juru bicara Meta, Dina El-Kassaby, menyatakan bahwa privasi telah dibangun sejak awal dalam produk AI glasses mereka. Perusahaan menunjuk pada lampu indikator LED yang berkedip saat pengguna mengambil foto atau video, serta fitur anti-rusak yang mulai diluncurkan.
Meta juga mengklaim telah memblokir hashtag yang terkait dengan konten pelecehan di platformnya, termasuk “rizz”, “pickup artist”, dan “cold approach”. Perusahaan mengatakan telah menghapus ribuan konten berdasarkan kebijakan bullying dan pelecehan mereka. Namun, video yang menampilkan Hinkle baru dihapus setelah The Verge menghubungi perusahaan tentang hal tersebut.
Para ahli hukum menilai perlindungan privasi di tempat kerja hampir sepenuhnya diatur oleh kebijakan perusahaan. Woodrow Hartzog, profesor hukum di Boston University, merekomendasikan kebijakan yang kuat dan jelas yang melarang penggunaan kacamata pintar demi kepentingan karyawan dan pelanggan. Beberapa institusi telah mengambil langkah serupa, termasuk Immigration and Customs Enforcement yang melarang karyawannya memakai Meta glasses.
Komika Electra Telesford juga mengalami situasi serupa saat tampil di atas panggung. Seorang penonton dengan tegas menolak berhenti merekam penampilannya meski sudah diminta. Telesford akhirnya mengakhiri setnya lebih awal karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa selain menjauh dari kamera.
Meta dikabarkan sedang mengembangkan kacamata pintar yang dapat merekam terus-menerus dengan mode “super sensing” yang membuat lampu LED tidak menyala kecuali saat pengguna aktif mengambil foto atau video. Hal ini berpotensi meningkatkan jumlah interaksi rutin yang direkam, disimpan, dan diproses secara signifikan.
Sementara itu, perusahaan seperti LG Display terus mengembangkan teknologi layar, dan tren Meta-Prompting ChatGPT menunjukkan perkembangan AI yang pesat. Namun, insiden perekaman diam-diam ini menunjukkan bahwa teknologi canggih juga membawa risiko baru bagi pekerja.
Hartzog menegaskan bahwa kacamata pintar menjadi cara lain bagi karyawan yang sudah memiliki kekuatan lebih kecil dalam peran mereka untuk semakin termarginalisasi. Ketika orang merasa diawasi, mereka cenderung mengubah perilaku dan merasa tertekan untuk menyesuaikan diri dengan norma yang ada.





Komentar
Belum ada komentar.